1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Wido Sardjono, pelari maraton
Wido Sardjono, pelari maraton, tetap fit di usia 76 tahunFoto: Wido Sardjono
OlahragaJerman

WNI di Berlin Berusia 76 Tahun Ini Rutin Maraton

9 April 2022

Awal April 2022, Wido Sardjono, kelahiran tahun 1945, asal Salatiga, berhasil menyelesaikan Berlin Half Marathon, 21 kilometer, dalam jangka waktu dua jam 16 menit. 

https://www.dw.com/id/wni-di-berlin-berusia-76-ini-rutin-marathon/a-61417701

Musim apapun di Jerman tak membuat Wido Sardjono gentar untuk latihan lari. Meskipun suhu di bawah nol derajat, ia tetap mengikat tali sepatunya, memakai jaket dan mulai lari. "Temperatur di bawah lima derajat, baru pakai celana panjang sama baju panjang, tambah kaos sedikit. Tapi kalau sudah di atas lima derajat begitu, celana pendek, kaos, biasa saja," ujar pria Indonesia berusia 76 tahun, yang tinggal di ibu kota Jerman ini, "Kan nanti kalau sudah lari kira-kira dua kilometer, badan akan hangat," tambahnya. Awal April 2022, ia berhasil menyelesaikan Berlin Half Marathon dalam waktu dua jam 16 menit. 

Sejak usianya 60 tahun, ia rutin tiap tahun ikut maraton. Wido Sardjono dulu merupakan salah seorang pendiri restoran Indonesia terkenal di Berlin. Di masa mudanya, ia sibuk banting tulang untuk kemajuan restoran yang dibangun bersama istri dan kawannya itu.

Wido Sardjono, pelari marathon
Wido Sardjono, pelari marathon, selesaikan half marathon Berlin dalam waktu dua jam, 16 menit.Foto: Wido Sardjono

Wido pun lantas bercerita bagaimana awalnya ia rutin ikut maraton: "Saya tinggalnya di Berlin, terus 'start' maratonnya  tidak jauh dari rumah saya. Lama-lama saya rasa ini sangat menarik. Kenapa saya tidak ikut? Orang yang dari jauh-jauh saja pada datang ke Berlin untuk ikut maraton, ‘masa' saya yang di sini tidak ikut. Akhirnya saya mulai mencoba,” ungkapnya.

"Sebelum-sebelumnya, sebagai anak muda itu dulu saya belum begitu memikirkan tentang arti kesehatan. Seperti juga anak-anak muda yang lain, masih belum tahu, belum ingin hidup sehat karena bagaimana pun masih sehat. Jadi tidak ingin olahraga sama sekali,” tambahnya. "Sama sekali tidak olahraga, saya bukan orang yang 'sporty'. Tidak kenal olahraga sama sekali. Saya tidak bisa main bola, tidak bisa bulu tangkis, tidak bisa berenang.” Restoran yang dimilikinya pun sudah ia jual dan kini ia menikmati masa pension.

Rutin olahraga, gizi dan tidur yang cukup

Wido berbagi tips dalam berolahraga. "Pokoknya yang penting itu konsisten. Larinya sedikit-sedikit saja, tapi saya memerlukan waktu kira-kira itu untuk seminggu saya perlu lari tiga hingga empat kali dengan jumlah jarak kira-kira 50 kilometer sampai 60 kilometer. Lalu selain itu, gizinya juga harus selalu bagus. Mineral cukup, nutrisi harus cukup, air juga harus cukup. Itu yang selalu saya perhatikan. Selain itu juga tidur dan hidup harus teratur,” ungkap Wido.

Yang paling berkesan selama ikut maraton, menurutnya justru di Jakarta. "Saya sempat tahun 2013, karena saya suka dimarahi oleh tukang ojek, katanya: Bapak ini tidak ada pekerjaan, ya? Menuh-menuhin jalanan saja," ujarnya menahan tawa. "Olahraga malah kena marah, karena mengganggu aktivtas orang, ya," tuturnya. Salah seorang penggemar olahraga lari dan sepeda di Jakarta, Vanita juga mengeluhkan hal serupa, "Seharusnya dibuat jalur-jalur khusus untuk orang berjalan kaki atau lari, sepeda dan jalanan mobil, jadi tidak terjadi konflik. Belum lagi kualitas udaranya kotor karena banyak sekali kendaraan di Jakarta," ungkap perempuan yang bermukim di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat ini. Ia mengaku kagum akan semangat Wido, "Tapi Pak Wido sih enak ya, di Jerman mungkin udaranya lebih bersih karena kendaraan bermotor tak sebanyak di sini," selorohnya.

Menginspirasi

Tahun 2010 menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Wido Sardjono dalam ‘bermaraton ria‘. "Waktu itu ketika maraton di Berlin bertepatan dengan ulang tahun saya. Tiba-tiba di tengah jalan itu, ketika di Kudamm (distrik) di kilometer 32, itu kok ada spanduk besar dengan tulisan "Happy Birthday Wido”. Wah itu mengejutkan sekali buat saya. Sesudahnya itu, waktu di garis akhir, kok ada orang teriak 'Wido… Wido… Wido…', tahunya itu dari MC-nya. MC-nya mengucapkan ulang tahun ke saya, lalu di layar ada gambar saya di situ, mengucapkan ulang tahun saya,” ujarnya.

Wido yang sudah memasuki masa pensiun ini ingin menggunakan waktunya untuk mengintensifkan hobi larinya agar tetap sehat sambil menginspirasi anak-anak muda. "Akhirnya berhasil juga. Di Berlin ada 'Indo Runner'- grup lari-lari anak-anak Indonesia, para mahasiswa yang dipimpin oleh asuhan saya, Bobby Saputra. Kira-kira ada 25 anggotanya. Saya senang sekali bisa menginspirasi dan berhasil menginspirasi mereka. Sehingga mereka benar-benar senang lari. Saya senang sekali,” ujar Wido. Jangankan anak muda, Vanita yang berusia 62 tahun kerap mengkuti kisah-kisah olahraga yang dibagikan oleh Wido dan akhirnya mengikuti jejaknya. ”Meski sudah kepala enam, malah saya rasa makin penting untuk menikmati hidup sehat,”  tuturnya.

"Setelah saya usia lanjut ini, saya merasakan bahwa kesehatan itu adalah utama dan itu adalah kekayaan yang utama untuk saya. Yang lain tidak penting lagi buat saya,” pungkas Wido.