Istri Positif COVID-19, Suami: “Yang Penting Bersama, Meski Berisiko Terpapar Corona” | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 27.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Istri Positif COVID-19, Suami: “Yang Penting Bersama, Meski Berisiko Terpapar Corona”

Yesika, dokter di RS swasta di Jakarta, divonis positif COVID-19. Sang suami menolak usulan isolasi terpisah, meski ada risiko terpapar virus corona. Kini, lewat hasil swab keduanya dinyatakan sembuh.

Indonesien Jakarta | Coronavirus | Yesika and Michael

Yesika (27) dan Michael (29) putuskan isolasi bersama sampai dinyatakan negatif corona

Yesika Nadya (27) adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Pada awal maret lalu, ia dinyatakan positif COVID-19 lewat pemeriksaan swab. Meski secara fisik ia sehat dan tidak menunjukkan gejala COVID-19, ia mengakui bahwa pemeriksaan swab perlu dilakukan untuk kepentingan tugas di unit perawatan intensif (ICU) rumah sakit tempatnya bekerja. 

Yesika mengakui bahwa sampel pertama positif COVID-19 miliknya diperiksa di laboratorium rumah sakit yang pada saat itu belum terdaftar sebagai rujukan pemerintah. Oleh karenanya, sampel tersebut dialihkan lagi untuk diperiksa di laboratorium milik Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) untuk konfirmasi secara resmi. Meski saat itu dibutuhkan waktu dua minggu untuk mengetahui hasil swab dari Litbangkes, Yesika memutuskan untuk langsung melakukanisolasi mandiridi rumah. 

“Waktu itu dari periksa pertama karena sudah positif, paling buruknya kan memang kita positif dianggapnya, jadi setelah itu kita langsung isolasi. Pada saat itu ketahuan hasilnya positif, langsung isolasi dirumahkan,” ujarnya saat diwawancara DW melalui sambungan skype, Kamis (23/04). 

Indonesien Jakarta | Coronavirus | Testergebnis

Hasil pemeriksaan tes swab, buktikan Michael negatif corona

Pasien kurang terbuka tidak bisa disalahkan sepenuhnya 

Yesika diduga kuat tertular dari pasien yang tidak terbuka dengan riwayat perjalanannya. Namun meski begitu, Yesika enggan menyalahkan sepenuhnya pasien yang sempat ia rawat tersebut. “Ini kompleks ya, tidak bisa di-judge juga pasiennya,” ujarnya. 

Beberapa alasan ia beberkan mengapa pasien itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan utama dirinya tertular COVID-19. Pertama, ia mengakui bahwarumah sakittempatnya bekerja bukan rumah sakit rujukan pemerintah sehingga bisa dibilang “belum siap menerima pasien di bangsal atau rawat inap kalau ternyata pasien positif COVID-19”. 

Kedua, masih sulit bagi rumah sakit untuk mendiagnosa apakah pasien yang datang benar-benar positif COVID-19 atau tidak. Menurutnya hal tersebut baru bisa disimpulkan berdasarkan pemeriksaan swab, sementara pada saat kejadian, tepatnya di awal Maret, pemeriksaan swab ia akui masih sangat minim. 

Selain itu, ia juga mengakui bahwa rumah sakit pada saat kejadian masih belum terlalu peka terhadap pasien yang sedang sakit, demam atau memiliki keluhan. Sehingga, ketika kondisi pasien menjadi lebih buruk, dan dinyatakan positif COVID-19, barulah diketahui bahwa pasien tersebut memiliki riwayat perjalanan ke Bali dua hari sebelum dirawat, dan memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. 

“Yang penting bersama meski ada risiko tertular virus” 

Kabar mengenai dirinya telah tertular dan dinyatakan positif COVID-19 tak lantas membuat suami Yesika terkejut. Michael Gorbachep (29), suami Yesika sadar betul bahwa istrinya yang bertugas di garda depan penanganan COVID-19 sangat rentan tertular virus corona. “Jadi sudah ekpektasi akan mungkin sekali ada kejadian seperti ini,” ujarnya kepada DW dalam wawancara melalui sambungan skype, Kamis (2/304). 

Indonesien Jakarta | Coronavirus | Ärzte in einer Privatklinik

Yesika bertugas di rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Ia diduga tertular virus corona dari pasien yang menutupi riwayat perjalanannya

Michael mengakui bahwa istrinya sempat mengusulkan isolasi mandiri selama 14 hari di tempat lain agar tidak menularkan virus tersebut kepada keluarga. Namun, usulan tersebut ia tolak karena baginya yang terpenting adalah bisa tetap bersama meski ada risiko tertular virus corona. Meski terdengar romantis, Michael akui bahwa dirinya memiliki alasan yang valid mengapa ia berani memutuskan menjalani isolasi bersama sang istri. 

Michael percaya bahwa 80% pasien COVID-19 adalah pasien tanpa gejala, sehingga ketika melihat istrinya menjalani pemeriksaan swab berada dalam kondisi yang sehat, ditambah kondisi paru-paru yang bagus, ia semakin percaya diri memutuskan agar keduanya menjalani isolasi bersama. 

“Aku juga merasa kayaknya kalau pisah-pisah, sendiri-sendiri terus jauh-jauh, bosan juga ngga sih cuman berdua? Akhirnya kita mikir yaudahlah, kalau dibilang corona virus yaudah bareng aja lah, yang penting 14 hari kita bareng. Akhirnya kita 14 hari itu isolasi di rumah itu bersama bareng,” ungkap Michael. 

Tidak boleh terlalu panik! 

Kini, lewat pemeriksaan swab evaluasi, Michael dan Yesika dinyatakan negatif COVID-19. Keduanya mengakui tidak ada obat-obatan khusus yang mereka konsumsi ketika menjalani isolasi mandiri sampai kemudian dinyatakan sembuh. Yang ditingkatkan hanya asupan nutrisi dan vitamin. 

“Kita cuman menjaga kondisi tubuh lebih sehat seperti harusnya kita lakukan seperti sebelum-sebelumnya,” jelas Michael. 

Di sisi lain, keduanya mengaku banyak dibantu oleh keluarga dan kerabat, terutama dalam hal bahan makanan yang dibutuhkan selama menjalani isolasi. 

Lebih jauh, Yesika berpesan agar masyarakat tidak boleh terlalu takut atau terlalu cemas terhadap COVID-19, “apalagi sampai menimbulkan gejala-gejala yang mengarah ke gangguan psikosomatik.” 

“Serius itu dalam artian kita waspada, kita tetap lakukan precaution, tingkatkan imunitas dan jangan kemana-mana,” ujar Yesika. 

Sementara Michael berpesan agar masyarakat tidak perlu untuk mendatangi rumah sakit ketika hanya mengalami gejala-gejala ringan. Selain agar rumah sakit tidak kewalahan, ia juga percaya bahwa 80% pasien positif COVID-19 adalah pasien tanpa gejala atau asimtomatik, sehingga bisa menjalani isolasi mandiri di dalam rumah. 

“Aku sih pengennya supaya semua orang mengerti kalau mild symptoms itu sebenarnya tidak perlu panik.Tenang aja, rumah sakit itu biar disediakan untuk yang betul-betul membutuhkan,” tambah Michael. (gtp/yf) 

Laporan Pilihan