Cek Fakta: Razia Warung di Garut, Orang Kristen Ikut Diburu?
13 Maret 2025
Sebuah video yang telah ditonton lebih dari 1,5 juta kali di X (sebelumnya Twitter), diklaim memperlihatkan sekelompok warga muslim menyerang orang-orang di sebuah warung kopi di Indonesia karena tidak berpuasa selama Ramadan.
Dalam video tersebut, sekelompok pria terlihat membuang isi minuman para pelanggan ke lantai.
DW melakukan analisis terhadap klaim ini.
Klaim: "Di Indonesia, muslim memburu siapa saja yang tidak menjalankan ibadah puasa, bahkan orang Kristen. Inilah Islam. Segera hadir di lingkunganmu Eropa,” demikian tulis unggahan tersebut di X.
Cek Fakta DW: Menyesatkan.
Melalui pencarian menggunakan gambar tangkapan layar dari video, terungkap bahwa rekaman itu diberitakan secara luas oleh media arus utama di Indonesia, termasuk Kompas dan CNN Indonesia.
Dalam video yang dilaporkan diambil pada hari Rabu (05/03), sekelompok pria terlihat memarahi para pelanggan di sebuah warung kopi di Garut, Jawa Barat, dan bertanya, mengapa sebagai muslim mereka minum kopi saat puasa.
Seorang pelanggan pria ditanya apakah dia seorang muslim atau tidak. Pria tersebut menjawab bahwa dia benar seorang muslim, tapi mengaku tidak sahur. Namun, pria yang menginterogasinya tidak yakin dengan jawaban itu dan menganggapnya sebagai alasan.
Pria itu kemudian bertanya kepada seorang perempuan mengapa dia menyajikan kopi selama puasa, sementara seorang pria lain marah dan menggebrak meja, menuduh pelanggan di warung tersebut tidak sopan.
Terdengar pula seseorang yang turut mempertanyakan mengapa ada yang merokok selama puasa.
Dari video, tidak ada kesan bahwa ada orang "memburu orang Kristen” seperti yang disebutkan dalam unggahan tersebut. Pria yang dimarahi dalam video tersebut adalah seorang muslim.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Siapa pengunggah video?
Akun yang mengunggah video tersebut adalah ‘Radio Genoa', kanal propaganda sayap kanan Italia yang terkenal membangun pengikut dengan menyebarkan teori konspirasi selama pandemi COVID-19. Namun kini, kanal tersebut menyebarkan misinformasi dan disinformasi tentang migran, Islam, dan/atau kejahatan yang diduga dilakukan oleh para pencari suaka di Eropa.
"Seperti stasiun propaganda lainnya, Radio Genoa tidak hanya menggerakkan pendengarnya dengan berita palsu, tetapi juga dengan campuran kebohongan, setengah kebenaran, dan fakta,” tulis surat kabar Swiss, Neue Zürcher Zeitung, dalam laporan investigasinya pada Desember 2023. "Jika berlama-lama di portal itu, seseorang akan dengan mudah mendapat kesan bahwa negara-negara Eropa sedang diserbu gerombolan orang-orang barbar.”
Respons pemerintah
Menurut laporan media lokal dan keterangan politisi setempat, para pelaku di dalam video berasal dari Aliansi Umat Islam (AUI) Garut yang pada akhirnya telah meminta maaf atas ‘aksi razia' yang viral tersebut.
Meski begitu, Menteri Sosial yang sekaligus menjabat sebagai Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf, menyesalkan insiden ini karena masih ada pihak yang bertindak main hakim sendiri saat Ramadan.
"Itu menurut saya tindakan intoleransi. Kalau razia-razia lagi. Kalau dianggap ada orang enggak puasa, biarin enggak puasa kan haknya dia. Kita enggak boleh melarang orang, memusuhi orang yang enggak puasa, enggak boleh dong,” katanya kepada DW.
"Saling ngerti, buka (warung) ya buka aja, kan ada orang yang alasan untuk biaya hidup,” tambahnya.
Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu juga menegaskan bahwa yang boleh melakukan razia hanyalah aparat pemerintah.
"Jadi yang boleh melakukan razia, segala macam, itu adalah aparat pemerintah. Yang diberi wewenang memang untuk melakukan razia. Itu dulu. Yang kedua, khusus bulan puasa, yang tidak berpuasa itu tidak hanya yang non-muslim. Banyak warga muslim sendiri karena satu dan lain hal tidak melaksanakan ibadah puasa. Misalnya orang yang sedang bepergian, dua orang yang sakit, mungkin ibu-ibu juga yang pas berhalangan. Jadi orang Islam sendiri juga banyak yang tidak berpuasa,” jelasnya.
Banyak razia dilakukan ormas, karena apa?
Dalam wawancara kepada DW, Direktur Eksekutif SETARA Institute, Ismail Hasani, tak menampik bahwa razia semacam ini banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu di masyarakat yang tak jarang turut diwarnai persekusi dan kekerasan.
"Ini bagian dari penguatan kapasitas koersif warga, di mana warga kemudian memiliki kapasitas baru untuk melakukan kekerasan, untuk melakukan persekusi,” katanya kepada DW.
"Karena faktor apa? Bisa macam-macam. Bisa karena ketidakpercayaan terhadap otoritas negara, otoritas pemerintah. Bisa juga karena ketidakpercayaan terhadap otoritas penegak hukum, atau ini yang paling banyak terjadi adalah bagian dari kontestasi perebutan otoritas keagamaan di ruang publik, ini yang terjadi,” tambahnya.
Diadaptasi dari artikel DW bahasa Inggris
Iryanda Mardanuz turut berkontribusi dalam laporan ini