Usul Perubahan Strategi AS di Irak. | Fokus | DW | 18.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Usul Perubahan Strategi AS di Irak.

Mantan menlu AS James Baker dari Partai Republik bekerjasama dengan sejumlah wakil dari Partai Demokrat untuk menyusun alternatif bagi politik yang dijalankan Presiden Bush di Irak.

Irak yang porak poranda.

Irak yang porak poranda.

Usulan itu sedianya baru akan dipublikasikan setelah pemilihan Kongres bulan November. Tetapi mantan Menlu AS James Baker merasa sudah harus memberikan gambaran singkat, bahwa kelompok studi yang dipimpinnya akan menganjurkan perubahan politik di Irak.

Tetapi bukan langkah drastis seperti penarikan pasukan secara tergesa-gesa dan juga bukan untuk membagi-bagi Irak menjadi wilayah-wilayah otonomi bagi warga Kurdi, Syiah dan Sunni. Bentuk strategi baru itu adalah kerjasama regional, yang terutama mengikut-sertakan Suriah dan Iran. Washington dikatakan harus mau berbicara dengan musuh-musuhnya. Dan ini berarti pemerintah AS harus mengupayakan agar Damaskus dan Teheran mau mengurangi dukungan mereka bagi para pemberontak di Irak dan menciptakan landasan kepentingan bersama di negara itu.

Landasan itu sebenarnya sudah lama ada dan setidaknya Teheran juga sudah lama mengakuinya. Sebab setelah pertempuran bertahun-tahun antara Iran dan Irak serta ketegangan dengan Bagdad, Iran berkepentingan agar situasi di negara tetangganya dapat pulih dan stabil dalam waktu singkat. Ketenangan di Irak juga akan membawa perbaikan hubungan dengan Iran. Apalagi setelah jatuhnya Saddam Hussein, kelompok mayoritas Syiah lah yang menentukan jalannya politik di Irak. Di masa lalu Suriah juga punya masalah dengan Irak dan tidak menyesalkan tumbangnya rejim Saddam Hussein.

Tetapi Teheran dan Damaskus terus dikecam dan diserang oleh Washington. Iran, karena politik atomnya, dan Suriah karena peranannya di Libanon dan dukungannya bagi kelompok radikal Palestina. Oleh sebab itu kedua negara tersebut sudah lama menyadari pula bahwa mereka dapat memanfaatkan Irak untuk menentang AS. Tekanan yang terlalu kuat dari Washington dapat dan akan memperkuat dukungan Iran dan Suriah bagi kelompok yang anti Amerika di Irak, sehingga posisi Washington yang di Irak memang sudah gawat, akan terus memburuk.

Pemerintah AS sekarang seharusnya menyadari hal itu, tetapi tidak menunjukkan kesediaan untuk menarik konsekuensi. Menteri pertahanan AS Donald Rumsfeld baru saja kembali mengecam peranan negatif yang dimainkan Suriah dan Iran di Irak. Orang-orang seperti Rumsfeld pastilah tidak mau berbicara dengan Damaskus atau Teheran, sebaliknya mereka lebih mengutamakan ditingkatkannya tekanan militer.

Anjuran dari kelompok Baker tentunya tepat, bagi dilakukannya pembicaraan dengan Teheran dan Damaskus. Sebab Washington tidak mampu lagi untuk melakukan petualangan militer lebih lanjut di kawasan itu dan harus mengurangi jumlah pihak yang sudah atau berpotensi menjadi musuhnya di kawasan itu. Dengan demikian penarikan pasukan secara teratur dari Irak dapat dimulai, tanpa akan mengakibatkan perang saudara di negara itu.