Berhijab Atau Tidak: Atlet Muslimah Hadapi Nasib Serupa di Asia | Mukalama | DW | 04.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

olahraga

Berhijab Atau Tidak: Atlet Muslimah Hadapi Nasib Serupa di Asia

Atlet muslimah di Asia menghadapi kritik atas pakaian olahraga yang mereka kenakan. Berhijab pun terkadang masih tetap kena sasaran kritik. Beberapa di antara mereka juga menghadapi diskriminasi gender.

Mengenakan hijab seharusnya sudah cukup bagi Aries Susanti Rahayu. Namun meski demikian, atlet panjat tebing Indonesia itu tetap saja kerap mendengar bisikan-bisikan nyinyir tentang hijab yang dikenakannya saat berolahraga. "Saya kadang-kadang merasa seperti telanjang karena pakaian kami agak ketat. Seperti pakai legging kan ketat. Itu yang mungkin sering menjadi bahan omongan," kisahnya kepada DW. "Saya tidak pedulikan celotehan itu karena saya tahu batas perilaku seorang wanita muslim."

Meski bertabur sukses, perempuan di Asia seringkali harus menghadapi tekanan sosial terkait pakaian yang mereka kenakan.

Kecepatannya memanjang dinding membuahkan julukan "perempuan laba-laba" atau "spiderwoman" bagi Aries. Dia memenangkan medali emas pada Kejuaraan Piala Dunia di Cina pada 2019 lalu. Setahun sebelumnya dia menyabet tiga medali emas sekaligus. Belum lama ini Aries memecahkan rekor dunia memanjat tebing dengan waktu 6,9 detik. Kurang dari tujuh detik!

Hal serupa misalnya turut dialami pelatih sepak bola perempuan pertama di Bangladesh. Mirona tidak mengenakan jilbab. Namun hal itu tidak menyurutkan komitmennya untuk menunaikan ibadah secara rutin sesuai ajaran agamanya. "Ketika saya mulai latihan, penonton di luar pagar biasanya menggoda saya dengan kata-kata provokatif. Mereka melakukannya karena kami mengenakan pakaian pemain. Kata-kata mereka itu 'membunuh' saya. Seringkali saya berpikir untuk tidak kembali ke lapangan," kisah Mirona saat diwawancara DW.

Selama enam tahun dia merumput untuk tim nasional perempuan. Hanya karena kecintaannya pada sepakbolalah yang membuat Mirona urung pensiun hingga kini. Dan kegigihannya itu membuahkan hasil. "Sekarang orang-orang memberi saya ucapan selamat jika cerita atau wawancara saya disiarkan oleh media," imbuhnya.

Lebih dari setahun yang lalu, Mirona mencatat sejarah saat diangkat sebagai pelatih perempuan pertama untuk sebuah klub sepakbola pria. Klub liga kedua, Dhaka City FC, menggaetnya di penghujung 2018 silam.

Bangladesh dan Indonesia memiliki populasi kaum muslim yang hampir separuhnya adalah perempuan. Namun angka keikutsertaan perempuan di dunia olahraga masih jauh di bawah kaum pria.

Kehidupan antara olahraga dan jilbab

Dilahirkan pada tanggal 21 Maret 1995 di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Aries Susanti sudah gemar memanjat pohon di usia kecil. Karirnya sebagai atlet baru dibibit saat dia duduk di bangku sekolah menengah atas.

Namanya menjulang ketika ikut Kejuaraan Dunia IFSC tahun 2017 dan memenangkan medali perak. Di tahun yang sama dia merebut juara ketiga pada Kejuaraan Asia di Teheran, Iran.

Tonton video 03:06

Manusia Kurang dari Tujuh Detik

Popularitas Aries melonjak ketika dia memenangkan medali emas pada Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Dan setelah memenangkan Piala Dunia 2018, dia menempatkan diri di puncak karir sejak dini. Padahal tidak sedikit yang kesulitan menyeimbangkan karier dengan tuntutan agama untuk menutup aurat. "Buat saya jilbab adalah identitas dan kewajiban sebagai perempuan muslim untuk menutup diri ketika dewasa," kata dia. "Bahkan di dunia olahraga pun, yang penting buat saya adalah menutupi tubuh saya dengan jilbab."

Bagi Rahayu, jilbab adalah masalah pilihan. "Yang paling penting adalah saya tidak menyakiti orang lain. Saya juga ingin mengenakan jilbab sepenuhnya seperti banyak wanita muslim lainnya, tetapi itu hanya mungkin jika Tuhan menunjukkan jalannya nanti. Saat ini, saya masih berolahraga.”

Alamsyah M. Djafar, seorang sarjana Islam dari Indonesia mengatakan bahwa orang harus menghormati pilihan pakaian perempuan: "Kita harus menghargai pandangan mereka dan menghargai pilihan mereka, jika itu dilakukan dengan kehendak mereka sendiri,” kata Djafar kepada DW. Jika mereka ingin berolahraga, mereka pun sebaiknya diberikan kebebasan. "Islam juga tidak melarang perempuan berolahraga. Sebab Islam mengajarkan menjaga kesehatan merupakan perintah dalam Islam,”imbuhnya.

Baca ke halaman berikutnya.

Halaman 1 | 2 | Artikel lengkap

Laporan Pilihan

WWW Link

Audio dan Video Terkait