1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Amerika Serikat : Berjalan Ditempat Atau Berubah Arah?

2012 ditandai oleh Pemilhan Presiden dan upaya untuk memicu ekonomi Amerika Serikat. Politik Luar Negeri menjadi prioritas kedua. Sebuah kilas balik.

2012 bukan tahun baik bagi Washington. Pemilihan Presiden dan mengerasnya posisi kedua kubu Republik dan Demokrat menyebabkan bekunya pembahasan peraturan. Memantau perkembangan, pakar politik Institut Brookings di Washington Thomas Mann mengatakan, „sepanjang sejarah, tampaknya ini salah satu masa kerja Kongres yang paling tidak produktif“.

US-Kongress

Kongres AS

Namun itu bukan penilaian akhir. Negosiasi tentang „fiscal cliff”, yang meliputi pemangkasan otomatis anggaran dan peningkatan pajak mulai tahun depan, masih berjalan. Kemajuan negosiasi ini pada dasarnya menggambarkan perbedaan utama kedua kubu. Meski sepakat bahwa utang negara harus berkurang, pihak Republik menolak kenaikan pajak, sedangkan kubu Demokrat ingin membatasi pemotongan anggaran.

Situasi Ekonomi Membantu Obama

Secara politik tidak banyak yang berubah, padahal 2012 berlangsung peristiwa terpenting dalam politik. Pada pemilu November, Obama kembali terpilih sebagai Presiden AS. Masalahnya, ia tetap berhadapan dengan Dewan Perwakilan yang dikuasai kubu Republik.

Bagi sang Presiden banyak pekerjaaan yang menunggu. "Mengurangi defisit, mereformasi peraturan perpajakan dan imigrasi, mengurangi ketergantungan pada impor minyak bumi“, urai Obama dalam pidato kemenangannya.

Autobahn in USA

Jalan-jalan padat mobil

Kondisi ekonomi merupakan prioritas utama. Menurut Thomas Mann, inilah faktor penentu dalam pemilihan kembali Obama. "Laporan terakhir menunjukkan bahwa Produk Brutto Domestik AS di kwartal ketiga naik 3,1 %.“ Angka pengangguran juga turun, meskipun sejak posisi paling rendah 2009, terlihat gerakan merayap naik.

Salah ucap pesaing dari partai Republik, Mitt Romney yang juga ditentang oleh partainya sendiri, membuat Obama tampil lebih berwibawa. Badai „Sandy“ yang menjelang pemilu menerpa pesisir Timur Laut AS dan menyebabkan kerusakan milyaran dolar, di pihak lain membuka peluang bagi Presiden untuk tampil sebagai „bapak“ pengayom rakyat, yang berani menepis keberatan partai.

Pukulan Tragedi "Newtown"

Peraturan senjata kembali menjadi perdebatan, setelah melayang nyawa 20 anak sekolah dan enam orang dewasa direnggut senapan maut seorang pemuda, yang juga menembak mati ibunya. Tragedi Newton di awal Desember 2012 ini memukul seluruh negeri.

Presiden Obama tampak menahan air mata ketika berbicara kepada bangsa. Tak sampai sepekan kemudian, komisi khusus sudah terbentuk. Dipimpin wakil presiden Joe Biden, komisi itu bertugas meneliti langkah-langkah guna menghindari peristiwa serupa dan menurunkan angka korban kecelakaan senjata.

Schnee nach Hurricane Sandy in New York

Badai Sandy di New York

Presiden mengingatkan bahwa sekedar mengubah peraturan tidak akan cukup. "Kita harus memudahkan jalan bagi penyandang gangguan psikis untuk mendapatkan bantuan psikologis. Prosesnya harus semudah mendapatkan senjata. Budaya yang menghargai senjata dan kekerasan secara berlebihan harus diamati.“Januari mendatang, komisi Biden sudah harus memberikan masukannya.

Dilema Kubu Republik

Kubu Republik tampak semakin terpojok dalam semua tema perdebatan, baik soal "fiscal cliff", perubahan iklim dan peraturan senjata. Terpengaruh gerakan Tea Party, partai Republik bergeser ke posisi ekstrim kanan pasca pemilihan Konggres 2010.

Thomas Mann menilai, "Seakan Republik hanya mewakili sejumlah kelompok tertentu. Dukungan masyarakat kurang dan berada sekitar lima belas persen di bawah partai Demokrat“. Partai Republik juga gagal mendesak Obama dalam berbagai isu politik pertahanan dan keamanan,

“Presiden Obama memang perlu lebih memperhatikan politik dalam negeri, tapi perkembangan di Afghanistan, dunia Arab dan Laut Cina Selatan juga tak bisa diabaikan.“ Begitu menurut Charles Kupchan dari "Council on Foreign Relations" kepada DW.

Politik Afghanistan yang dilancarkan Obama 2012 berkisar pada mempersiapkan publik, Eropa dan NATO untuk fase akhir. Fokus perlawanan terorisme terpusat pada Al Qaida, bergeser dari Taliban. Upaya-upaya “nation building”, pembangunan bangsa dikurangi, sementara konsep penyerahan tanggung jawab pada warga Afghanistan sendiri semakin ditekankan.

Orientasi Baru Politik Luar Negeri

“Politik luar negeri Obama menunjukkan arah baru”, ungkap Kupchan, "peningkatan diplomasi Amerika dihargai oleh dunia. Membarengi kepemimpinan dan kesediaan untuk mendengarkan merupakan srategi baru“.

Bersamaan dengan itu terjadi pergeseran fokus. Yakni, meninggalkan intervensi besar secara militer dan menggantinya dengan pengerahan drone, pesawat tempur tanpa awak, serta kerjasama dengan Eropa. Hal ini juga menerangkan keengganan Obama untuk terlibat lebih jauh di Suriah.

Kupchan juga mengamati hal lain: "Presiden Obama tampaknya telah menjalin hubungan yang lebih erat dengan Eropa. Ia semakin mendukung hubungan Atlantik ketimbang di awal masa jabatannya."

Agaknya, membangun kerjasama lebih erat dengan Cina, Turki atau Brasil terbukti lebih sulit. Akibatnya meskipun ada peningkatan hubungan dengan Asia, Eropa masih merupakan mitra pilihan, meskipun Eropa yang tennah menghadapi krisis Euro tak selalu memberi dukungan yang dibutuhkan.

Introspeksi Agar Bertambah Kuat

Menurut Kupchan, politik „uluran tangan“ membawa hasil yang jelas di Myanmar. November 2012, Obama merupakan Presiden AS pertama yang pada saat menjabat melakukan kunjungan ke Myanmar. Hampanya terobosan terkait sengketa nuklir Iran, memungkinkan Obama untuk menjatuhkan sanksi yang lebih berat.

Presiden menyadari, bahwa AS perlu menuntaskan pekerjaan rumahnya: mereformasi perundangan, memperkuat infrastruktur dan, memacu ekonomi. Karena Amerika yang kuat di dalam negeri, bisa lebih baik memainkan perannya sebagai kekuatan dunia. Banyak yang harus dikerjakan pada 2013.

Laporan Pilihan