1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

240311 Karl-May-Lesemarathon

24 April 2011

Mengejar masuk Guinness, 3000 orang bergantian membaca karya Karl May. Meliputi 90 buku, sekitar 70-an di antaranya adalah novel petualangan, empat catatan biografis, lalu masih ada sejumlah cerita lainnya.

https://p.dw.com/p/113KM
Lese-Marathon Lesemarathon Karl May aus der ZelleFoto: picture-alliance/dpa

Sebuah ruang penjara yang gelap. Dahulu kala di tahun 1870, Karl May mendekam dalam sel karena kasus penipuan. 51 hari ia dipenjara di balik dinding tembok tebal, yang hanya disusupi oleh sederetan baris cahaya yang masuk dari antara jeruji besi jendela kecil sel itu.

Pintu kayu yang dulu terkunci, kini terbuka lebar Di dalam terlihat sebuah meja kayu. Di atasnya terdapat laptop menyala, yang menunjukkan sebuah teks pada layarnya. Pembacaan berlangsung di sini, begitu kata Stefanie Wagner. "Kami membaca semua yang pernah ia tulis. Jumlahnya lebih dari 55 ribu halaman, karena karyanya meliputi lebih dari 90 buku. Kami tidak membaca karyanya secara runut seperti ia menciptakannya dulu. Melainkan sesuai yang diusulkan kepada kami oleh Penerbit Karl May. Ternyata ada urutan khusus yang sesuai dengan publikasinya dulu, dan itulah yang kami turuti.”

Tujuh Minggu Membaca

Dalam marathon membaca yang digelar Stefanie Wagner bersama timnya mulai 14 Maret lalu, semua karya Karl May, yang ia tulis usai karirnya sebagai kriminal, dibacakan terus menerus oleh para relawan dan penggemar karya-karya penulis kenamaan ini. Stefanie Wagner, “Marathon membaca ini berlangsung hingga 3 Mei, karena 140 tahun yang Karl May mendekam di penjara ini hingga tanggal tersebut. Ia berada di dalam sel ini selama tujuh minggu dan karenanya kami juga berusaha untuk bertahan membaca selama tujuh minggu.“

Karl May menulis novel petualangan mengenai berbagai kawasan di Timur Tengah dan kehidupan “wild, wild West”, ketika wilayah Indian di Amerika Serikat mulai diduduki oleh keturunan Eropa. Karl May menjadi terkenal seiring ketenaran tokoh-tokoh novelnya: Kara Ben Nemsi, Old Shatterhand dan Winnetou. Karya-karyanya telah dicetak ulang lebih dari 200 juta kali, dan penggemar ceritanya berada di seluruh dunia. Termasuk Professor Ludwig Hilmer dari Fakultas Media, Universitas di Sachsen, yang menggulirkan ide proyek ini.

Professor Ludwig Hilmer bercerita,"Saya dari kecil gemar membaca buku-buku Karl-May. Dulu, membeli buku-bukunya dari uang tabungan. Ah, sampai sekarangpun saya suka merasa prihatin mengingat masa-masa menghitung uang yang sudah terkumpul. Berulang kali harapan saya kandas, bahwa jumlahnya sudah cukup untuk membeli satu buku, karena tiba-tiba harganya dinaikkan dan saya terpaksa harus menunggu adanya obralan. Tapi saya, menyesal sih tidak bahwa buku-buku itulah yang merupakan milik saya satu-satunya. Berinvestasi dalam Karl May."

Buku-buku Karl May sesekali masih ia baca sekarang, tapi menurut Professor Ludwig Hilmer, " Kalau sekarang, bahasa romantis dari abad ke 19 yang dia pakai dulu harus disesuaikan lagi, karena sudah tak seorangpun yang masih bertutur seperti itu. Tapi penerjemahan filsafat dia juga tidak bisa persis lagi. Cuma kalau saya mendengar pembacaan buku pertamanya, maka tertangkap nama negara-negara, seperti Mesir, Arab Saudi. Wilayah-wilayah yang kini kami perhatikan juga, dan saya kira itulah sumbangan sejarahnya.“

Selama semester kuliah, Professor Hilmer bergabung dengan 30 orang mahasiswa yang menjadi anggota klub penggemar Karl May. Klub inilah yang kemudian mengundang tokoh-tokoh dan penggemar cerita-cerita Karl May dari seluruh Jerman untuk turut membaca buku-bukunya itu. Begitu cerita Stefanie Wagner.

