Bagaimana Penanganan Corona Indonesia di Mata Warga Asing? | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 23.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Bagaimana Penanganan Corona Indonesia di Mata Warga Asing?

Warga asal Jerman menuturkan bahwa kegiatan ekonomi di Bali telah benar-benar lumpuh imbas pandemi COVID-19. Sementara warga Australia mengatakan Indonesia perlu meningkatkan keterbukaan informasi seputar COVID-19.

Ilustrasi pengecekan pasien

Ilustrasi pengecekan pasien

Surga wisata yang kini tak lagi ramai dikunjungi wisatawan sejak terjadi pandemi COVID-19, membuat semua bisnis sektor pariwisata di Bali ‘babak belur’. Seorang warga negara asing (WNA) asal Jerman yang memiliki bisnis untuk keperluan anjing sebagai hewan piaraan, menceritakan kepada DW Indonesia bagaimana kegiatan ekonomi di Bali lumpuh imbas pandemi.

‘’Pada dasarnya karena tidak ada wisatawan di Bali saat ini, maka tidak ada pasarnya. Orang-orang tidak lagi membeli apapun kecuali makanan,’’ ujar WNA yang tidak bersedia disebutkan namanya ini.

Perempuan berusia 31 tahun asal Hamburg, Jerman ini mengatakan bahwa ia pun kesulitan membayar penuh gaji karyawannya imbas tidak adanya lagi pasar untuk usahanya. Bisnisnya yang menargetkan wisatawan asing sebagai konsumen karena barang-barangnya dijual dengan harga yang tinggi, untuk sementara terpaksa berhenti beroperasi.

Perempuan yang telah tinggal selama 2,5 tahun di Bali ini menceritakan bagaimana kehidupan di Bali berubah drastis sejak adanya pandemi. Ia melihat banyak laporan orang-orang yang sakit di bulan Desember hingga Maret. Menurutnya, mungkin saja Bali telah mengalami puncak pandemi karena keadaan telah lebih normal saat ini.

‘’Ketika saya lihat angka kasus di Indonesia saya pikir itu bukan jumlah asli orang-orang yang memang sakit, mungkin juga karena orang-orang yang sakit tidak pergi ke rumah sakit karena sistem kesehatan tidak terlalu bagus,’’ jelasnya kepada DW Indonesia.

Warga Jerman lebih khawatir ekonomi dibanding kesehatan

Ia sama seperti kebanyakan orang Jerman lainnya yang lebih mengkhawatirkan dampak ekonomi dibandingkan dengan pandemi itu sendiri. Menurut jajak pendapat yang dirilis perusahaan asuransi R+V, warga Jerman lebih khawatir tentang mundurnya ekonomi dibanding kondisi kesehatan.

‘’Saya tidak khawatir dengan pandemi, saya khawatir tentang bagaimana ekonomi akan terpuruk dan saya sudah bisa melihat banyak warga Bali yang kehilangan pekerjaannya dan apa yang dilakukan ,’’ ujarnya.

Ia merasa mungkin Indonesia bisa mencontoh penanganan di negara asalnya yang telah sangat baik menangani pandemi ini. Menurutnya Kanselir jerman Angela Merkel melakukan tugas yang tepat dengan berbicara kepada publik berdasarkan fakta dan data, serta setelah mendapatkan keterangan dari para peneliti, sehingga Merkel mendapat kepercayaan dari warga jerman.

Sementara, menurutnya pemerintah Indonesia kurang mengedukasi warga tentang bagaimana  melakukan pencegahan pandemi yang tepat di tingkat daerah.

‘’Jika pemerintah memberikan petunjuk yang jelas dan mengedukasi orang-orang, bagaimana virus ini menyebar, warga lokal akan lebih sadar. Namun mereka hanya mengikuti arahan banjar tanpa mengetahui fakta ilmiah,‘‘ katanya.

Kemenlu jalin komunikasi dengan komunitas diplomatik

Pelaksana tugas juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Teuku Faizasyah mengatakan warga negara asing (WNA) yang menghadapi masalah terutama di tengah kondisi pandemi COVID-19, bisa berkomunikasi langsung dengan kedutaan besar negara asalnya.

‘‘Semua kita treat sama bagi mereka yang misalnya terkena virus corona mereka akan menjalani proses kesehatan serupa warga negara Indoneisa. Sudah ada beberapa WNA yang juga tekrena virus corona dan kita berikan perawatan sebagaimana kita merawat WNI,‘‘ ujar Teuku kepada DW Indonesia.

Ia menambahkan selama ini Kemenlu telah menjalin komunikasi secara reguler dengan komunitas diplomatik dan organisasi internasional untuk memberikan masukan-masukan tentang apa yang dilakukan pemerintah dalam menangani penyebaran virus corona.

‘‘Pemerintah dengan menunjuk Rumah Sakit Pertamina misalnya sebagai RS yang didedikasikan untuk komunitas diplomatik asing. Itu merupakan salah satu solusi yang kita tawarkan kepada para dilomat asing di Jakarta dan di kota2 lainnya,‘‘ jelasnya.

Teuku menjelaskan, Wakil Menteri Luar Negeri setidaknya telah dua kali melakukan video konferensi untuk memberikan informasi seputar prosedur tetap penanganan COVID-19. Ia menambahkan pemberian informasi telah berjalan secara rutin sehingga seharusnya dengan sendirinya WNA sudah mengetahui siapa yang harus mereka hubungi jika ada pertanyaan seputar COVID-19.

Konjen Australia di Bali peringatkan warga untuk pulang

Sementara itu di awal bulan April, Konsulat Jenderal Australia di Bali telah mendesak warga negaranya untuk meninggalkan Indonesia, sembari memperingatkan sistem kesehatan yang tidak mampu menangani pandemi COVID-19.

Dalam video yang diposting di akun Facebook resmi milik Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, pada Jumat (03/04), warga Australia diimbau untuk mempertimbangkan kepulangan ke negara asalnya.

Namun, warga negara Australia Isobel Bain yang saat ini tinggal di Bali mengatakan, keadaan sebenarnya sudah jauh lebih normal dibandingkan dua bulan lalu. Meski ia masih saja melihat banyak warga di Bali yang tidak mempraktikkan aturan jaga jarak dengan baik. Ia menyebut di awal bulan April, msaih banyak orang-orang yang belum menjaga jarak dua meter antara satu sama lain dan yang tidak menggunakan masker.

‘‘Saya tidak melihat adanya pembatasan untuk menangani virus corona pada waktu itu. Saya tidak berpikir negatif tentang Indonesia atau hal semacam itu namun itulah kenyataannya, di saat Australia cukup khawatir dan mulai menentukan keputusan-keputusan yang jelas,‘‘ ujar Bain kepada DW Indonesia.

Bain menambahkan pemerintah Australia cukup terbuka dengan segala informasi tentang COVID-19 dan menyebutkan: ‘‘ketika sebuah negara mengelak bahwa tidak terjadi apa-apa di saat ada banyak perjalanan masuk dan keluar, saya pikir itu yang menciptakan ketidakpercayaan.‘‘

Namun ia tidak ingin membandingkan cara pemerintah Australia dan Indonesia bekerja menangani pandemi ini. Menurutnya masing-masing negara tentu punya pertimbangan tersendiri, hanya saja menurutnya diperlukan keterbukaan untuk menenangkan warga di tengah masa sulit. (pkp/hp)

Laporan Pilihan