Afrika Tuntut Ganti Rugi dan Standar Minimal | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 21.09.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Afrika Tuntut Ganti Rugi dan Standar Minimal

Desember mendatang akan diadakan perundingan tentang perubahan iklim dan kelanjutan Protokol Kyoto di Kopenhagen. Pada kesempatan itu Afrika akan mengajukan tuntutan. Untuk itu mereka menyepakati posisi bersama.

default

Negara-negara Afrika sadar sepenuhnya akan masa depan iklim global, bahwa benua mereka menghadapi masalah sangat besar. Simulasi perubahan iklim, yang dibuat berdasarkan perkembangan selama ini, menunjukkan bahwa perubahan cuaca yang ekstrim akan terjadi, baik hujan lebat atau kekeringan dalam waktu lama. Akibatnya, padang gurun akan tambah luas, tanah yang subur akan terus berkurang dan kondisi hidup semakin berat.

Premierminister Zenawi Meles von Äthiopien

PM Ethiopia, Meles Zenawi

Sekarang saja Afrika sudah menjadi benua yang paling menderita akibat dampak perubahan iklim. Padahal Afrika tidak menjadi penyebab utamanya. Ini dibenarkan laporan terakhir Bank Dunia, yang menyoroti dampak perubahan iklim terhadap daerah gurun Afrika.

Afrika Menuntut

Meles Zenawi, Perdana Menteri Ethiopia, berbicara atas nama Uni Afrika. Menurutnya Afrika tidak dapat mengatasinya sendirian. "Kami akan hidup dengan kerusakan yang terjadi akibat pemanasan Bumi yang tidak dapat dihindari. Dan kami menuntut ganti rugi serta pertolongan untuk membatasi kerusakan ini," demikian Zenawi. Negara-negara Afrika bersama-sama menuntut, agar mereka mendapat bantuan sekitar 47 milyar Euro per tahunnya. Di samping itu mereka meminta negara-negara industri maju agar menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 40% hingga tahun 2020.

Flash-Galerie Dürre in Ostafrika Fluten in Westafrika

Gambar simbol: kekeringan di Afrika Timur (kiri) dan banjir di Afrika Barat

Sebagai bandingannya, Komisi Eropa memperkirakan dana sebanyak 100 milyar Euro harus diinvestasikan di seluruh dunia setiap tahunnya untuk mencegah perubahan iklim. Di samping itu dibutuhkan juga dana puluhan milyar Euro untuk mengantisipasi perubahan iklim. Sven Harmeling, pakar iklim dan pembangunan pada lembaga Jerman Germanwatch, menilai tuntutan Afrika sepadan. Menurut pakar pada badan yang mengurus perkembangan sosial yang adil serta ekologis itu, Afrika memang harus bersatu, karena jika jumlah emisi tidak dikurangi, hidup manusia dan pembangunan di beberapa wilayah Afrika tidak terjamin lagi.

Posisi Bersama Afrika

Negara-negara Afrika akan menetapkan posisi pada perundingan mendatang. Mereka mengancam akan keluar dari perundingan soal iklim, jika negara-negara industri maju tidak bersedia mengurangi emisi gas rumah kaca. Demikian dinyatakan Perdana Menteri Ethiopia, Meles Zenawi.

Ia menekankan, "Oleh sebab itu, kami tidak akan pernah menerima kesepakatan global, yang tidak mengikutsertakan pengurangan pemanasan Bumi, hingga jumlah minimal yang tidak bisa dilanggar. Berapapun jumlah ganti rugi dan bantuan yang dijanjikan bagi kami.

UN Klimaverhandlungen in Accra

Seorang perempuan Ghana dengan anaknya mendengarkan penyuluhan seorang pekerja organisasi WWF

Kami akan menggunakan jumlah suara kami untuk mencegah kesepakatan apapun, yang tidak sesuai dengan tuntutan minimal kami. Jika perlu, kami siap keluar dari perundingan manapun, yang akan mengancam dan mengeksploitasi benua kami."

Namun para pemimpin negara-negara Afrika juga sadar, bahwa mereka perlu sekutu untuk menghadapi negara berpengaruh besar seperti AS atau Cina. Saat ini mereka sedang merumuskan pernyataan bersama. Sekuat apakah kemampuan Afrika dalam tawar-menawar? Menurut Sven Harmeling dari Germanwatch, itu sulit diperkirakan. Tetapi ia menekankan, negara-negara industri maju tidak dapat mengambil risiko menandatangani perjanjian yang kemungkinan tidak disetujui oleh 40 negara Afrika. Itu akan menyebabkan gagalnya perundingan di Kopenhagen, demikian Harmeling. Oleh sebab itu tuntutan Afrika harus ditanggapi dengan serius.

Miriam Lindenroth / Marjory Linardy

Editor: Ging Ginanjar

Laporan Pilihan