“Berotak Jerman, Berhati Mekah” | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 23.04.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

“Berotak Jerman, Berhati Mekah”

Betapa senangnya, sebab akhirnya saya dapat menginjakkan kaki di Jerman, terlebih lagi di kota tempat kelahiran salah seorang idolaku Goethe di Frankfurt. Oleh: Nurman Kholis.

Bersama peneliti Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Asep Saefullah (kanan) dan Diplomat KJRI Hamburg, Tommy (kiri) di depan Museum Hamburg, Mei 2018

Bersama peneliti Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Asep Saefullah (kanan) dan Diplomat KJRI Hamburg, Tommy (kiri) di depan Museum Hamburg, Mei 2018

Tak terasa kini sudah memasuki tahun 2020. Saya pun teringat kejadian 30 tahun lalu. Waktu pertama kali saya mendengar jargon "berotak Jerman, berhati Mekah”. Saat itu, saya duduk di kelas III Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) Pesantren Daar el-Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang. Ruang kelasnya masih berlantai tanah, berdinding papan dan bambu.

Nurman Kholis

Nurman Kholis

Seingat saya, jargon tersebut muncul sejak berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Organisasi ini berdiri pada 7 Desember 1990 dan dipimpin oleh Pak Habibie yang saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi

Kata "Jerman” juga sebelumnya menjejali benakku. Hal ini karena kesebelasan negara yang saat itu masih bernama "Jerman Barat” juara Piala Dunia pada tahun 1990. Pertandingan kesebelasan ini saat mengalahkan Belanda dengan skor 2-1 di babak 16 besar, juga saya lihat melalui televisi saat mesantren. Hal ini dialami setelah saya bersama beberapa orang kakak kelas, dini hari menuju dapur. Setelah berhasil membujuk pengurus dapur, ia mengizinkan kami untuk menyalakan televisi. Beruntung, kami tidak dapat diketahui oleh Bagian Keamanan sehingga tidak terkena sanksi atas pelanggaran disiplin pesantren.

Jerman Barat pun terus melaju hingga di final mengalahkan Argentina dengan skor 1-0. Saya menyaksikannya melalui televisi di rumah saat liburan. Prestasi tersebut juga menginspirasi beberapa santri Daar el-Qolam untuk mengenakan kaos kesebelasan tersebut. Kaosnya berwarna putih bermotif tiga warna bendera Jerman yaitu, hitam, merah, dan kuning.

Setelah tiga tahun mesantren di Daar el-Qolam (1988-1991), saya pun melanjutkan ke La Tansa Cipanas Lebak Banten, cabang Daar el-Qolam. Kedua pesantren ini sama-sama didirikan oleh Kyai Ahmad Rifa'i Arief. Saya bersama 40 orang teman adalah lulusan pertama La Tansa. Kami mesantren di sana selama 3 tahun (1991-1994) dalam kondisi fasilitas dan jumlah guru masih pas-pasan.

Saat tahun pertama di pesantren ini, saya suka membeli gorengan sambil ngopi di rumah Pak Kanta yang berada puluhan meter di belakang masjid. Kesempatan ini juga suka saya gunakan untuk meminjam radionya. Saya sesekali mendengarkan siaran dari Jerman Deutsche Welle edisi bahasa Indonesia. Beruntung, dalam sekian kali saya mendegarkan siaran tersebut, tidak diketahui oleh Bagian Pengasuhan. Bagian ini bertugas menindak santri senior yang melanggar disiplin.

Setelah lulus dari La Tansa pada tahun 1994, saya disuruh ayah untuk mesantren lagi di pesantren al-Musyahadah Cilember Cimahi Bandung. Kemudian, atas saran ayah, saya melanjutkan kuliah ke jurusan bahasa Jerman D3 Universitas Padjadjaran (Unpad) yang ditempuh selama tiga tahun (1995-1998). Saya melanjutkan ke S1 hingga lulus pada Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas yang sama.

Pada tahun pertama kuliah di fakultas tersebut, Jurusan Bahasa Jerman Unpad bekerja sama dengan Goethe Institut dan Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD) menyelenggarakan ulang tahun pujangga Jerman Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) ke-250. Salah satu rangkaian acara ini adalah Lomba Penulisan Esai tentang Goethe. Saya pun menerjemahkan tugas akhir saat kuliah yang diolah kembali. Esai yang saya ikut sertakan dalam lomba tersebut berjudul "Goethe: Pujangga Jerman yang Meyakini Kebenaran Ajaran Islam”. Esai ini dinobatkan sebagai esai terbaik sehingga saya mendapatkan hadiah dan piagam. Panitia juga memamerkan esaiku pada acara HUT Goethe ke-250 yang berlangsung di Aula Universitas Padjadjaran Bandung.

