1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Israel Ingin Persyaratan Kesepakatan Nuklir Iran Lebih Keras

28 Desember 2021

Negosiasi di Wina, Austria, tentang program nuklir Iran ini dimulai dengan tuntutan Iran agar sanksi internasional atas ekspor minyak dan akses ke dana Iran segera dicabut.

https://p.dw.com/p/44tYa
Ali Bagheri Kani, negosiator program nuklir Iran
Ali Bagheri Kani, negosiator program nuklir Iran, tiba di salah satu perundingan nuklir di Wina, Austria, pada November 2021Foto: Lisi Niesner/REUTERS

Perdana Menteri Naftali Bennett pada hari Selasa (28/12) mengatakan bahwa Israel tidak akan otomatis menentang kesepakatan nuklir dengan Iran. Namun menurutnya negara-negara di dunia harus mengambil posisi yang lebih tegas.

"Pasti bisa ada kesepakatan yang baik. Pasti. Kita tahu parameternya. Apakah itu yang diharapkan terjadi sekarang dalam dinamika saat ini? Tidak. Karena itu perlu ada posisi yang jauh lebih tegas," kata PM Naftali Bennett.

Pada Senin (27/12), Iran dan Amerika Serikat (AS) melanjutkan pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di Wina, Austria untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran 2015. Iran berfokus pada satu sisi dari kesepakatan awal, yakni mencabut sanksi terhadap negaranya.

Diplomat Uni Eropa Enrique Mora yang memimpin pembicaraan tersebut mengatakan semua pihak menunjukkan "kemauan yang jelas untuk bekerja menuju akhir yang sukses dari negosiasi ini."

"Ini pertanda yang sangat bagus... Kita akan bekerja sangat serius dalam beberapa hari dan minggu ke depan... Ini akan menjadi sangat sulit," kata Mora kepada wartawan setelah pembicaraan putaran kedelapan yang diselenggarakan di Wina dimulai.

Sementara Naftani Bennett dari Israel mengatakan "Iran sedang bernegosiasi dengan posisi yang sangat lemah. Tapi sayangnya dunia bertindak seolah-olah Iran berada pada titik yang kuat."

Israel sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran tentang pengayaan uranium Iran yang meningkat setelah AS menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) dan memberlakukan sanksi keras pada 2018.

Iran desak pencabutan sanksi

Negosiasi di Wina tentang program nuklir Iran ini dimulai dengan tuntutan dicabutnya sanksi internasional terhadap Iran. "Tujuan minimum dari putaran negosiasi ini adalah mengembalikan ekspor minyak Iran menjadi normal dan memberikan akses ke dana minyak di bank-bank asing," kata Menteri Luar Negeri Iran, Hussein Amir-Abdollahian di Teheran, Senin.

Sanksi minyak dan perbankan terhadap Iran telah menghilangkan sumber pendapatan terpenting negara itu, membuat Teheran putus asa untuk mencapai kesepakatan yang dapat mencabut embargo sesegera mungkin.

Sebelumnya, kepala negosiator Enrique Mora mengatakan bahwa negosiasi ini akan menjadi pembicaraan yang sulit. "Keputusan politik yang sulit harus diambil baik di Teheran maupun di Washington," ujar Mora kepada wartawan. 

Para negosiator berusaha menemukan cara untuk menghidupkan kembali apa yang disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama atau JCPOA, yakni kesepakatan tahun 2015 antara AS, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan Cina yang setuju untuk mencabut sanksi terhadap Teheran dengan imbalan pembatasan ketat program nuklir negara itu.

AS ingin mencegah Iran mempersenjatai diri dengan senjata nuklir dan mempersiapkan lebih banyak sanksi untuk lebih mengisolasi negara itu jika kesepakatan tidak dapat dicapai dalam putaran pembicaraan ini. Salah satu poin utama dalam negosiasi saat ini adalah urutan langkah-langkah deeskalasi yang akan diambil oleh Washington dan Teheran.

Negosiasi nuklir ini sekarang dalam putaran kedelapan dan sempat ditangguhkan selama lima bulan setelah pemimpin garis keras Ebrahim Raisi menjadi presiden di Iran pada awal tahun 2021.

Meskipun Iran bersikeras bahwa program nuklirnya damai, bulan November lalu Israel memperingatkan pada bahwa Republik Islam ini telah mengambil langkah-langkah untuk memperkaya uranium yang dibutuhkan untuk senjata dan sudah siap sekitar 90%.

ae/hp (Reuters, dpa, AFP)