1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Peter Limbourg
Haruskah jurnalis berpihak pada aktivis atau menjaga jarak profesional?Foto: Ronka Oberhammer/DW
SosialGlobal

Desakan GMF: Jurnalis Tidak Boleh Menjadi Aktivis

Benjamin Restle
22 Juni 2022

Haruskah jurnalis merangkul atau menghindari aktivisme? Pada Global Media Forum DW tahun ini, pakar media memperingatkan untuk tidak mengaburkan batas antara jurnalisme yang didorong oleh nilai dan aktivisme.

https://www.dw.com/id/desakan-gmf-jurnalis-tidak-boleh-menjadi-aktivis/a-62213765

Apakah batas antara jurnalisme dan aktivisme semakin kabur? Dan jika demikian, haruskah jurnalis berusaha menjaga jarak profesional dari advokat? Ini adalah beberapa pertanyaan utama pada sesi panel pada Senin (20/06) di Global Media Forum 2022, Bonn, Jerman.

Di forum tersebut, pakar media dari seluruh dunia mengambil bagian dalam acara dua hari untuk membahas masa depan jurnalisme di masa perang, krisis, dan bencana.

Jika kita telah memasuki era "anti-nuansa", seperti yang ditegaskan oleh pembawa berita dan panelis DW Philip Gayle, apakah ini berarti detail halus, ambivalensi, dan paradoks semakin hilang dari audiens? Apakah penonton lebih memilih pelaporan yang jelas, hitam-putih, di mana sisi baik dan buruk dari setiap cerita dapat dengan mudah dibedakan, seperti siang dan malam?

Haruskah mereka memihak dan memberi tahu audiens apa yang harus dilakukan dan dipikirkan? Haruskah mereka, jurnalis, dengan kata lain, menjadi aktivis?

Seharusnya tidak, kata Direktur Jenderal DW Peter Limbourg, salah satu panelis dalam diskusi. Belum lagi, saat meliput tantangan mendesak seperti pemanasan global. Jurnalis tidak boleh meninggalkan pola pikir kritis dan berpihak pada aktivis. Jika tidak, ia memperingatkan, mereka berisiko menyimpang dari "jalan jurnalisme."

"Jurnalisme itu rumit," kata Limbourg. "Kami harus menunjukkan gambaran lengkapnya; dan itu berarti rumit." Penyederhanaan yang berlebihan sebaiknya diserahkan kepada politisi atau populis, menurut Limbourg. Dan untuk para aktivis yang memperjuangkan suatu tujuan, orang mungkin ingin menambahkan, karena agenda mereka adalah untuk mengagitasi daripada menginformasikan.

Memang, sentimen ini digaungkan oleh semua panelis, dengan Patricia Toledo de Campos Mello, seorang reporter investigasi di harian Brasil Folha de Sao Paulo, dengan cara yang sama memperingatkan para jurnalis harus menghindari sumber-sumber yang tidak tepat untuk menguatkan narasi mereka sendiri.

Jurnalisme yang digerakkan oleh nilai vs aktivisme

Lalu bagaimana dengan media yang secara eksplisit mempromosikan serangkaian nilai? DW, misalnya, mengaku memperjuangkan hak asasi manusia dan demokrasi dalam pemberitaannya. Apakah jurnalisme yang didorong oleh nilai seperti itu berisiko berubah menjadi aktivisme?

Sementara Peter Limbourg mengakui bahwa DW sebenarnya "mendukung" nilai-nilai ini dan nilai-nilai lainnya, tetapi ia memperingatkan bahwa terlalu banyak aktivisme jurnalistik dapat menyebabkan polarisasi di masyarakat.

Selain itu, menyatakan secara gamblang nilai-nilai yang dibela, atau ditentang dalam sebuah outlet media, harus disambut sebagai langkah yang transparan dan pragmatis. Gagasan tentang objektivitas jurnalistik perlu dikaji: gender, latar belakang sosial-ekonomi, pendidikan, masyarakat, dan faktor-faktor lain sangat memengaruhi cara kita memandang dan melaporkan dunia. Kita semua, dengan kata lain, didorong oleh nilai, apakah kita ingin mengenali ini atau tidak.

Tokoh Dunia Puji DW Sejak 65 Tahun Jalankan Jurnalisme Berkualitas

Oleh karena itu, menanyakan apakah jurnalisme bergerak menuju aktivisme mungkin merupakan pertanyaan yang menyesatkan. Keduanya adalah ranah terpisah yang harus dipisahkan, seperti yang disepakati oleh semua panelis. Pada saat yang sama, kita harus mengakui bahwa jurnalis tidak dapat mengadopsi "pandangan entah dari mana", semua jurnalis dipandu oleh nilai-nilai, memilih cerita tertentu di atas yang lain, menganggap beberapa lebih relevan dan layak diberitakan daripada yang lain.

Seorang pria memegang kertas bertuliskan kebohongan pers
Ketidakpercayaaan terhadap media telah meningkat di JermanFoto: picture-alliance/dpa/P. Zinken

Integritas jurnalistik

Ketika jurnalis mengarahkan perhatian pada satu topik daripada topik lainnya, mereka harus melakukan yang terbaik untuk menjaga integritas jurnalistik profesional mereka.

Kiundu Waweru, seorang jurnalis di Internews Earth Journalism Network, mengatakan jurnalis yang mengkhususkan diri pada dan banyak meliput topik tertentu dapat dianggap sebagai partisan. Dia mengakui "ini adalah garis yang sangat tipis antara menjadi jurnalis dan aktivis."

Untuk menghindari jebakan ini dan menjaga integritas jurnalistik, ia menyebut jurnalis harus menghindari hanya mewawancarai dan mengutip sumber yang mengonfirmasi perspektif mereka sendiri.

Sebuah skeptisisme yang sehat, keterbukaan terhadap dan ketertarikan pada ambivalensi kehidupan yang berantakan karenanya tampak sebagai ciri jurnalisme yang berkualitas.

Pembawa acara panel Philip Gayle berpendapat bahwa kita mungkin telah memasuki era "anti-nuansa", jurnalis profesional akan terus meliput dunia dalam segala ambiguitas yang membingungkan. Bagaimanapun, itulah yang membedakan mereka dari para aktivis.

(rs/ha)