Menikmati Sungai Main di Kota Frankfurt | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 12.03.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

Menikmati Sungai Main di Kota Frankfurt

Banyak pilihan mainan untuk anak-anak di pinggir sungai. Orang tua senang, anaknya pun ikut senang. Sungai Main selalu membuat saya ingin pulang lagi ke Frankfurt. Oleh Indah Jelita.

Penulis di tepi sungai Main, Frankfurt

Penulis di tepi sungai Main, Frankfurt

Suasana cerah dan sejuk di musim panas menuju kemarau menyelimuti kota Frankfurt pada bulan Oktober. Cuaca yang sangat cocok untuk saya dan keluarga kecil saya untuk berjalan-jalan di pinggir sungai Frankfurt. Frankfurt merupakan kota keuangan dan perkantoran yang lumayan besar, tidak heran kalau populasinya pun sekitar 750.000 lebih. Di sini juga terkenal dengan sungainya yang bernama Sungai Main. Sehingga kota ini disebut ´Frankfurt am Main.

Sungai Main mengalir melalui Frankfurt am Main sebagai aliran utama dan jalur air federal, yang berasal dari Wetterau - aliran Nidda. Ada juga lebih dari 25 sungai dan parit lainnya di kota. Seiring waktu, banyak struktur seperti jembatan, pabrik, kunci, bendung dan pelabuhan telah dibangun di atas air.

Menariknya lagi, di pinggir sungai Main terdapat beberapa tempat untuk kita duduk santai di kursi-kursi yang telah mereka siapkan, kemudian ada taman atau rumput yang biasanya pada saat musim panas sering dijadikan tempat piknik, ada juga pastinya tempat bermain untuk anak-anak, dan bisa juga jalur di pinggir sungai Main untuk lari kecil atau hanya sekedar berjalan kaki.

Suasana di tepi sungai Main, Frankfurt, Oktober 2019

Suasana di tepi sungai Main, Frankfurt, Oktober 2019

Seru banget pokoknya untuk keluarga jalan-jalan maupun bersama teman-teman. Sungai Main juga menyediakan tur keliling kota Frankfurt bersama kapalnya. Mereka memiliki beberapa paket yang bisa kita pilih mulai dari harga termurah sekitar dari 10 -15 Euro. Tergantung dari pilihan kita mau perjalanan yang berapa menit. Tapi buat turis, ini patut banget untuk dicoba.

Sungai Main pun terkenal dengan jembatan cintanya, yaitu jembatan yang penuh dengan gembok bertuliskan inisial nama dari masing-masing pasangan kemudian digembok dan kuncinya dibuang ke sungai. Dengan harapan pasangan tersebut akan langgeng selamanya.

Hmm, ternyata banyak juga yang menentang akan hal ini. Dikarenakan semakin banyak pengunjung yang menaruh gembok akan memberatkan jembatan itu sendiri dan membahayakan bagi banyak pengunjung. Mudah-mudah semakin banyak yang sadar akan isu ini ya.

Jembatan Cinta di Frankfurt (Oktober 2016)

"Jembatan Cinta" (Oktober 2016)

Pilihan mainan untuk anak-anak juga banyak di pinggir sungai. Dari mulai bermain pasir, ayunan, perosotan, jungkit-jungkit sampai trampolin pun juga ada. Dijamin orang tuanya senang, anaknya pun juga ikutan senang di pinggir sungai Main.

Ini yang bikin saya juga jadi sering ke pinggir sungai karena jenis mainannya yang banyak dan gratis tanpa harus bayar sama sekali. Biasanya kalau si kecil sudah bahagia di´tempat bermainnya, akan sedikit susah untuk diajak pulang. Biasanya saya akan membiarkan dia bemain sampai si kecil capek sendiri, dan itu bisanya berlangsung sampai 1-2 jam.

Di kapal Primus-Linie, Oktober 2017

Di kapal Primus-Linie, Oktober 2017

Di pinggir sungai pun sering mengadakan acara-acara seperti acara tentang festival kebudayaan dari berbagai negara, pasar kaget (termasuk mainannya yang seru-seru), atau juga jual-jual barang bekas dan lain sebagainya. Hal ini yang membuat sungai Main selalu penuh dikunjungi warga lokal maupun turis. Dan ini juga yang membuat saya betah untuk tinggal lama di Frankfurt.

Sungai Main yang selalu membuat saya ingin pulang lagi ke Frankfurt walaupun warga negara saya masih dan selamanya Indonesia.

*Indah Jelita adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 2 anak dan tinggal bersama keluarganya di Frankfurt, Jerman

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)

Laporan Pilihan