WHO Akan Mulai Penyidikan Asal Muasal Wabah Corona di Cina | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 11.01.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

WHO Akan Mulai Penyidikan Asal Muasal Wabah Corona di Cina

Cina akhrinya mengizinkan ilmuwan WHO memulai penyidikan terkait asal usul penyebaran virus corona dari hewan ke manusia. Beijing dikabarkan sudah lebih dulu mencari sebab pemicu wabah dalam sebuah penelitian rahasia

Seorang bayi di tengah pasar ayam hidup di Wuhan, 2006, di tengah wabah virus flu burung, H5N1.

Seorang bayi di tengah pasar ayam hidup di Wuhan, 2006, di tengah wabah virus flu burung, H5N1.

Delegasi WHO dijadwalkan tiba pada Kamis (14/1) di Cina. Komisi Kesehatan Nasional (NHC) yang ditugaskan mengawal kunjungan tersebut enggan merinci proses penyidikan yang bakal digulirkan. Hingga kini belum jelas apakah utusan WHO akan diizinkan menyambangi kota Wuhan yang menjadi pusat episentrum penyebaran virus corona pada akhir 2019 lalu.

Lawatan ini sudah dirundingkan sejak lama antara pemerintah di Beijing dan otoritas kesehatan dunia. Direktur Jendral WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pekan lalu sempat mengaku kecewa lantaran keterlambatan. Menurutnya tim ilmuwan WHO seharusnya sudah bisa menjalankan penelitian di lapangan sesuai kesepakatan dengan Cina.

Penyelidikan mengenai asal usul wabah berdaya ledak politis yang tinggi. Cina khawatir dijadikan kambing hitam atas pcahnya pandemi corona.

Beijing selama ini membatasi akses terhadap semua bentuk penelitian terkait asal usul virus corona. Sementara media-media pemerintah giat melontarkan teori, virus corona pemicu Covid-19 sejatinya berasal dari luar negeri. 

Laporan investigasi Associated Press mengungkap, pemerintah Cina mengucurkan dana riset sebesar ratusan ribu US Dollar untuk meneliti asal usul virus Corona di selatan Cina. Menurut dokumen internal yang didapat AP, pemerintah mengontrol jalannya penelitian, dan mewajibkan pemeriksaan oleh sebuah satuan tugas bentukan Presiden Xi Jinping, sebelum hasil riset bisa dipublikasikan.

Budaya kerahasiaan semacam itu ditengarai memperlambat munculnya peringatan dini bahaya wabah pada Januari 2020 silam.  Keterlambatan informasi dan pengiriman data oleh Cina, juga diyakini banyak kalangan menghalangi pengembangan metode tes atau uji corona di masa-masa awal.

Atas dasar itu Australia dan sejumlah negara lain mendesak investigasi terhadap asal muasal wabah, yang memicu reaksi agresif dari Beijing.

Jejak mengarah ke Wuhan

Menyusul peringatan Dirjen WHO, Tedros, pekan lalu, Kemenlu Cina akhirnya mengatakan negerinya terbuka untuk dikunjungi ilmuwan WHO. Namun Beijing juga mengaku pihaknya masih menyiapkan "prosedur dan rencana konkrit," terkait penyidikan tersebut. Komisi Kesehatan Nasional diklaim sedang sibuk menanggulangi munculnya klaster-klaster baru virus corona, kata juru bicara Kemenlu, Hua Chunying.

"Ilmuwan kami sedang berjibaku mengontrol pandemi," kata dia.

Asal usul wabah corona menjadi bahan spekulasi menyusul minimnya informasi yang diberikan pemerintah Cina. Menurut salah satu teori, virus tersebut inangnya adalah kelelawar, sebelum melompat kepada manusia lewat inang perantara di pasar hewan yang berbaur dengan pasar basah di Wuhan.

Pasar Huanan yang menjual daging segar, termasuk dari hewan liar, mencatat kemunculan pertama wabah Corona pada akhir Desember 2019. Dari 41 kasus pertama yang dideteksi di pasar tersebut, 70% di antaranya merupakan pemilik toko, pegawai atau pelanggan harian. Namun kasus-kasus pertama tersebut tidak mengindikasikan adanya penularan dari hewan ke manusia.

Pemerintah Cina lalu menutup dan mendisinfeksi pasar Huanan pada 1 Januari 2020. Meski membantu membersihkan lokasi wabah, langkah itu juga melenyapkan jejak penyebaran virus dari hewan ke manusia.

Dalam penyelidikannya, WHO antara lain akan menjalankan protokol pelacakan, dengan mewawancarai langsung pasien pertama, beserta keluarga dan lingkungan kerja. Hal ini seharusnya sudah dilakukan Januari 2020 lalu, namun kebijakan lockdown ketat oleh pemerintah di Beijing menghalangi hal tersebut.

Menurut rencana, delegasi WHO harus menjalani karantina selama dua pekan terlebih dulu sebelum bisa mengawali penyelidikan di lapangan.

rzn/as (rtr, afp)

Laporan Pilihan