Memaknai Peringatan Holocaust dalam Situasi Saat Ini | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 21.01.2022

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Jerman

Memaknai Peringatan Holocaust dalam Situasi Saat Ini

Pada tahun 1942, para pemimpin Nazi bertemu di sebuah vila untuk merencanakan Holocaust. Dan 80 tahun setelah Konferensi Wannsee, Deborah Hartmann masih melihat hubungan peristiwa tersebut dengan masyarakat saat ini.

House of the Wannsee Conference

House of the Wannsee Conference menawarkan lokakarya untuk bidang profesional tertentu

Pada 20 Januari 1942, 15 pemimpin Nazi bertemu di sebuah vila tepi danau di Wannsee, pinggiran Berlin. Dalam pertemuan selama 90 menit, yang kemudian dikenal sebagai Konferensi Wannsee, mereka membahas penerapan "Solusi Akhir untuk Masalah Yahudi," sebuah kode resmi untuk pembunuhan sistematis orang Yahudi selama Perang Dunia II.

Saat ini, vila tersebut berfungsi sebagai museum dan pusat peringatan dan pendidikan Holocaust, dengan pameran permanen.

Bagi Deborah Hartmann, Direktur House of the Wannsee Conference, pusat peringatan tidak hanya melambangkan apa yang terjadi pada 20 Januari 1942, tetapi juga melambangkan keengganan Jerman pascaperang untuk menangani Holocaust. Adalah sejarawan dan penyintas Auschwitz Joseph Wulf yang mengusulkan pada tahun 1965 untuk mengubah visa Wannsee menjadi pusat peringatan dan penelitian Holocaust.

Deborah Hartmann

Deborah Hartmann, Direktur House of the Wannsee Conference

Namun, pada saat itu para politisi menentang proyek tersebut dan vila itu digunakan sebagai kamp untuk kelompok sekolah.

Menghadapi ancaman pembunuhan dan kehilangan harapan bahwa pemerintah akan mengejar dan menghukum penjahat perang Nazi, Wulf akhirnya meninggal karena bunuh diri pada tahun 1974.

Proyek ini kemudian diluncurkan kembali pada 1980-an, dan baru pada 20 Januari 1992, pada peringatan 50 tahun Konferensi Wannsee, vila itu resmi menjadi tempat peringatan dan museum.

Joseph Wulf

Sejarawan dan penyintas Auschwitz Joseph Wulf menulis beberapa buku tentang Nazi Jerman dan Holocaust

Melalui penelitiannya, Joseph Wulf bermaksud untuk menunjukkan kesinambungan pascaperang dalam hal struktur kekuasaan dalam posisi politik dan kepemimpinan Jerman Barat, jelas Hartmann. Perjuangan selama puluhan tahun untuk mengkonfrontasikan masyarakat dengan apa yang sebenarnya telah terjadi adalah sesuatu yang menurutnya sangat mengharukan.

"Kontinuitas" adalah istilah yang sering digunakan Hartmann ketika membahas karyanya sendiri, karena dia melihat pekerjaan mengingat Holocaust tidak hanya berlabuh pada peristiwa masa lalu, tetapi sebagai proses berkelanjutan yang perlu menunjukkan bagaimana sejarah terhubung dengan sikap hari ini.

Pekerjaan yang membutuhkan kejujuran

Dengan menunjukkan salah satu dari kontinuitas itu, Hartmann sebenarnya menyebabkan insiden diplomatik kecil pada tahun 2018.

Sebelum menjadi Direktur Dewan Konferensi Wannsee, Hartmann adalah Kepala Sekolah Internasional untuk Studi Holocaust di Desk Jerman Yad Vashem. Cendekiawan kelahiran Wina itu juga menjadi pemandu bagi delegasi resmi dari negara-negara berbahasa Jerman yang mengunjungi monumen resmi Israel untuk para korban Holocaust.

Selama tur dengan Kanselir Austria saat itu, Sebastian Kurz, dia mengkritiknya karena menggembar-gemborkan dedikasinya untuk mengingat Shoah dan memerangi antisemitisme, sambil membentuk koalisi dengan Partai Kebebasan Austria (FPÖ), yang mencakup politisi yang "secara terbuka antisemitisme," ujar Hartmann.

