Siapakah Muqtada al Sadr, Imam Syiah Irak Paling Berpengaruh? | dunia | DW | 15.05.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Siapakah Muqtada al Sadr, Imam Syiah Irak Paling Berpengaruh?

Al Sadr disebut-sebut militan anti Amerika, juga reformator dan harapan baru bagi Irak. Antara lain karena memimpin perang terhadap pasukan AS dan menang pemilu. DW menengok kembali langkah-langkahnya dalam politik Irak.

Sabtu lalu pemilu digelar di Irak. Hasil penghitungan suara yang diumumkan Senin kemarin amat mengejutkan. Blok yang dipimpin imam Syiah populer , Muqtada al Sadr meraih mayoritas suara.

Bloknya mempersatukan kaum Syiah dan komunis tak beragama di bawah sebuah bendera bersama, yang mengusung reformasi Irak. Kemenangan al Sadr dalam pemilu. menjadi kulminasi upaya bertahun-tahun yang untuk memberantas korupsi dan ketidakmampuan pemerintah untuk mengatur negara.

Tapi yang jelas, al Sadr tidak mengikuti haluan politik "mainstream". Gerakan politiknya sektarian, dan bersifat tidak nasionalis. Iman Syiah itu sering mengambil langkah yang mempertajam perpecahan.

Seorang nasionalis Irak

Sejauh ini, tidak ada pemimpin yang melawan pendudukan AS di Irak seperti al Sadr. Juni 2003, ia membentuk Laskar Mahdi sebagai alat untuk memerangi kekuatan pendudukan asing, dan akhirnya berhasil mengusir serdadu AS sepenuhnya untuk hengkang dari Irak.

Baca juga:

Muqtada al-Sadr Serukan Perlawanan Terhadap AS di Irak

 Laskar Mahdi Soraki penarikan Pasukan Inggris

"Al Sadr memperjelas lewat retorika dan gayanya, bahwa yang paling utama, ia adalah seorang nasionalis Irak, tidak mengikuti kekuasaan asing apapun, baik Iran, AS atau negara lain," demikian dikatakan Thanassis Cambanis dari tangki pemikir Century Foundation.

Laskar Mahdi tidak terdeteksi radar AS hingga 2004, di saat laskar ini bentrok dengan pasukan AS di kota Najaf, di Irak selatan. Bentrokan menyulut serangan lebih besar di seluruh Irak, yang menarget pasukan AS.

Ketika itu pasukan AS diperintahkan untuk menangkap Mukqada al Sadr hidup maupun mati. George W. Bush yang ketika itu menjadi presiden AS, mencap al Sadr dan pengikutnya sebagai "melawan demokrasi".

Baca juga: Bush Perpanjang Perang Irak - Al Sadr Muncul Kembali

 

Tokoh paling berbahaya di Irak

Laskar Mahdi tidak hanya menarget tentara AS. Di masa aktifnya, milisi itu juga menyerang kelompok Syiah lain dan warga Irak dari mazhab Sunni. Laskar Mahdi dituduh melakukan kekejaman dengan mengerahkan pasukan pembunuh, dan memicu pertempuran antar kelompok. Majalan berita AS Newsweek pada 2006 menempatkan foto al Sadr di sampulnya dan menyebutnya "pria paling berbahaya di Irak".

Baca juga:

Irak: Al Sadr Abaikan Ancaman Al Maliki

Irak Sambut Baik Pernyataan Ulama Syiah Moqtada al-Sadr

Gerakan Muktada al Sadr Tarik Mundur Dukungannya Untuk Aliansi Irak Bersatu

Tetapi Laskar Mahdi mulai kehilangan dukungan tahun 2007, terutama setelah 50 peziarah Syiah tewas pada saat bentrokan dengan kelompok militan Syiah lainnya di Karbala. Tahun berikutnya, als Sadr memerintahkan milisinya untuk meletakkan senjata. Sejumlah pejuangnya tetap dipertahankan sebagai pasukan elit. Sementara yang lainnya diberi tugas di bidang sosial, seperti mengajar baca al Quran, pembangunan dan pengumpulan sampah di daerah-daerah Syiah.

Baca juga: Laskar Mahdi Dibekukan

Tahun 2008, al Sadr hengkang ke Iran, dan menetap dalam pengucilan di negara itu. Tapi ia tetap memberi komando kepada pengikutnya dan menggunakan pengaruhnya untuk ikut mengubah peta politik Irak.

Sang reformator

Tahun 2011, al Sadr kembali ke Irak untuk terjun aktif dalam politik. Akhir 2011 pasukan AS sepenuhnya menarik diri dari Irak sesuai tuntutan al Sadr. Walaupun tetap punya pengaruh dalam politik Irak, terutama dengan mengontrol blok paling besar di parlemen, awal 2014 ia menyatakan akan menarik diri dari politik Irak. Namun bangkitnya kelompok teroris yang menyebut diri Islamic State-ISIS mengubah rencananya.

Akhir 2014, al Sadr memobilisir semua elemen yang dulu termasuk dalam Laskar Mahdi dan membentuk apa yang disebut Brigade Perdamaian. Tugas utama brigade ini adalah menjaga tempat suci keagamaan Syiah dan lokasi-lokasi keagamaan lainnya.

Karena frustasi akibat korupsi besar-besaran di kalangan pemerintah, 2016 al Sadr dan para pendukungnya melakukan aksi pendudukan di dalam kawasan Green Zone di Bagdad, yang dijaga ketat. Aksi itu dilancarkan untuk menekan Haider al Abadi yang ketika itu jadi perdana menteri. Akibatnya, al Abadi terpaksa membentuk kabinet baru dan mendapat pengesahan dari parlemen.

Harapan terbaik bagi Irak

Sejak kembali ke Irak, al Sadr sudah menembus garis batas antar sekte dan etnis untuk mendukung agenda reformasi yang bertujuan memerangi korupsi dan memperbaiki pemerintahan.

Pengamat Ranj Alaaldin, yang pernah bekerja di Brookings Institute's Doha Center di Qatar menulis tahun lalu, Muqtada al Sadr tidak hanya mewakili "suara mayoritas Irak, yaitu kaum Syiah yang jadi golongan bawah," tetapi agenda reformasinya juga mendapat dukungan dari kelompok-kelompok Irak lainnya. Alaaldin menambahkan, karena kemampuannya untuk menggerakkan masa dan ketidakpuasan yang semakin marak di kalangan rakyat, al Sadr memang mungkin "harapan terbaik bagi Irak".

Dalam pemilu terbaru, ulama Syiah ini sudah berhasil menyatatukan kelompok-kelompok politik sekuler, termasuk partai komunis, dan kelompok tradisional Syiah. Apakah ia akan bisa memimpin Irak menuju reformasi? Kita lihat di masa depan.

Penulis: Lewis Sanders IV (ml/as)

 

Laporan Pilihan