1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Olahraga

Saudara Tua Sepakbola Asia

Jepang yang dulu pernah belajar sistem kompetisi Indonesia, perlahan menjadi penguasa Asia. Indonesia kini harus belajar sepakbola dari saudara tua, kata sutradara sekaligus penulis sepakbola Andibachtiar Yusuf.

“Kami adalah bagian dari dunia,” ujar Daisuke Oku saat timnya berhasil lolos ke babak 16 besar Piala Dunia di rumah mereka 11 tahun lalu. Gelandang serang tim nasional Jepang ini patut merayakan keberhasilan timnya lolos ke babak selanjutnya, setelah 4 tahun sebelumnya harus puas menjadi pelengkap grup. Pencapaian yang kemudian kembali mereka ulangi di Afrika Selatan 2010 sebelum dihentikan oleh Paraguay hanya dengan cara adu tendangan penalti.

Jepang lah yang terbaik di Asia,” ujar Akihiro Matsumoto saat saya bertanya secara berseloroh tentang “Siapa yang terbaik di Asia,” di sekitar bulan Desember 2011. Saat itu Jepang baru saja menaklukkan Australia di final Piala Asia di Qatar sekaligus menegaskan kekuatan mereka di dunia Sepakbola Asia. Pertanyaan itupun saya lontarkan di Museum Sepakbola di Tokyo, tempat dimana Jepang meletakkan segala memorabilia keikutsertaan mereka di turnamen terbesar dunia ini…”The mother of all summer!” tulis The Guardian setiap saat menjelang Piala Dunia bergulir.

Walau sejauh ini masih belum mampu lolos lebih jauh dari 16 tim terbaik di turnamen, Jepang berhasil menunjukkan pada dunia “Bahwa mereka adalah bagian dari dunia,” Inilah gagasan awal berdirinya J-League, liga professional di Jepang 2 dekade lalu, keinginan untuk melengkapi hegemoni mereka di dunia. “Kami telah memberi dunia banyak hal, budaya, teknologi, peradaban,” ujar Shinji Nakayama salah seorang pemain yang mengikuti liga di awal-awal berdirinya “Tapi kami belum memainkan Sepakbola dengan benar,” tegasnya. Sebuah keinginan untuk semakin mengesahkan eksistensi mereka dalam peradaban dunia modern.

Tak bisa dipungkiri bahwa negeri Matahari Terbit adalah salah satu negeri digdaya di dunia. Pengaruh mereka sangat luar biasa baik di sektor ekonomi riil, teknologi, pangan, perikanan, perbankan atau bahkan jasa periklanan. Siapa tak tahu bahwa produsen otomotif terbesar di dunia adalah Toyota, produsen elektronik ternama adalah Sony atau merk-merk lainnya yang terus menyerbu dunia dengan moda dan cara penetrasinya masing-masing.

Jepang memiliki nyaris segalanya, sampai saya akhirnya sadar saat pertama kali menjejakkan kaki di negeri itu 2 tahun lalu bahwa “Mereka memang tak butuh-butuh amat bahasa Inggris,” bahasa yang disebut sebagai gerbang pergaulan dunia seperti dinisbikan oleh bangsa di Timur Asia ini dengan kemampuan mendominasi dunia dengan cara mereka yang serupa dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa maju di dunia….menyerbu secara teknologi dan ekonomi.

Mereka pun menyadari bahwa segala yang mereka miliki itu masih minus satu hal penting yaitu…..Sepakbola. Inilah satu-satunya produk budaya dunia yang belum mereka kuasai dengan baik. Padahal Sepakbola adalah sebuah produk budaya yang dengan sederhana dan cepat mampu menyatukan seluruh dunia dengan sesaat.

“Sepakbola adalah budaya global modern yang akan terus berkembang,” ujar Eduardo Galeano seorang sastrawan asal Uruguay. Bagi Eduardo, Sepakbola adalah sebuah produk seni yang bernilai sama dengan karya seni lainnya “Orang menyebut Sepakbola sebagai sebuah permainan yang indah, bagi saya ia lebih dari itu karena Sepakbola telah menghasilkan banyak seniman. Bagi saya Sepakbola adalah sebuah hasil kebudayaan bangsa-bangsa dunia yang semakin modern,” jelas Eduardo lagi

Inilah mengapa Jepang begitu berambisi untuk menjadikan Sepakbola mereka berada dalam lingkup dunia. Dengan menguasai permainan ini dunia seolah sudah di tangan bangsa yang pernah menyebut dirinya Saudara Tua di Asia ini. “Karena kami sudah memiliki hampir semuanya dan satu langkah lagi maka Sepakbola kami sudah menguasai dunia,” tegas Naohiko Iyazaki seorang penggemar klub Kawasaki Frontale yang saya temui sekitar setahun lalu di sebuah pertandingan liga.

Kita mengenal bangsa yang pernah menginvasi Tanah Air ini sebagai bangsa yang tak hanya disiplin tapi juga beretos kerja sangat tinggi. Tak heran bahwa mereka melakukan riset luar biasa terhadap keberadaan Sepakbola. Penjuru dunia mereka telusuri untuk menemukan model yang tepat bagi bentuk kompetisi yang tepat untuk mereka. Indonesia yang praktis bukan negara Sepakbola pun mereka sambangi untuk melihat kompetisi semi profesional kita di pertengahan era 1980an dulu.

Baca selanjutnya

Laporan Pilihan