1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Macan Asia?

Apa yang tersisa dari nostalgia? bagaimana melihat Sepakbola kita pada masa lalu yang katanya pernah jaya? Sutradara sekaligus pengamat Sepakbola Andibachtiar Yusuf membagi pandangannya kepada anda.

“Tahun 1964 Stadion ini sudah digunakan untuk Olimpiade, tapi tim Sepakbola kami kalah, baru 1968 kami dapat perunggu,” ujar Narito Fukushima, Direktur Festival Film Sepakbola Yokohama yang menemani saya melihat-lihat Stadion Olimpiade negaranya tersebut. Saat itu satu tahun yang lalu dan saya memang sama sekali tidak awas dengan sejarah bahwa Jepang ternyata pernah menguasai medali perunggu Olimpiade di saat (katanya) Indonesia sedang menjadi macan di benua Asia.

Saya sendiri tidak terlalu paham prestasi apa yang sedang dipegang negeri ini di era 1960an. Kabarnya tim nasional kita saat itu sering bertanding di negeri orang dan berhadapan dengan misalnya FC Koeln atau Borussia Moenchengladbach. Salah satu pemain di era tersebut, Max Timisela pernah berkata pada saya “Saya nyaris dikontrak FC Koeln, tapi saat itu dilarang oleh Bung Karno,” kisahnya di sebuah pertemuan tak sengaja di sekretariat Persib Bandung beberapa tahun silam. Ia juga bercerita tentang konser The Beatles di kota Koeln yang sempat ia saksikan dan tentu membuat saya iri.

“Dulu Indonesia adalah Macan Asia!” demikian kata banyak orang-orang tua bahkan generasi muda yang saya sendiri tidak pernah tahu mendapatkan referensi dari mana. Karena bahkan di Asian Games 1962 di kandang sendiri saja kita gagal merebut satupun medali Sepakbola dan praktis Sepakbola kita masih sangat amatir dan berbentuk bond.

“Junaidi Abdillah itu luar biasa!” demikian ujar seseorang yang saya lupa namanya di Dhaka sekitar 3 tahun silam. Lelaki paruh baya ini menyaksikan sendiri aksi tim nasional Indonesia saat meremukkan negeri mereka Bangladesh sekaligus menaklukkan Malaysia dan Srilanka untuk menjadi juara di turnamen yang sebenarnya lebih menonjolkan lomba ketangkasan kuda dan polo ketimbang turnamen Sepakbolanya….yang memang sama sekali tidak populer di Bangladesh.

Tentu lelaki itu terpesona melihat aksi Junaidi Abdillah dkk di saat itu. Karena menurutnya “Sepakbola adalah hal baru disini saat itu, bahkan saat ini rasanya nyaris tidak ada orang yang benar-benar bermain Sepakbola,” lalu saya teringat pada lawan-lawan tim kita di penghujung 1970an itu. Semuanya adalah lawan yang jika dipertemukan dengan kita saat ini juga harusnya bisa kita taklukkan.

Klik untuk membaca lanjutan artikel.

Laporan Pilihan