1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kunjungan Kerry Dan Kontroversi di Mesir

Lawatan Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry ke Mesir timbulkan kontroversi. Imbauan Kerry agar pemerintah dan oposisi di Mesir bekerja sama, ditolak.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry tengah melakukan perjalanan di kawasan Timur Tengah. Pertemuan dengan wakil negara-negara Teluk berlangsung Senin (04/03), sebelumnya ia menetap dua hari di Kairo.

Pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS John Kerry dengan Presiden Mesir Mohamed Morsi berlangsung tengah hari. Tema pembicaraannya krisis Mesir, baik dari segi ekonomi maupun politik.

Der ägyptisch Präsident Mohamed Mursi und der Außenminister von den USA John Kerry

Presiden Morsi dan Menlu Kerry

Sebagai solusi, Kerry mengusulkan agar Presiden Morsi dan kelompok-kelompok oposisi berusaha bekerja sama. Dikatakannya, "bagi rakyat Mesir yang tengah menghadapi tantangan berat di bidang ekonomi, amat penting bahwa semua pihak menemukan landasan bersama agar bisa mengambil keputusan".

Karikatur Sebagai Protes

Kunjungan Menteri Luar Negeri AS di Kairo itu memicu aksi protes dan juga kritik. Halaman muka harian oposisi menunjukkan karikatur Kerry yang berjenggot dan bertanda hitam di dahi dengan judul "Kerry, Moslem Brother". Seorang pembaca harian itu mengaku, ia juga menentang dukungan Kerry untuk apa yang disebutnya pemerintahan Ikhwanul Muslimin. Presiden Mohamed Morsi tampil dari jajaran Ikhwanul Muslimin.

Tak heran, hampir semua pemimpin oposisi menampik undangan untuk bertemu dengan Kerry. Kritik mereka, Washington berusaha mendesak oposisi Mesir agar membatalkan seruan mogok. Front Penyelamat Nasional Mesir, termasuk penyandang hadiah perdamaian Mohammad el-Baradei sebelumnya menyerukan agar warga memboikot pemilihan parlemen pada 22 April. Kaum oposisi menilai, undang-undang pemilu telah dirancang sedemikian rupa sehingga menjamin kemenangannya sendiri.

Boikot Pemilu dan Hubungan Baik

Dalam situasi semacam itu, partisipasi oposisi dalam pemilu hanya melegitimasi kemenangan kaum islamis sebagai hasil pemilihan yang demokratis. Begitu ungkap jurubicara Front Penyelamat Nasional, Khaled Dawoud di Kairo.

Bagi kelompok oposisi, undang-undang pemilu baru ini bagai tambahan duri yang menusuk. Kelompok Islamis telah menggolkannya, tanpa melibatkan oposisi. Bagi mereka Amerika memiliki peranan penting, karena sudah puluhan tahun AS mendukung setiap diktator militer yang memimpin Mesir. Hubungan baik ini berlanjut setelah Mohamed Morsi menjadi Presiden.

Hari Minggu (03/04), Kerry mengatakan Amerika akan memberikan dana bantuan senilai $250 juta, setelah Presiden Morsi menyepakati sejumlah reformasi ekonomi yang memungkinkan pinjaman dari Dana Moneter Internasional.

Pemerintah Barack Obama memuji Morsi, ketika ia berusaha mendamaikan pertempuran di jalur Gaza. Washington juga sangat hati-hati untuk menyuarakan kritik terhadap Morsi. Kritik baru terdengar setelah 60 orang demonstran tewas dalam kerusuhan yang terjadi.

Laporan Pilihan