1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Vlogger und youtuber, Trisna Keller
Trisna Keller dan suaminyaFoto: Trisna Keller
SosialGlobal

YouTuber Trisna Keller Gugat Standar Semu Kecantikan

23 Januari 2022

Kami dulu sampai seterika rambut, ujar YouTuber Trisna Keller yang mengaku dulu sering diejek jelek, dekil dan berkulit hitam. Lewat kanal YouTube-nya ia ingin perempuan lebih percaya diri.

https://www.dw.com/id/youtuber-trisna-keller-dan-keluarga-bahagianya-di-jerman/a-60523062

"Dulu di bagian komentar konten YouTube saya, banyak sekali yang komen: Itu bule kok gila banget ya! Mau sama perempuan yang sudah hitam, dekil, jelek lagi! Seperti itu kata-kata di kolom komentarnya," tutur Trisna Keller, YouTuber asal Indonesia yang bermukim di Jerman dan punya jutaan pengikut atau follower di kanal media sosial tersebut dengan akun Keluarga Bahagia di Jerman.

"Kok mau ya? Pakai pelet apa, pakai santet apa? Seperti itu, mereka tulis. Tapi saya santai saja, karena sudah terbiasa itu tadi. Di Indonesia sudah sering dengar kata-kata seperti itu. Bahkan, sebelum pacaran, menikah dengan suami saya yang orang Jerman  ini, juga sudah sering dikata-katai begitu,” tutur ibu dua anak ini. "Yang tidak terima justru suami saya. Dia sampai bilang, cantik itu menurut dia relatif. Dan menurut dia, dia bilang, dia sampai di video: Istri saya itu cantik! Menurut dia, saya itu cantik, dengan kulit saya yang gelap seperti ini, dengan hidung saya yang pesek. Yang biasanya sering dihina-hina orang, sudah kulit hitam, hidung pesek, bibir memble, begitu. Jadi, seperti sudah satu paket begitu," ujar Trisna yang lewat kanal YouTubenya juga ingin membangun kesadaran bagi para perempuan untuk lebih percaya diri.

Standar semu yang meruntuhkan rasa percaya diri

Saat yang paling membuatnya merasa rendah diri dulu adalah ketika masih kuliah di Yogjakarta. "Nah, waktu kuliah di Jogja, waktu itu saya melihat teman-teman itu pada berlomba-lomba seperti, semakin putih semakin cantik, rambut semakin panjang lurus berkilau begitu, semakin cantik. Jadi dari situ, saya mulai merasa seperti tidak percaya diri dengan diri saya,”  ungkap Trisna.

"Sementara dulu waktu tinggal di Papua, kami yang katakanlah rambutnya mulai dari bergelombang sampai keriting, berlomba-lomba dulu untuk istilahnya "rebonding” rambut begitu. Sampai pakai setrika panas. Kalau tidak punya duit untuk ke salon ya, dulu itu agak mahal ya pas lagi musim-musimnya, lagi zaman-zamannya orang meluruskan rambut. Meluruskan rambut itu susah ya, mahal juga. Jadi kita di kampung-kampung itu, akhirnya mengikuti standar cantiknya Indonesia, pakai obat kimia akhirnya merusak rambut, Bahkan merusak sampai ke akar-akar rambut," kata Trisna lebih lanjut. Ia menambahkan begitu kerasnya pengaruh iklan dan persepsi bahwa cantik itu harus berkulit putih dan berambutnya lurus panjang, banyak orang berlomba-lomba menuju ke standar itu.

Trisna menambahkan pengalaman lain di Papua, di mana pernah ada satu merek krim muka, yang bisa dibeli di pasar. Jadi, ada krim siang, krim malam, ternyata hasilnya merusak kulit, ”Krim itu dipakai, iya sih, putih mukanya saja begitu. Tapi itu kulitnya sampai saraf-saraf muka keliatan semua. Jadi ternyata menipiskan kulit. Mungkin kadar kimianya tinggi , saya tidak terlalu mengerti. Tapi akhirnya kita terkena panas sedikit saja, muka seperti terbakar rasanya,” tambahnya.

Vlogger und youtuber Trisna Keller
Membangun rasa percaya diri sebagai perempuanFoto: Trisna Keller

Membangun rasa percaya diri

Semakin lama Trisna baru semakin menyadari bahwa  cantik itu tidak harus berkulit putih. Apalagi ketika Trisna mulai tinggal di Jerman, "Di sini saja orang-orang, yang putih natural saja, mereka setiap musim panas bahkan suka berjemur biar dapat kulit yang coklat, begitu. Jadi saya pun mengambil kesimpulan, kalau ternyata standar cantik yang kita pakai di Indonesia itu hanya karena kemungkinan termakan iklan,” tandasnya.

Kepada putrinya ia menanamkan pentingnya menghargai diri sendiri dengan segala perbedaannya, "Mau rambutmu pendek, mau rambutmu panjang, kamu itu cantik, supaya jangan sampai seperti saya, yang akhirnya tidak menghargai diri sendiri, yang akhirnya melakukan hal-hal yang merusak diri.”

Penulis feminis, Uly Siregar mengemukakan standar kecantikan tak lepas dari budaya patriarkhis. Sejatinya manusia memang lebih gampang menilai hal-hal yang kasat mata daripada bersusah payah mengenal dan menggali lebih dalam apa yang tak terlihat oleh mata. "Namun tak ada justifikasi bagi kaum laki-laki untuk menyerang urusan penampilan fisik perempuan, mereduksi nilai seorang perempuan hanya dari bentuk hidung, warna kulit, berat badan, atau apapun yang menyangkut soal fisik,” tandasnya.

Sementara feminis Luh Ayu Saraswati dalam opininya menuturkan jika ingin terbebaskan dari belenggu rutinitas kecantikan seperti memutihkan kulit, langkah pertama yang kita perlu lakukan adalah memerdekakan ruang emosi kita dulu, tandas Luh Ayu. "Ketika kita merasakan suatu perasaan, kita haruslah bertanya secara kritis, "mengapa saya merasakan perasaan seperti ini terhadap wajah dan badan saya?” "dari mana datangnya perasaan ini?” "apa yang bisa saya rasakan dan lakukan yang berbeda dari biasanya?” ujarmya.

Setelah itu, kita juga harus berhenti menjadi alat penjajahan terhadap orang lain, teman, saudara, bahkan anak perempuan kita sendiri. Menurut Luh Ayu, kita harus berhenti mengatakan, "Aduh, malu, kulit kamu kok hitam sekali sih?” "Kamu tidak malu, wajahnya jelek seperti itu?” Kita harus berani memulai pembentukan wacana kecantikan Indonesia yang baru, yang tidak mengacu kepada negara Barat dan tidak mengindahkan sejarah penjajahan baik emosi ataupun politis di Indonesia selama ini," pungkasnya.