Bahaya Asap Kebakaran Hutan dan Asap Vulkanik Bagi Paru-paru | Sosial | DW | 21.01.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Asap dan Abu

Bahaya Asap Kebakaran Hutan dan Asap Vulkanik Bagi Paru-paru

Bagaimana tubuh kita bereaksi terhadap paparan asap dari kebakaran hutan dan abu vulkanik seperti yang terjadi di Australia dan Filipina? Apakah menggunakan masker benar-benar bisa membantu kita?

Abu vulkanik komposisi utamanya adalah partikel kristal batuan dan kaca yang padat dan hanya berukuran beberapa milimeter, yang terbentuk ketika gunung memuntahkann magma. Selain itu, letusannya melepaskan karbon dioksida dan sulfur dioksida dalam jumlah besar yang menguap ke angkasa bersama debu dan membentuk awan hitam tebal.

Debu dari abu vulkanik dapat menyebabkan batuk kering, kesulitan bernafas, membuat mata berair dan menjadi merah, hidung gatal dan bersin-bersin.

Semakin kecil, semakin berbahaya

Semakin kecil partikel yang dihempaskan ke udara, semakin berbahaya abu tersebut. Partikel yang besar memang menyebabkan batuk ketika terhirup, tapi partikel-partikel ini tidak terus masuk ke organ bagian dalam karena masih dapat ditangkap oleh selaput lendir.

Partikel-partikel yang lebih kecil bisa masuk hingga ke bronkus atau cabang batang tenggorokan yang menyambungkan antara trakea dan paru-paru. Dari bronkus partikel-partikel ini bisa didorong keluar lagi oleh rambut-rambut halus pada jaringan epitel, dan keluar lewat batuk. Namun partikel-partikel yang berukuran di bawah 4 mikrometer dapat menembus hingga ke alveolus yang merupakan ujung dari saluran pernafasan. Ini dapat menyebabkan kerusakan paru-paru permanen.

Orang-orang yang menderita penyakit paru-paru atau asma harus sangat berhati-hati pada paparan abu vulkanik. Orang dewasa yang sehat, memiliki risiko rendah terjangkit penyakit paru-paru bila tidak banyak melakukan aktivitas di luar dan selalu memakai masker pelindung.

Baca juga:Mengenal Gunung Api Taal di Filipina dan Terjadinya Petir Saat Erupsi 

Kombinasi asap dan panas di Australia "sangat berbahaya" 

Sementara kondisi udara yang tercemar oleh kebakaran hutan di Australia sebagian tergolong sangat buruk. Demikian petugas jawatan kesehatan di Berlin. Asap yang menusuk saat dihirup membuat iritasi pada saluran pernafasan. "Selaput lendir bisa sangat teriritasi karena asap mengandung konsentrasi debu halus dan gas yang beracun," kata spesialis paru-paru Leif Sander dari Rumah Sakit Charite, Berlin. Para korban menderita batuk dan kesulitan bernafas, hidung serta mata berair. Tergantung seberapa dekat dan kuat sumber api itu, orang-orang sekitar sumber api berisiko keracunan asap.

Dokter ahli paru-paru dari Berlin menilai partikel dengan ukuran kurang dari 2,5 mikrometer sangat berbahaya: partikel sekecil ini bisa masuk ke alveolus dan mungkin juga masuk ke dalam darah dan menyebabkan penyakit jangka panjang.

Dari berbagai daerah di dunia, di mana penduduknya masih banyak memasak dengan api terbuka, ditemukan penyakit yang mirip dengan penyakit yang diidap orang-orang yang terpapar polusi udara atau merokok setiap harinya.

Baca jugaKebakaran Hutan Buat Anak-anak Tumbuh Lebih Pendek

Risiko untuk ibu hamil, anak kecil dan penderita asma

Para ahli mengatakan bahwa pada orang dewasa, paru-paru dapat melakukan regenerasi setelah terpapar oleh asap secara akut. "Ibu hamil dan para orang tua dengan anak kecil saya sarankan, bila memungkinkan, untuk benar-benar menjauhkan diri dari kawasan yang terpapar asap dan abu secara berat," ujar Sander. Orang dewasa, khususnya dengan penyakit paru-paru akut, dianjurkan menggunakan masker spesial yang benar-benar melindungi penggunanya dari abu saat bernafas.

Para penderita asma dapat kambuh bila mereka sesak nafas. Yang juga menghadapi risiko tinggi dalam situasi seperti itu, adalah para penderita penyakit saluran udara obstruktif kronis (PSUOK) atau fibrosis paru.

Selain asap, panas ekstrem juga memengaruhi orang-orang di Australia. Asap ditambah panas adalah "bahaya kesehatan yang luar biasa," kata Sander. "Suhu ekstrem adalah beban tambahan, terutama untuk pasien yang sakit kronis." (pn/as)

Baca juga2019: Tahun Bangkitnya Kesadaran dan Aksi Protes Perubahan Iklim

Laporan Pilihan