1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Pasar hewan di kota Yulin
Foto: picture-alliance/dpa/Wu Hong
Hukum dan Pengadilan

Cina Susun Aturan Anjing Bukan untuk Dikonsumsi

10 April 2020

Langkah ini mengikuti larangan total konsumsi dan perdagangan anjing dan kucing yang diterapkan Shenzhen pekan lalu. LSM Humane Society pun memuji langkah pemerintah Cina.

https://p.dw.com/p/3ajtQ

Komunitas pecinta hewan memuji langkah pemerintah Cina terakit rancangan undang-undang untuk mereklasifikasi anjing sebagai hewan peliharaan, bukan hewan ternak.

“Sejauh adanya perhatian terhadap anjing, seiring kemajuan peradaban manusia dan kepedulian dan cinta masyarakat akan perlindungan hewan, anjing telah ‘dikhususkan’ untuk menjadi hewan pendamping, dan tidak diangap sebagai hewan ternak secara internasional, dan mereka tidak akan pula dianggap sebagai hewan ternak di Cina,” begitu bunyi pernyataan Kementerian Pertanian Cina, Rabu (08/04).

Hewan ternak didefinisikan sebaga hewan yang dapat dibiakkan untuk dikonsumsi, susu, bulu, serta, dan obat-obatan.

Sebuah LSM internasional, Humane Society, menyebut rancangan undang-undang ini sebagai “pengubah keadaan yang potensial.” RUU ini sudah dipublikasikan kepada publik untuk disosialisasikan dan menetapkan 18 hewan ternak tradisional antara lain sapi, babi, ayam, dan unta.

Kementerian Pertanian Cina juga menetapkan 13 hewan ‘istimewa’ yang akan dicoret dari daftar hewan yang boleh diperdagangkan, antara lain rusa kutub, burung pegar, alpaca, rubah, dan burung unta.

Langkah ini merupakan upaya pemerintah Cina dalam merespon pandemi virus corona.

Perdagangan hewan diduga jadi awal mula virus corona berasal, di mana virus SARS-CoV2 ditengarai berasal dari pasar hewan di Wuhan, yang menjajakan berabagai jenis hewan dan daging kelelawar dan landak, dan hewan langka lainnya.

Virus ini diyakin berasal dari keleawar tapal kuda, yang kemudian menularkan virus ke manusia melaui hewan lainnya, yakni trenggiling, yang dijual di pasar tersebut.

Bulan lalu, Cina telah melarang penjualan serta konsumsi hewan liar, dengan alasan bahwa hewan liar dapat menularkan penyakit ke manusia.

Sementara itu, Kota Shenzhen, kota dengan penduduk 13 juta jiwa, mengeluarkan peraturan yang melarang konsumsi anjing, kucing, dan hewan lainnya. Ini jadi kali pertama kota di Cina yang secara khusus melarang konsumsi daging anjing.

Direktur Humane Society International, Wendy Higgins, mengatakan hal tersebut “sangat menggembirakan.”

“Ini kali pertama pemerintah Cina secara eksplisit menjelaskan mengapa anjing… dicoret dari daftar resmi hewan ternak, menyatakan bahwa mereka adalah hewan pendamping dan bukan untuk dikonsumsi,” tambahnya.

Di Cina, daging anjing dianggap sebagai makanan lezat. Kota Yulin di Provinsi Guangxi bahkan mengadakan festival daging anjing tahunan setiap bulan Juni.

Humane Society memperkirakan sekitar 10 juta anjing dibunuh setiap tahun untuk perdagangan daging anjing di negara itu.

rap/pkp (Reuters, AFP)