Gelorakan Rasisme, Johnson & Johnson Hentikan Produksi Krim Pemutih | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 22.06.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Rasisme

Gelorakan Rasisme, Johnson & Johnson Hentikan Produksi Krim Pemutih

Produk pemutih kulit dinilai menyuburkan paradigma rasial tentang kulit putih lebih baik dari kulit gelap. Kini Johnson & Johnson hentikan produksi krim pencerah kulit untuk Asia dan Timur Tengah.

Johnson & Johnson memutuskan berhenti memproduksi krim pemutih kulit di Asia dan Timur Tengah. Langkah itu diambil menyusul derasnya tekanan sosial seputar kesenjangan rasial di tengah gelombang demonstrasi anti-rasisme di dunia. 

Perusahaan farmasi dan kosmetika asal Amerika Serikat itu menarik dua jenis produk pemutih, Clean & Clear Fairness Line yang dijual di India, dan Neutrogena Fine Fairness Line yang tersedia di Asia dan Timur Tengah. 

“Peredebatan selama beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa sejumlah nama atau klaim khasiat produk anti bintik hitam milik kami memicu kesan bahwa warna putih lebih baik ketimbang warna kulitmu yang uni,” tulis Johnson & Johnson. “Hal itu bukan niat kami – kulit yang sehat adalah kulit yang indah.“ 

Kendati tidak lagi diproduksi, produk-produk pemutih yang terlanjur beredar di pasar masih bisa di beli.  

Industri kosmetika internasional sejak lama dikritik lantaran dinilai mengeruk untung dari paradigma rasialis konsumen Asia dan Timur Tengah yang menilai kulit putih lebih indah ketimbang kulit gelap.  

Pasar berkembang pesat 

Menurut Euromonitor International, sebanyak 6.277 ton krim pemutih atau pencerah kulit dijual di seluruh dunia tahun lalu, termasuk krim anti-penuaan yang menjamin kulit bersih dari bintik hitam. 

Krim-krim tersebut biasanya dijual untuk perempuan. Selain Johnson & Johnson, sejumlah perusahaan multinasional lain ikut aktif mengembangkan dan menjual produk serupa di Asia, antara lain Unilever, Procter & Gamble, atau L’oreal yang hadir dengan merek dagang Olay dan Garnier.  

Menurut Global Industry Analysists, pasar krim pemutih bisa mencapai 12,3 miliar USD pada 2027. AS yang mencatat 27,1% penjualan krim pemutih di seluruh dunia adalah pasar terbesar, diikuti Cina yang tercatat sebagai pasar dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi. 

Belakangan perusahaan-perusahaan kosmetika internasional mendapat banjir kritik lantaran ikut menyuarakan simpati pada gerakan anti-rasisme, Black Lives Matter, sembari menjual krim pemutih.     

Ironisnya produk kosmetika yang menjanjikan kulit putih juga ramai dijual di Afrika. Badan Kesehatan Dunia, WHO, mencatat pada 2011 sebanyak 40% perempuan Afrika secara sadar memutihkan kulit untukmemenuhi norma kecantikan yang berlaku. Di Nigeria, jumlahnya bahkan mencapai 77%. 

WHO juga mencatat tingkat penggunaan krim pemutih yang sama tingginya di Asia, termasuk Cina, Malaysia, Filipina dan Korea Selatan. 

rzn/vlz (rtr, ap, scmp)

Laporan Pilihan