1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Virus Corona Bisa Jadi Musuh Terbesar Trump di Pemilu AS

Oliver Sallet
13 Maret 2020

Presiden Donald Trump membuat kebijakan mengejutkan terkait penanganan wabah corona di AS. Pada pemilu akhir tahun nanti, pemilih akan menentukan dapatkah Trump menang melawan virus ini.

https://p.dw.com/p/3ZLOl
Rakyat Amerika menonton pidato Presiden Trump di televisi
Foto: Reuters/J. Redmond

Pidato Donald Trump dari Oval Office pada Rabu (11/03) malam waktu setempat menimbulkan kepanikan, namun ini sudah bisa diduga. Pada awalnya, Trump meremehkan virus corona SARS-CoV-2 sebagai "flu" yang "akan segera berlalu." Tiba-tiba ia mengumumkan pelarangan masuk bagi orang-orang dari Eropa ke AS, dengan sejumlah pengecualian.

Solusi yang ditawarkan Trump kemudian adalah "America First" alias menutup perbatasan. Ini adalah salah satu cara untuk mencegah penyebaran virus dan untuk mempersiapkan sistem kesehatan di negara itu dalam menghadapi wabah yang diprediksi akan meningkat secara eksponensial.

Apa yang terjadi di Italia dan Cina bisa juga terjadi di AS. Dan, mengingat anjloknya pasar saham dan bursa tenaga kerja, buat Trump virus ini bukan lagi sekadar masalah kesehatan tetapi juga masalah ekonomi. Ini bisa membahayakannya dalam pemilu mendatang.

Tindakan Trump "sangat tidak pantas"

Untuk membantu meredam dampak wabah corona, Trump merencanakan pengurangan suku bunga dan pajak penghasilan untuk membantu perekonomian dan para pekerja. Mark Rom, profesor di Sekolah Hukum Konstitusi McCourt di Washington, menganggap langkah-langkah yang direncanakan oleh Trump "sangat tidak pantas."

Menurutnya, jauh lebih penting untuk mempertimbangkan bahwa banyak orang Amerika tidak memiliki asuransi kesehatan. Selain itu, perlu juga untuk memberlakukan cuti sakit berbayar, yang hingga sekarang masih bukan hal yang wajib bagi perusahaan di AS.

Namun Trump seolah bungkam atas masalah ini. Pemotongan pajak yang direncanakan Trump akan salah sasaran, kata Mark Rom. Alih-alih membantu yang lemah, Trump sekali lagi malah mendukung orang-orang berpunya, sedangkan mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan terpaksa gigit jari. 

Selama ini, para pendukungnya melihat kelebihan Trump adalah bahwa ia bisa dipercaya dalam hal-hal yang menyangkut kebijakan tenaga kerja dan ekonomi. Ini adalah satu-satunya bidang di mana Trump secara konsisten dinilai oleh para responden telah bekerja dengan baik.

Musuh terbesar Trump

Namun, virus corona telah memengaruhi ekonomi AS dan harga saham anjlok seperti yang terjadi pada krisis tahun 2008. Ada kekhawatiran besar bahwa krisis kesehatan saat ini akan berubah akan menjadi krisis keuangan. Justru situasi inilah yang memicu kepanikan di kubu Trump.

Sejak krisis 2008, harga saham yang cenderung terus meningkat disambut hangat oleh para pensiunan dan jutaan orang Amerika yang juga mengandalkan rencana tabungan saham untuk dana pensiun mereka. Kemerosotan harga pasar saham bisa jadi musuh terbesar Donald Trump.

Virus corona yang mewabah saat ini memberinya masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara sebelumnya, seperti pemotongan pajak, rangsangan ekonomi dan rencana-rencana jangka pendek lainnya. Trump tidak bisa menenangkan warga Amerika.

"Kekuatan politiknya tidak lagi efektif," kata Profesor Mark Rom. Amerika sekarang ingin diyakinkan bahwa presiden mereka bisa mengendalikan situasi, tapi Trump dinilai tidak bisa menyampaikan hal ini.

Jadi, apakah itu tentang kurangnya perlindungan asuransi kesehatan, jatuhnya harga saham, penurunan gaji atau bahkan pengangguran massal, satu hal yang pasti: Jika Donald Trump gagal melindungi orang-orang dari konsekuensi wabah corona, ia tidak punya argumen kuat untuk dipilih kembali. (ae/vlz)