Pengungsi Suriah di Lebanon Lebih Takut Kelaparan Daripada Virus Corona | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 07.05.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Lebanon

Pengungsi Suriah di Lebanon Lebih Takut Kelaparan Daripada Virus Corona

Di kamp-kamp pengungsi Suriah di Lebanon yang penuh sesak, tidak mungkin menjaga jarak aman. Tapi kebanyakan pengungsi lebih takut menderita kelaparan daripada tertular virus corona. 

Kamp pengungsi Medyen di Bar Elias tahun 2018

Kamp pengungsi Medyen di Bar Elias tahun 2018

Ratusan kompleks penampungan pengungsi asal Suriah berjejer sepanjang jalan menuju lembah Bekaa di Lebanon. Di antara tenda-tenda juga banyak gubuk darurat yang dibuat sekadarnya dengan plastik bekas. Perbatasan ke Suriah terletak hanya 15 kilometer dari sini. 

Kamp pengungsi Mehdyen terletak di desa kecil Bar Elias, diberi nama menurut pendirinya Mehdyen al-Ahmed. Di sini ada delapan tenda yang menampung sembilan keluarga dari distrik Homs di Suriah.  

"Kami tinggal sembilan orang di satu tenda“, kata Mehdyen al-Ahmed, 43 tahun. Selain keluarganya sendiri, dia juga harus mengurus keuarga saudara perempuannya, yang kehilangan suaminya dalam perang Suriah. 

Di Suriah, Medyen al-Ahmed punya usaha dagang, namun perang menghancurkan segalanya. Karena khawatir dengan keselamatan keluarga, terutama anak-anaknya, mereka mengungsi ke Lebanon. 

Tidak ada pekerjaan, tidak ada sekolah 

Tiba di Lebanon, Medyen al-Ahmed bekerja sebagai tenaga bantuan di organisasi bantuan pengungsi. Dengan sponsor dari Jerman, dia lalu mendirikan sekolah kecil untuk anak-anak pengungsi di tempat penampungan pengungsi. Sekarang, sekolah itu sudah punya bangunan dua tingkat di luar kamp. Tapi setelah ada pandemi corona, sekolah itu harus ditutup untuk sementara. 

"Karena krisis corona, kegiatan sekolah terpaksa dihentikan dulu“, kata Medyen al-Ahmed. Padahal, kegiatan belajar sangat penting bagi anak-anak pengungsi, tidak hanya karena materi pelajaran, melainkan juga karena kontak sosial yang penting bagi anak-anak di lingkungan sekolah. Sekarang, tidak hanya murid-murid sekolah yang kehilangan kegiatan belajar, kontrak kerja Medyen al-Ahmed dengan beberapa organisasi bantuan juga dihentikan untuk sementara. 

"Sekarang kami hanya mendapat kursus tambahan tentang penggunaan WhatsApp atau Zoom“, kata Medyen el-Ahmed. Dia tidak mendapat pembayaran upah lagi. 

Belum ada kasus infeksi Covid-19 

Sejauh ini, belum ada kasus infeksi Covid-19 di tempat-tempat penampungan pengungsi asal Suriah di wilayah itu. Tapi di sebuah penampungan pengungsi asal Palestina ada beberapa kasus. Menurut data Johns Hopkins University, di seluruh Lebanon tercatat sekitar 750 kasus Covid-19, dengan 25 orang meninggal. Namun tidak ada yang tahu, berapa angka infeksi yang tidak terkonfirmasi atau tidak terdaftar. 

“Tentu saja situasinya parah, kalau infeksi mulai menyebar di penampungan pengungsi Suriah, karena di sana penuh sesak, dan hubungan sosial orang-orang sangat dekat”, kata Mohammed Taleb, koordinator organisasi bantuan pengungsi Basmeh Zeitooneh. 

Beberapa organisasi bantuan, salah satunya Dokter Tanpa Batas Negara, sudah mendirikan pusat pelayananan kesehatan khusus untuk pengungsi asal Suriah. Tapi banyak pengungsi yang justru enggan memeriksakan diri, sekalipun mengalami gejala-gejala Covid-19. Terutama karena banyak dari mereka tidak punya dokumen resmi. Selain itu, mereka juga khawatir dikenakan karantina. 

Otoritas Lebanon sebelumnya mendeportasi ratusan pengungsi yang tidak memiliki dokumen resmi. Jadi para pengungsi Suriah di kamp penampungan harus berpikir dua kali, mana ancaman yang lebih besar bagi mereka: Ancaman kesehatan atau ancaman dideportasi. Kebanyakan pengungsi lebih khawatir menderita kelaparan, daripada tertular virus corona. (hp/vlz) 

Laporan Pilihan