1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman Berlakukan Pelonggaran, Sekalipun Tetap Ada Risiko

Thurau Jens Kommentarbild App
Jens Thurau
18 Februari 2022

Kanselir dan para perdana menteri negara bagian Jerman bermaksud memberlakukan pelonggaran luas mulai 20 Maret 2022. Berarti tema wajib vaksin kembali akan mengemuka. Opini editor DW Jens Thurau.

https://www.dw.com/id/jerman-berlakukan-pelonggaran-sekalipun-tetap-ada-risiko/a-60815439
Aturan pembatasan 2G+ di Jerman
Aturan pembatasan 2G+ di JermanFoto: Peter Kneffel/picture alliance/dpa

Bisa saja muncul kesan bahwa corona di Jerman sebentar lagi akan berlalu. Angka infeksi memang masih tinggi, tapi sejak beberapa hari terus turun. Puncak penularan tampaknya sudah dilewati. Tema pandemi sekarang mundur ke belakang. Bagi banyak orang, virus itu telah kehilangan kengeriannya. Sedikitnya untuk saat ini. Varian Omicron memang menjangkiti banyak orang, tapi kebanyakan hanya dengan gejala ringan.

Editor DW Jens Thurau
Editor DW Jens Thurau

Itu sebabnya para pemimpin politik Jerman memutuskan untuk melakukan pelonggaran. Bahkan beberapa negara bagian sudah melakukannya lebih dulu. Secara bertahap, berbagai langkah pembatasan akan dicabut. Memang sudah seharusnya demikian, karena kebebasan menempati posisi sentral dalam demokrasi. Kebebasan hanya dibatasi, jika hal itu memang benar-benar tidak dapat dihindari. Sedangkan saat ini, negara-negara tetangga juga sudah memberlakukan pelonggaran luas. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tetap menerapkan pembatasan drastis ini.

Namun, tetap ada risiko. Karena kuota vaksinasi di Jerman masih terlalu rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Sampai pertengahan minggu ini, baru 75 persen penduduk Jerman yang mendapat vaksinasi penuh, 25 persen belum. Segala upaya untuk meningkatkan tingkat vaksinasi hingga saat ini tidak membuahkan hasil. Pemerintah telah mengeluarkan jutaan euro untuk mempromosikan vaksinasi, tetapi masih banyak orang yang ragu dan skeptis

Bagaimana dengan wajib vaksin?

Karena itu, inisiatif Kanselir Olaf Scholz sudah benar, ketika dia mengatakan akan menyesuaikan UU tentang vaksinasi agar bisa lebih baik diterapkan seandainya situasi memburuk lagi. Tidak semua aturan kesehatan juga bisa dicabut. Penggunaan masker dan penerapan aturan hygienis masih tetap diperlukan.

Yang mengesalkan adalah, bahwa di kalangan pemerintahan koalisi sendiri kelihatannya belum ada kesepakatan. Karena partai FDP masih mendambakan semacam "Freedom Day" pada 20 Maret 2022 dan ingin agar semua pembatasan yang berkaitan dengan pandemi dihapus. Namun, sekarang ada tekanan kuat, agar para mitra koalisi segera mencapai kesepakatan dalam hal ini.

Karena masih ada satu tema dan agenda besar lagi: wajib vaksin. Apakah itu masih dibutuhkan? Perdebatan masih berlangsung. Yang sebenarnya sudah diputuskan adalah, bahwa mulai 15 Maret mendatang semua pekerja di bidang kesehatan dan perawatan wajib divaksin. Tapi sekarang ada masalah baru, karena negara bagian Bayern tiba-tiba saja menyatakan tidak akan memberlakukan aturan itu.

Peringatan tentang kelangkaan vaksin

Masih belum jelas, apakah pemerintah akan bisa memberlakukan wajib vaksin sampai awal musim semi ini. Karena sekarang ada beragam usulan dan rancangan undang-undang. Ada yang ingin wajib vaksin diberlakukan secara umum bagi semua yang berusia di atas 18 tahun, ada yang yakin bahwa vaksinasi hanya perlu untuk warga di atas usia 50 tahun. Dari kubu opoisisi ada juga usul agar wajib vaksin dilakukan secara berjenjang, tergantung pada situasi aktual pandemi.

Apapun model yang dipilih, satu hal jelas: makin lama perdebatan tentang wajib vaksin berlanjut, makin sedikit orang yang akan mendaftar secara sukarela untuk divaksin, apalagi kalau sudah ada pelonggaran luas.

Warga kelihatannya sudah lelah dengan pandemi ini. Karena itu, mereka akan menyambut pelonggaran dengan gembira. Stadion sepak bola akan penuh lagi, orang bisa berbelanja dengan santai lagi, tanpa aturan dan tanpa pembatasan berapa orang yang boleh berkumpul.

Para politisi berharap, varian baru yang mungkin akan muncul nanti bakal lebih lemah lagi daripada Omicron. Maksudnya, orang yang tertular tidak menderita gejala parah. Tentu saja tetap ada risiko, bahwa varian yang masuk Jerman musim gugur nanti lebih agresif dan lebih berbahaya. Kanselir Jerman dan para perdana menteri tidak boleh mengabaikan kemungkinan itu.

(hp/yf)