Hadapi Orang ′Ngamuk′ Hingga Dengarkan ′Curhatan′ Pelanggan, Suka Duka Pegawai Supermarket Asal Indonesia di Jerman | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 09.05.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

wabah corona

Hadapi Orang 'Ngamuk' Hingga Dengarkan 'Curhatan' Pelanggan, Suka Duka Pegawai Supermarket Asal Indonesia di Jerman

Menghadapi ribuan pengunjung, marabahaya mengintai para karyawan supermarket di kala wabah corona. Pekerja-pekerja supermarket asal Indonesia di Jerman berbagi suka duka.

Supermarket di Jerman

Gambar ilustrasi

“Tadi pagi ada seorang bapak yang marah-marah karena saya larang masuk ke supermarket tempatku bekerja, gara-gara tidak pakai masker,” tutur Renata, perempuan asal Berastasi, Karo, Sumatera Utara yang kini bermukim di München dan bekerja di sebuah supermarket di kota di selatan Jerman tersebut. “Lelaki itu berkilah berapi-api, katanya ia datang supermarket justru mau membeli masker dan saya jawab kami tidak menjual masker dan jika Anda tidak mengenakannya, Anda tidak bisa masuk,” lanjut Renata sambil mengelap keringat sepulang kerja. “Bagaimana dong, aku pun kasihan padanya, tapi aturannya begitu di supermarket kami. Kalau tidak, ya kami yang dimarahi oleh atasan, dan atasan kami kena peringatan dari dinas kesehatan,” tuturnya lebih lanjut. Saat ini di Jerman, orang wajib mengenakan masker di transportasi umum, instansi, kantor dan toko atau supermarket.

Bekerja di supermarket Jerman  di masa pandemi corona ini, letihnya bisa berkali lipat, kisah Renata. Sejak diberlakukan pembatasan ke luar rumah pertengahan Maret lalu, supermarket menjadi tumpuan penting bagi warga untuk mendapat pasokan makanan. Semua toko kala itu ditutup, namun supermarket tetap buka.

“Ada orang-orang yang kebosanan saja mungkin ya, hampir tiap hari saya lihat jalan-jalan di supermarket, kan bahaya. Pernah pula waktu awal pembatasan diberlakukan, ada dua pelanggan tidak mau antre menjaga jarak, ketika mau masuk ke supermarket. Diingatkan malah mengamuk,” Renata melanjutkan ceritanya, “Ada-ada saja yang terjadi tatkala wabah merebak.”

“Minggu lalu ada perempuan yang teriak, oh pahlawanku, oh pahlawanku ketika rekan saya menarik tiga palet tumpukan tisu toilet. Perempuan itu ternyata sudah berpekan-pekan menunggu persediaan tisu toilet di supermarket dan kehabisan terus,” ungkap Renata. Dia tersenyum melihat perempuan pengunjung supermarketnya berbahagia, menemukan barang yang dicari-cari berminggu-minggu.

Tisu toilet sempat menjadi barang langka, di samping pembersih tangan dan masker, pada awal wabah corona merebak. “Sempat tidak ada barang di supermarket selama tiga minggu,” tutur Irene yang bekerja di supermarket di Kota Bonn, Nord Rhein Westfallen, Jerman. ”Tapi itu terjadi karena orang-orang melakukan hamsterkauf atau memborong gila-gilaan, padahal jumlahnya tetap seperti biasa pasokannya. Kalau saja mereka tidak memborong atau menimbun, tentu cukup untuk semua,” kata Irene yang merasa jengkel atas kelakuan orang-orang yang gemar menimbun barang di saat kondisi sedang sulit. Selain tisu toilet, barang lain yang juga sempat sulit dicari adalah tepung terigu dan ragi. 

 Irene Syarief

Irene, karyawan supermarket

Pengamanan di supermarket

Selain masalah kelangkaan barang, supermarket-supermarket di Jerman juga berjuang melakukan pengamanan agar virus tidak tersebar. “Kita berhadapan dengan ribuan pengunjung  supermarket. Oleh sebab itu pengamanan di supermarket menjadi ketat. Di pintu masuk ada alat pembersih tangan dan sarung tangan. Bagi yang tangannya sensitif terkena cairan pembersih tangan, disediakan sarung tangan,” papar Irene, gadis yang lahir dan besar di Balikpapan ini.

Beberapa supermarket juga menyediakan kereta belanja yang berfungsi untuk memastikan jarak antar pengunjung di supermarket dan membatasi jumlah pengunjung di supermarket berdasarkan pengukuran luas supermarket. “Di supermarket kami dibatasi hanya  tersedia 35 kereta belanja dan semua wajib memakainya sehingga gampang dihitung jumlah penunjungnya. Lebih dari 35 orang, harus antre di pintu masuk,” demikian dijelaskan Irene.

“Selain itu semua karyawan wajib juga pakai masker. Antara  meja penjual daging  ke pembeli dibatasi dengan barang-barang agar baik pembeli dan yang menjual daging dan jarak sekitar hampir dua meter,” tutur Irene.

Di bagian kasir supermarket-supermarket maupun toko-toko dan kios di Jerman juga dipasangi pembatas kaca atau plastik yang hampir menyentuh langit-langit. Hanya ada lubang kecil  untuk pembeli membayar baik dengan kartu bank maupun uang tunai. Di setiap kasir tersedia cairan pembersih tangan yang berukuran sekitar setengah liter.

Tidak sekadar menjajakan barang

Sebulan lebih warga Jerman dibatasi ke luar rumah. Oleh sebab itu supermarket menjadi satu-satunya lokasi yang mungkin paling sering dikunjungi orang saat wabah di Jerman. “Jika sebelumnya kami bisa mengobrol asyik dan dekat dengan pelanggan, sekarang jadi jaga jarak,” lanjut Irene, “Jadi kurang ramah kelihatannya padahal kami harus ramah, tapi saat ini kondisi wabah memaksa kita demikian.”

“Pernah pula ada seorang perempuan tua yang menangis baru-baru ini karena suaminya meninggal dunia. Saya hanya bisa mendengarkan dia menceritakan kesedihannya. Namun saya tidak bisa memeluknya, meski ingin sekali meringankan susah hatinya,” tutur Irene yang akhirnya hanya mendengarkan saja kisah-kisah keseharian para pelanggannya.

Renata, karyawan di Stuttgart bercerita, ia pun juga menyempatkan diri mendengarkan cerita pelanggannya yang diputus kekasih di tengah wabah corona, “Padahal pinggang saya rasanya mau copot karena mengangkut barang dan berdiri seharian. Namun kasihan juga mereka kan tidak bisa bertemu siapa-siapa pada masa pembatasan atau karantina,” ujarnya. Tugasnya tidak hanya menyediakan barang-barang kebutuhan, namun bertambah dengan mendengarkan kesedihan dan keluhan para pelanggannya.

Baik Renata maupun Irene berharap wabah ini segera berlalu. “Begitu reda wabah ini, saya ingin sekali pulang ke Berastagi memeluk mamak saya.”