Namun setelah lulus kuliah S1, keseharian saya tidak banyak berkecimpuung dengan bahasa Jerman. Hal ini sehubungan dengan pekerjaan saya sebagai guru sosiologi di almamaterku SMA Pesantren La Tansa (2001-2002) dan menjadi PNS sebagai calon auditor di Kementerian Agama selama 4 tahun (2003-2007). Saya pun selanjutnya mengajukan permohonan mutasi hingga dikabulkan dan bertugas di Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Setelah dua tahun bekerja lembaga ini, saya mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) calon peneliti di Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan (Pusbindiklat) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Saya masih ingat saat mempresentasikan makalah di LIPI tahun 2009 itu. Moderatornya adalah Pak Muhammad Rais yang kini juga menempuh karir sebagai peneliti pada Balai Litbang Agama Makassar. Saat itu, ia bilang: "nanti kita ke Jerman”. Harapannya terkabul empat tahun kemudian. Hal ini sehubungan dengan keikutsertaan saya bersama pak Rais dan enam peneliti lainnya pada shortcourse di Goethe Universitat Frankfurt pada bulan Desember 2014.

Betapa senangnya. Sebab, akhirnya saya dapat menginjakkan kaki di Jerman, terlebih lagi di kota tempat kelahiran salah seorang idolaku Goethe di Frankfurt. Meskipun hanya dua minggu (11-26 Desember 2014), kudapat menikmati berbagai hal. Selama shortcourse, kami mendapat bimbingan dari Pak Profesor Harry Harun Behr, salah seorang guru besar Universitas Frankfurt. Beliau asli Jerman yang masa remajanya pernah tinggal di Jakarta karena mengikuti pertukaran pelajar.

Nurman Kholis berfoto di Frankfurt

Enam orang peneliti Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (barisan depan) bersama Menteri Kebudayaan Negara Bagian Hessen, Prof. Dr. Alexander Lorz (tengah) serta dua orang staf dan pembimbing ​short course ​Prof. Dr. Harry Harun Behr (berkaca mata), Desember 2014.

Saat acara di luar kampus, kami juga menikmati keramahan dan kerukunan warga kota Frankfurt meskipun berbeda agama yang dianut. Hal ini sebagaimana kami alami saat berbelanja di Flohkmarkt. Di sana tampak penjual atau pembeli yang sebagiannya muslimah keturunan Turki yang berkerudung. Kunjungan kami ke pasar murah di pinggir sungai Rhein ini ditemani oleh seorang pemuda bernama Muhammad Yusuf Numair. Ia berayah Jerman dan beribu Melayu. Sejak lahir hingga bersekolah di SMA, ia tinggal di Medan. Selanjutnya, ia pun berkuliah di negeri asal ayahnya ini.

Rupanya kunjungan saya ke Jerman bukan yang pertama dan terakhir saat ke Frankfurt itu. Sebab empat tahun kemudian pada 21-27 Mei 2018, saya bersama dua orang temanku sesama peneliti yaitu kang Asep Saefullah dan mba Novita mendapatkan tugas untuk melakukan benchmarking tentang pengelolaan khazanah keagamaan di Universitas dan Musium Hamburg.

Waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Durasi waktu puasa Ramadan tahun itu di Jerman, lebih lama dari pada di Indonesia. Secara khusus di Hamburg, waktu Subuh sekitar jam tiga (03.00) pagi dan Magrib sekitar jam setengah sepuluh malam (21.30) sehingga puasanya sekitar 18 jam setengah. Selain itu, waktu dan jarak dari satu waktu salat ke waktu salat lainnya di Hamburg juga berbeda dengan di Indonesia. Dari Subuh jam 03.00, kami baru memasuki Zuhur sekitar jam satu siang (13.00), dan waktu Asar jam setengah enam sore (17.30). Magrib pada jam 21.30, dan Isya pada jam sebelas malam (23.00).

Ingatan saya tentang Jerman dan khususnya tentang Goethe setahun berikutnya juga tergali dari benakku. Hal ini sehubungan dengan undangan dari almamaterku Program Studi Sastra Jerman Unpad. Saya diundang sebagai moderator untuk berdiskusi dengan Prof. Dr. Berthold Damshäuser pada ceramah dan puisi yang dibacakannya bertema "Johann Wolfgang von Goethe—Pujangga Jerman Terbesar dan Pembangun Jembatan antara Barat dan Islam”. Acara yang berlangsung pada 24 September 2019 di kampus Unpad Jatinangor ini.

Saya pun merasa senang atas pertemuan dengan Pak Damshäuser yang biasa dipanggil "Pak Trum” ini. Apalagi profesi beliau sebagai dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Bonn, juga mengingatkan saya pada Jargon "Berotak Jerman, Berhati Mekah” (1990). Akankah suatu saat saya juga dapat menginjakkan kaki di Bonn yang belum pernah dikunjungi? Wallahu a'lam bis-shawab.

*Nurman Kholis adalah Peneliti Puslitbang LK2MO

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)

Laporan Pilihan