1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Sinema Indonesia Butuh Pertolongan

Problem terbesar dunia perfilman Indonesia adalah tidak adanya aturan yang bisa mendukung perkembangan industri sinema. Sutradara Andibachtiar Yusuf menyampaikan pendapatnya tentang masalah ini.

“Banyak cerita asli Indonesia yang pantas diangkat ke layar lebar, belum lagi keindahan alam kita yang mempesona adalah potensi yang tak ada habisnya,” ini adalah kalimat yang jika ia adalah website maka ialah pemilik rekor mendapat klik tertinggi! Nyaris dari semua orang yang pernah bertemu dengan saya baik di masa kini saat saya adalah seorang pekerja film atau di masa lalu saat saya masih sekedar penonton setia sinema dari manapun itu. Kalimat yang terus berdengung bahkan sejak saya masih SD.

Semudah itulah saat kita berbicara tentang sebuah karya sinema, karena memang pandangan seperti kalimat pembuka diatas adalah sebuah kepantasan. Indonesia jelas sungguh kaya dengan cerita-cerita rakyat yang beredar dari Sabang sampai Merauke (setara jarak Belfast ke Teheran). Alam kita walau tidak terlalu beragam, tapi karena ukurannya yang besar menjadi relatif jauh punya lebih banyak keindahan alam tropis dibanding banyak negara tropis lainnya.

Dua modal yang sungguh memikat, karena Amerika Serikat sampai harus menggali kisah-kisah dari Eropa untuk bisa menghasilkan karya sinema yang baik. Tapi apa iya semudah itu? Jika semudah itu saya jamin kisah Perang Bubat atau kisah klasik Sabai Nan Aluih sudah lama beredar di layar sinema kita. Karena nyatanya cara berpikirnya jadi tidak semudah itu.

Symbolbild Kino Flash

Industri film akan berkembang baik jika didukung aturan pemerintah yang baik untuk mendukung perfilman

“Disana batasan mereka adalah ide, disini batasnya budget!” ujar Angga Sasongko seorang Sutradara muda dengan ketus. Ia jelas ada benarnya, walau kadang budget bukan alasan pada sebuah karya yang buruk tapi bahwa ide di masyarakat kita selalu ada batasnya, jelas ada benarnya. Belum lagi di negeri ini praktis tidak ada mekanisme film commission yang jelas. Tak ada sebuah pemerintahan daerah yang memberikan fasilitas ini kepada industri perfilman baik nasional maupun dunia.

Selanjutnya

Laporan Pilihan