Jerman, Tunggu Aku Ya… | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 26.02.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

Jerman, Tunggu Aku Ya…

Setiap hari saya mencari tahu tentang Jerman hingga saya selalu menggambar bendera negara Jerman di setiap buku dan tembok kamar. Impian saya suatu saat dapat menginjakkan kaki di Jerman. Oleh Raizha Ayyuma.

Foto ilustrasi kursus bahasa Jerman

Foto ilustrasi kursus bahasa Jerman

Siapa yang tidak mengenal Jerman? Pendidikan di Jerman sudah tidak perlu diragukan lagi, Jerman menduduki peringkat 15 besar negara dengan pendidikan terbaik di dunia menurut The Social Progress Imperative. Berbagai tawaran beasiswa ke Jerman pun saat ini menjadi incaran bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studinya di Jerman. Termasuk saya.

Orang pasti langsung tertuju pada tempat menuntut ilmu sang ilmuwan Indonesia sekaligus mantan Presiden Indonesia yaitu Pak Habibie. Jerman juga terkenal dengan berbagai inovasi dan kemajuan teknologinya. Tak heran banyak warga Indonesia yang berbondong-bondong menuntut ilmu di negeri ini.

Raizha Ayyuma

Raizha Ayyuma

Awal kali mengenal Jerman dari piala dunia 2014. Kala itu Jerman menjuarai piala dunia 2014. Hal itu membuat saya keranjingan dengan negara ini. Setiap hari saya mencari tahu tentang Jerman hingga saya selalu menggambar bendera negara Jerman di setiap buku dan tembok kamar. Bukannya tidak cinta dengan negara sendiri, namun saya mempunyai impian agar suatu saat dapat menginjakkan kaki di Jerman.

Sampai pada akhirnya saat saya di kelas tiga SMA, saya harus memilih kuliah yang tepat untuk diri saya. Dari awal SMA saya selalu berpikir dan mencari tahu program studi apa yang bisa membawa saya ke Jerman nantinya. Waktu itu saya berpikir mungkin jurusan teknik ataupun yang berbau IT.

Sayangnya kemampuan saya di bidang ilmu eksak tak mumpuni. Hingga waktu itu saya sempat galau tak kunjung usai. Lalu saat saya belajar sejarah dunia, saat itu tentang perang dingin, di mana Jerman waktu itu dikuasai dua negara adidaya dan terpecah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur. Saya mencari tahu tentang sejarah dan kebudayaan Jerman sampai akhirnya google menampilkan situs web dari universitas bertuliskan "Program Studi S1 Sastra Jerman.”

Setelah melakukan riset tentang jurusan tersebut hati saya semakin mantap untuk memilih Sastra Jerman. Bagi saya mata kuliah yang sangat menarik untuk dipelajari dan pada dasarnya saya suka mempelajari bahasa asing. Akhirnya saya ikut tes SBMPTN dan dinyatakan lolos di prodi yang sangat saya inginkan.

Setelah menjalani kuliah 1 semester, saya merasa sangat senang dan enjoy. Meskipun saya belum punya dasar sama sekali dalam berbahasa Jerman. Tetapi para dosen selalu memberi semangat bahwa banyak yang masuk dan mulai dari nol. Ya memang, kami yang belum mendapat basic bahasa Jerman belajar mulai dari awal, bahkan dimulai dari cara membaca alfabet Jerman.

Mahasiswa jurusan Sastra Jerman di Surabaya

Mahasiswa jurusan Sastra Jerman di Surabaya

Selain materi kuliah para dosen juga tak sering membagikan kisahnya ketika dulu studi di Jerman. Hal ini setiap harinya memotivasi tekda saya untuk ke Jerman dikemudian hari. Saat ospek kemarin, kakak tingkat memberikan tugas yang selalu berhubungan dengan Jerman, sampai atribut yang kita gunakan pun menyerupai bendera Jerman.

Tapi sebagian orang memandang remeh jurusan ini dan saya juga pernah dengar omongan: "Jerman itu terkenal teknologinya jadi kalau mau lanjut di Jerman dengan prodi sastra atau kebudayaan itu jarang dan susah." Saya hanya membalas dengan senyuman.

Meskipun Jerman terkenal dengan teknologi, Jerman juga sangat mengapresiasi karya seni dan sastra. Terbukti banyak gedung opera berdiri di Jerman. Para sastrawan terkenal juga terlahir di Jerman seperti Johann Wolfgang von Goethe. Di prodi ini pula saya bisa mendalami tentang kebudayaan Jerman. Karena sejatinya sastra tak hanya belajar tentang puisi dan novel tetapi seluruh aspek negara Jerman, baik sosial, budaya, maupun politik. Dengan belajar Sastra Jerman saya berharap dapat lanjut studi ke Jerman dan kembali membawa sumbangsih yang baik untuk Indonesia.

Seperti yang selalu dikatakan oleh salah satu dosen saya: "Mahasiswa Sastra Jerman wajib ke Jerman ya nantinya!" Kalimat itu yang mendorong saya untuk selalu semangat belajar agar bisa melanjutkan studi di Jerman.

Maka saat ini saya berjuang memperlancar Bahasa Jerman terlebih dahulu. Kisah-kisah inspiratif kawan yang sudah berhasil ke Jerman juga selalu menginspirasi dan semakin memberi semangat.

Jerman, tunggu aku ya!

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)

Laporan Pilihan