Gunung Merapi Erupsi, Puluhan Hektare Lahan Sayur dan Pakan Ternak Rusak | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 28.01.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Erupsi Gunung Merapi

Gunung Merapi Erupsi, Puluhan Hektare Lahan Sayur dan Pakan Ternak Rusak

Berdasarkan laporan BPPTKG Badan Geologi, aktivitas Gunung Merapi masih tinggi. Gunung Merapi pun dilaporkan kembali mengeluarkan awan panas pada Kamis (28/01) siang. Tercatat 70 Ha lahan sayur dan pakan ternak rusak.

Gunung Merapi luncurkan awan panas pada Rabu (27/01)

Gunung Merapi luncurkan awan panas pada Rabu (27/01)

Aktivitas Gunung Merapi masih tinggi. Awan panas dan guguran lava terpantau di gunung yang memiliki puncak di ketinggian 2.930 mdpl tersebut. Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono mengatakan jarak aman bagi warga untuk beraktivitas adalah lima kilometer dari puncak Merapi.

Eko mengatakan, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Badan Geologi merekam pada 27 Januari 2021 terjadi 52 awan panas guguran di Gunung Merapi dengan jarak luncuran maksimal 3 kilometer ke arah barat daya, terutama di hulu Kali Boyong dan Kali Krasak.

"Terjadi kejadian abu di beberapa tempat, mengingat material halus erupsi dapat terbawa oleh angin," kata Eko dalam keterangan resmi Badan Geologi, Kamis (28/01).

Ia pun meminta agar warga mewaspadai bahaya lahar saat hujan terjadi di puncak Gunung Merapi. "Maka dapat kami sampaikan aktivitas Gunung Merapi masih tinggi dengan aktivitas berupa awan panas dan guguran lava, data seismik didominasi kegempaan karena aktivitas guguran," ujar Eko.

Kembali luncurkan awan panas

Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini kembali erupsi dan mengeluarkan awan panas siang ini. Luncuran awan panas mengarah ke hulu Kali Boyong dan Krasak.

"Terjadi awan panas guguran Merapi tanggal 28 Januari 2021 pukul 10:13 WIB," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida dalam keterangannya, Kamis (28/01).

Hanik menjelaskan awan panas tercatat di seismogram dengan amplitudo 69 milimeter dan durasi 175 detik. Saat erupsi cuaca berkabut sehingga tinggi kolom tidak teramati.

"Tinggi kolom tak teramati, cuaca berkabut, estimasi jarak luncur 2.000 meter ke arah barat daya ke hulu Kali Krasak dan Boyong," paparnya.

Puluhan hektare lahan rusak

Puluhan hektare lahan tanaman sayur dan pakan ternak terdampak erupsi Gunung Merapi. Tanaman di lahan tersebut busuk dan rusak terkena hujan abu vulkanik Gunung Merapi.

"Sebenarnya tidak ingin petik awal, tapi kalau yang hijau tidak dipetik khawatir tidak panen. Ini cabai yang sudah mau merah saja busuk," kata petani sayur warga Dusun Grintingan, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Widodo pada detikcom di kebunnya, Kamis (28/01).

Widodo menjelaskan hujan abu terus terjadi beberapa hari terakhir. Hujan abu Gunung Merapi paling besar, kata dia, turun pada Rabu (27/01) siang dan terjadi lagi pada malamnya harinya.

"Rabu siang abu tebal lalu sore ada hujan air. Malamnya ada abu turun lagi jadi tanaman kena abu lagi," sambung Widodo.

Satu satu cara untuk menyelamatkan tanaman di lahan itu, menurut Widodo, hanya dengan menyemprotkan air. Namun hal itu dinilainya sulit sebab akan membutuhkan sangat banyak air dan hujan abu terus turun.

Cabai keriting hasil petikannya, kata Widodo, hanya laku Rp 15 ribu per kilogram. Padahal harga sebelum ada hujan abu mencapai Rp 20 ribu per kilogram.

"Ya bagaimana lagi kalau menunggu merah malah busuk dan tidak bisa panen," papar Widodo.

Kades Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Sutarno, mengatakan lahan yang paling terdampak abu adalah lahan sayur dan rumput pakan. Luasan terdampak mencapai sekitar 70 hektare.

"Kalau sayur yang terdampak sekitar 70 hektare. Tanamannya ada tomat, cabai, kol dan loncang yang terancam busuk," jelas Sutarno pada detikcom di kantornya.

Sebelumnya, aktivitas vulkanik Gunung Merapi terpantau meningkat sejak Oktober 2020. Penetapan status Gunung Merapi dari level waspada ke Siaga pun diberlakukan pada 5 November 2020. (Ed: rap/ gtp)

 

Baca selengkapnya di:DetikNews 

Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Badan Geologi Rekomendasikan Jarak Aman 5 Km

Gunung Merapi Erupsi Luncurkan Awan Panas Sejauh 2 Km Siang Ini

Gunung Merapi Erupsi, 70 Ha Lahan Sayur-Pakan Ternak Terdampak

Laporan Pilihan