Virus Corona Merebak di Jerman, Kesalahan Kaum Muda yang Tidak Patuh Aturan? | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 07.05.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Virus Corona Merebak di Jerman, Kesalahan Kaum Muda yang Tidak Patuh Aturan?

Sebuah studi menunjukkan bahwa kaum muda berusia 20-24 tahun adalah kelompok utama yang bertanggung jawab terhadap penyebaran virus corona di Jerman. Namun, bagaimana virus itu menyebar nyatanya jauh lebih rumit.

Ketika negara-negara di seluruh dunia dihadapkan dengan lockdown, jumlah kematian yang mengejutkan, dan sistem perawatan kesehatan yang kewalahan, perhatian publik justru fokus pada negara-negara yang tampaknya berhasil melewati badai wabah dengan stabilitas dan tingkat kematian yang relatif rendah.

Negara-negara seperti Korea Selatan, Selandia Baru, dan Jerman telah menjadi subjek yang menarik minat para peneliti profesional dan ahli epidemiologi terkait hal ini.

Namun, sebuah studi baru tentang kepatuhan warga Jerman terhadap aturan social distancing yang baru-baru ini telah dilonggarkan memunculkan desas-desus besar di media sosial, dengan topik utamanya mengklaim bahwa kaum muda lah yang sangat mungkin melanggar peraturan dan dengan demikian terus melanjutkan penyebaran virus corona.

Gagasan tersebut banyak disorot setelah di satu akhir pekan, foto anak-anak muda yang berkerumun di taman kota-kota besar, dan mengambil bagian dalam protes anti lockdown, beredar di media sosial.

Risiko relatif tinggi untuk kaum muda

“Anak-anak muda berusia dua puluh hingga 24 tahun telah mendorong pandemi virus corona di Jerman,” klaim harian Tagesspiegel, yang kemudian dikutip oleh beberapa kantor berita Jerman lain. Tetapi apakah kesimpulan itu benar-benar didukung oleh data?

Studi baru tentang kepatuhan warga Jerman ini dilakukan oleh ahli epidemiologi Harvard Edward Goldstein dan Marc Lipstich menggunakan data dari pusat kontrol penyakit Jerman, Robert Koch Institute (RKI) dan diterbitkan di Eurosurveillance, sebuah jurnal tentang penyakit menular dan epidemiologi.

Dengan menggunakan data jumlah infeksi virus yang dikonfirmasi pada minggu terakhir Maret dan awal April, para ilmuwan menyimpulkan bahwa risiko relatif (RR) kasus COVID-19 untuk penduduk Jerman berusia antara 15-34, khususnya antara 20-24, jauh lebih tinggi daripada kelompok umur lainnya. Mereka juga yakin bahwa pola serupa telah muncul di Korea Selatan, di mana individu berusia 20-29 tahun adalah kelompok dengan jumlah kasus yang terdeteksi paling tinggi.

Faktor yang hilang

Namun, makalah ini juga mencatat bahwa para ilmuwan sejauh ini tidak dapat menemukan alasan di balik terjadinya peningkatan risiko. Meskipun mereka menyebutkan bahwa “kemungkinan peningkatan ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya kepatuhan orang berusia 15-34 tahun akan pedoman jarak fisik,” mereka mengabaikan fakta bahwa banyak anak muda justru bekerja dalam pekerjaan dengan kontak tinggi, seperti misalnya industri jasa.

Banyak dari sektor jasa ini memang ditutup sementara selama penguncian. Namun, periode penelitian sejatinya mencakup periode waktu di mana banyak anak muda dimungkinkan tertular virus di tempat kerja sebelum peraturan penguncian diberlakukan.

Studi ini juga tidak memasukkan faktor bahwa anak muda cenderung tidak memiliki mobil, sehingga ada kebutuhan berkelanjutan akan penggunaan transportasi umum. Atau faktor-faktor khusus lainnya, seperti fakta bahwa wabah di negara itu berasal dari anak-anak muda yang kembali dari liburan ski di Austria dan kemudian kembali secara bersama-sama untuk merayakan Karnaval, sebuah musim yang dirayakan secara luas di Jerman barat dan selatan. Dengan demikian mereka dapat menyebarkan virus yang terkonsentrasi di antara kelompok usia mereka selama pertemuan publik besar tersebut.

Yang semakin memperumit masalah adalah sebuah studi terpisah yang dirilis di hari yang sama. Studi tersebut meneliti faktor RR dan kelompok umur yang berbeda di kota kecil bernama Heinsberg, yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat wabah COVID-19 di Jerman.

Para ilmuwan dari Universitas Bonn itu menguji lebih dari 900 individu dari Heinsberg. Hasil studi menunjukkan bahwa sekitar 20% pembawa virus di Jerman adalah tanpa gejala. Ini juga berarti bahwa sekitar 1,8 juta warga Jerman di seantero Jerman dapat terinfeksi virus corona, sepuluh kali lebih tinggi dari jumlah resmi yang dilaporkan oleh RKI.

Kenyang akan studi akademik yang meragukan

Di sisi lain, komunitas ilmiah meminta publik agar lebih jeli melihat berbagai makalah virus corona yang beredar di internet, di mana banyak di antaranya masih dalam pra-publikasi sehingga belum diperiksa oleh para ahli. Di sisi lain, ahli pengulas berkualitas saat ini disebut masih terlalu sedikit, sehingga menjadi kewalahan. 

Studi baru yang diterbitkan di Eurosurveillance yang telah dibahas sebelumnya terdaftar sebagai sebuah ‘komunikasi cepat’, istilah yang digunakan oleh jurnal akademik yang menunjukkan bahwa peninjauan oleh ahli dipercepat karena berkaitan dengan keadaan darurat atau vital untuk kepentingan publik.

Keluhan serupa tentang kurangnya pemeriksaan oleh ahli juga disematkan pada studi peneliti Universitas Bonn tentang Heinsberg.

Terlepas dari foto-foto viral yang memperlihatkan anak-anak muda melakukan piknik dan melakukan unjuk rasa di media sosial, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kaum muda lebih cenderung mengabaikan aturan social distancing di Jerman. Namun, ada banyak bukti anekdot yang memperlihatkan bahwa mereka yang berusia di bawah 35 tahun menanggung beban ekonomi dan beban mental akibat pandemi. Pasalnya, pengangguran dan resesi membuat mereka menjadi kurang sejahtera dibandingkan orang tua dan kakek nenek mereka. (gtp/pkp)