Warga Panama Setujui Perluasan Terusan Panama | Fokus | DW | 23.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Warga Panama Setujui Perluasan Terusan Panama

Setiap tahunnya 13.000 kapal melewati terusan itu, dan menghasilkan 1,4 milyar Dollar. Modernisasi terusan itu diharapkan akan mendatangkan pemasukan empat kali lipat.

Sebuah kapal container lintasi terusan Panama

Sebuah kapal container lintasi terusan Panama

Para pengritik memperingatkan, Panama akan terbelit hutang dan dampak perluasan terusan itu tidak dapat diperhitungkan sebelumnya.

Kata "tidak" berwarna hitam pada latar belakang merah yang terpampang di tiang lampu jalan dan dinding-dinding rumah ternyata gagal. Kampanye bernilai jutaan Dollar dari pemerintah dan perusahaan telah membuahkan hasil. Dominasi kata "ya" pada latar belakang berwarna hijau tidak dapat diganggu-gugat dan menjanjikan masa depan yang sejahtera.

Pesan yang tersirat, Panama hanya akan terlibat dalam globalisasi bila terusan itu diperluas. Kalau tidak, lalulintas barang akan menempuh jalan lain seperti Terusan Suez. Dan yang lebih buruk lagi adalah bila melewati Amerika Tengah atau Amerika Utara. Nicaragua dapat menyediakan terusan sebagai alternatif, dan Meksiko akan menyediakan jalur rel untuk kereta pengangkut peti kemas.

Sejak 93 tahun, ketiga pintu air pada Terusan Panama boleh dikatakan berfungsi tanpa ada kerusakan yang berarti. Sampai peralihan abad, terusan itu merupakan wilayah kedaulatan AS. Sekarang sudah menjadi milik Panama dan sudah menghasilkan 40 persen anggaran negara. Tetapi menurut pengelola terusan itu, batas kapasitas 40 kapal yang disalurkan setiap hari itu terlalu sedikit. Antrian semakin panjang. Dengan pintu air yang baru, mulai tahun 2014, jumlah tersebut dapat dilipat-gandakan. Dan kapal angkutan Post-Panamax yang panjangnya hampir setengah kilometer dan dapat mengangkut 12.000 peti kemas, juga dapat melalui terusan ini. Pemasukan dari tiap kapal berkisar pada 100.000 Euro.

Para pengritik memperingatkan, biaya pembangunan yang diperkirakan berjumlah 4,2 milyar Euro itu tidak akan mencukupi. Panama akan terbelit hutang dengan mengorbankan program tunjangan sosial dan juga mengorbankan generasi-generasi mendatang. Lebih dari itu, terusan yang diperbesar itu akan membutuhkan lebih banyak lagi air tawar. Bendungan baru akan mengusir sejumlah komunitas Campesino dari tanah mereka dan menghancurkan ruang lingkup kehidupan berbagai jenis flora dan fauna.

Sekarang alasan-alasan itu disingkirkan oleh referendum yang dijalankan. Warga Panama telah memberikan persetujuannya. Oleh sebab itu mulai bulan Maret tahun depan, mesin keruk akan mulai bekerja. Keluarga dari direktur pengelolaan terusan itu, Aleman Subieta, boleh dikatakan merajai bidang bangunan di negerinya. Tetapi banyak pihak tentunya ingin ikut meraih keuntungan. Perusahaan asing pun dapat mengadu untung, demikian dikemukakan Christine Göllner dari Kamar Dagang dan Industri Jerman-Panama.

"Perluasan terusan akan membuka peluang pula bagi perusahaan-perusahaan Jerman. Beberapa diantaranya sudah menunggu di tempat. Misalnya perusahaan Bilfinger Berger, yang telah menyelesaikan jembatan kedua di atas Terusan Panama pada tahun 2004, masih tetap berada di sana. Demikian pula sejumlah perusahaan besar, perusahaan menengah, kantor insinyur dan konsultan, berharap mendapat bagian."

Panama akan menjadi tambang emas untuk sejumlah kalangan. Tetapi 1,5 juta warga miskin di negara itu tidak akan dapat menikmatinya, bila pemerintah tidak membagi pemasukan dari Terusan Panama secara adil.