Pernyataannya memicu kemarahan di kalangan diplomatik, membuat Yad Vashem meminta maaf kepada duta besar Austria di Israel. Namun, bahkan jika konflik kecil itu berarti mempertaruhkan pekerjaannya, Hartmann percaya "dia tidak akan melakukan sesuatu yang berbeda hari ini, karena entah bagaimana kita harus jujur pada diri kita sendiri."

Lokasi pelaku untuk mengenang para korban

Kakek buyut Hartmann dideportasi dari Wina dan dibunuh selama Holocaust, tetapi dia tidak percaya identitas Yahudinya sendiri harus menjadi sorotan ketika membahas perannya sebagai direktur pusat peringatan.

"Mengapa saya sekarang ditanya tentang fakta bahwa saya orang Yahudi?" dia bertanya-tanya. "Tentu saja saya mengerti bahwa ini menarik, tetapi pada saat yang sama, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pertanyaan itu? Apakah karena masih sangat tidak biasa atau luar biasa? Apakah karena masih belum ada normalitas di antara orang Jerman dan Yahudi?"

"Jelas sejarah keluarga seseorang selalu bergema di latar belakang," tambahnya, tetapi seperti orang lain dalam konteks seperti itu, dia berhasil menjauhkan diri dari latar belakang itu untuk pekerjaannya. "Tapi tentu saja, penting juga bagi saya bahwa perspektif Yahudi dan pengalaman Yahudi dari masa lalu dan sekarang dibuat terlihat."

Bagi Hartmann, meskipun rumah besar Wannsee menampung para pelaku, tindakan mereka hanya dapat dipahami dengan mengingat perspektif para korban. "Tidak ada pelaku tanpa korban dan tentunya tidak ada korban tanpa pelaku,” tegasnya.

Bersamaan dengan pameran permanen pusat tersebut, House of the Wannsee Conference juga menawarkan lokakarya untuk bidang profesional tertentu, seperti petugas polisi atau staf rumah sakit, yang memungkinkan mereka untuk melihat pertanyaan, "Apa yang dilakukan kelompok profesional seperti saya saat itu; apa sikap mereka?" jelas Hartmann.

Mereka juga memeriksa bagaimana beberapa praktik era Nazi masih digunakan sampai sekarang, misalnya dalam bahasa administratif yang digunakan dalam protokol.

Teori konspirasi anti-vaksin terkait dengan antisemitisme

Peristiwa terkini juga menunjukkan bahwa ide-ide dari zaman itu masih mempengaruhi orang-orang sampai sekarang.

Tahun lalu, anggota gerakan anti-vaksin, yang dikenal di Jerman sebagai gerakan "Querdenker", menunjukkan kehadiran mereka dengan meninggalkan pamflet di museum dan menulis komentar di buku tamu pusat peringatan, membandingkan pembatasan COVID-19 saat ini dengan Nazi.

"Gerakan Querdenker didasarkan pada teori konspirasi, jadi tentu saja ada hubungan yang sangat erat dengan pemikiran antisemitisme," kata Hartmann.

"Dan tentu saja kami juga memiliki tugas, sebagai pusat peringatan, untuk memperjelasnya dan melakukan sesuatu."

Namun, bisakah pusat peringatan Holocaust seperti House of the Wannsee Conference melawan teori konspirasi dan partai sayap kanan seperti AfD?

"Pesannya tidak selalu tersampaikan, tetapi kita harus mencoba menjangkau orang-orang yang siap berbicara dengan kita," kata Hartmann. "Ini mungkin tidak berhasil melalui pendidikan sejarah, tetapi di sini juga kita dapat menunjukkan kontinuitas dalam kepercayaan, dengan memperjelas bahwa teori konspirasi adalah bagian yang sangat penting dari antisemitisme."

Meskipun upaya seperti itu secara realistis "hanyalah upaya", tetapi masih patut dicoba.

(ha/hp)

Laporan Pilihan