Sambutan Para Relawan

Wagner yang selain seorang aktris dan penerbit, juga bekerja sebagai presenter televisi mengatakan, "Kami memikirkan, siapa saja tokoh yang bisa kami undang ke mari. Kemudian kami menelponi setiap orang yang tertera dalam daftar kami itu.”

Hebatnya, hampir semua yang ditanyai menyukai ide yang diajukan dan bersedia untuk datang, meskipun ada yang menolak ikut karena sudah punya rencana lain. Begitu tambah Stefanie Wagner. “Ada juga yang awalnya menolak, tapi setelah itu mencari jalan untuk menyesuaikan jadwalnya agar bisa berpartisipasi. Kami sungguh kaget, ternyata Karl May masih diingat oleh banyak orang dan mereka bahkan merasa keterkaitan dengan dia, melalui karyanya, film-filmnya, ya mereka merasa dekat dengan Karl May.“

Sekitar 1000 orang relawan pembaca langsung mendaftarkan diri. Mengumpulkan 3000 orang relawan tidak terlampau sulit, tapi tetap saja ada beberapa slot membaca yang masih kosong. Khususnya untuk jam-jam setelah orang biasanya tidur. Saat itu, kesunyian dalam sel penjara terasa lebih mencekam. Hanya tiga mahasiswa yang masih terus berjaga di situ. Mereka bertugas memeriksa mikrofon dan kamera yang harus berfungsi dengan baik dan mengirimkan hasil rekamannya langsung ke internet. Sementara seorang relawan membaca, untuk kemudian digantikan oleh pembaca lain, sambung menyambung, bagai rantai yang tak terputus membacakan buku-buku Karl May. Non-Stop Live!

Target Pecahkan Rekor Guinness

Setiap waktu selalu ada beberapa mahasiswa yang sepanjang hari berjaga-jaga di ruangan itu. Para mahasiswa ini mengisi ruang sel di sebelah sel penjara Karl May dulu. Berbekal perlengkapan sekedarnya, mereka segera bisa mengisi slot baca yang belum terisi atau dengan mudah menggantikan relawan pembaca yang batal hadir.

Tapi menurut Stefanie, itu bukan jaminan, karena bisa jadi ada masa mereka tak mampu lagi melakukannya, "Pertama, kami tidak tahu secepat atau selambat apa setiap peserta membaca, kami mengunakan kecepatan baca pribadi sebagai patokan untuk mengukur waktu yang dibutuhkan dan menetapkan kecepatan yang rata-rata. Kedua, kami tidak menemukan cukup banyak fans yang bersedia untuk berpartisipasi dan apabila kami tak mampu membaca seluruhnya, maka kampiun nanti harus mengakuinya. "

Stefanie tidak berharap hal itu terjadi, tapi ia juga berusaha realistis. Tambahnya, "Masalahnya jumlah kami hanya tiga puluh orang. Dan entah kapan, kami semua akan terlampau lelah untuk melanjutkannya, karena kami kan semua masih harus kuliah, sebagian besar juga bekerja sambil kuliah. Jadi ini merupakan tantangan yang sangat besar"

Marathon membaca ini digelar oleh para mahasiswa dari jurusan media dengan mempraktekkan ilmu yang dipelajarinya. Universitas memberikan dukungan dengan meminjamkan peralatan tehnik. Tujuh minggu yang berat. Namun harapan para mahasiswa ini sangat besar untuk masuk ke dalam buku catatan rekor Guinness. Rekor pembacaan marathon sebelumnya tercatat berlangsung selama 10 hari. Dilakukan oleh enam orang aktivis Amerika Serikat, yang mengulang-ulang pembacaan ke 30 butir keterangan Hak Azasi Manusia. Pembacaannya tidak berlangsung di dalam sebuah sel penjara, melainkan pada sebuah universitas di Miami pada bulan November 2009

Dagmar Borchert / Edith Koesoemawiria
Editor: Carissa Paramita