1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Seorang anak laki-laki duduk di depan bangunan hancur di Donbas, Ukraina timur
Presiden Ukraina mengatakan bahwa sejauh ini 243 anak telah tewas, 446 terluka, dan 139 lainnya hilangFoto: Aris Messinis/AFP/Getty Images
KonflikEropa

Ukraina: 200 Ribu Anak Dibawa Paksa ke Rusia

2 Juni 2022

Presiden Volodymyr Zelenskyy menuduh Moskow membawa paksa 200.000 anak Ukraina ke Rusia. Ia menyebut bahwa Ukraina akan menghukum mereka yang bertanggung jawab.

https://www.dw.com/id/ukraina-200-ribu-anak-dibawa-paksa-ke-rusia/a-62004491

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut 200 ribu anak termasuk di antara warga Ukraina yang dibawa secara paksa ke Rusia.

Menurut Zelenskyy, mereka adalah anak-anak yang diambil dari panti asuhan, diambil dari orang tua mereka, dan anak-anak yang dipisahkan dari keluarga mereka.

Zelenskyy mengatakan Ukraina akan menghukum mereka yang bertanggung jawab. Dia menyebut Ukraina akan menunjukkan kepada Rusia bahwa negaranya "tidak dapat ditaklukan, rakyat kita tidak akan menyerah, dan anak-anak kita tidak akan menjadi milik penjajah.”

Presiden Ukraina mengatakan bahwa sejauh ini 243 anak telah tewas akibat perang, 446 terluka, dan 139 hilang.

Menlu Jerman: Ukraina harus menang

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengatakan kepada penyiar ZDF bahwa "Ukraina harus memenangkan" perang melawan Rusia. Hal ini disampaikannya saat ia ditanya mengenai pernyataan sebelumnya yang dibuat Kanselir Jerman Olaf Scholz.

"Tentu saja Rusia tidak boleh memenangkan perang ini, ia harus kalah secara strategis," ungkap Baerbock.

"Mereka ingin menghancurkan perdamaian di Ukraina. Itu sebabnya Ukraina tidak boleh kalah dalam keadaan apa pun — artinya, Ukraina harus menang."

Sebelumnya, Scholz mengatakan bahwa Rusia tidak boleh memenangkan perang. Namun, oposisi Kristen Demokrat mengkritik pernyataannya, dengan alasan bahwa lebih baik mengatakan bahwa Ukraina harus menang.

Rusia gagal membayar utang 1,9 juta dolar

Komite Penentuan Derivatif Kredit (CDDC) mengatakan bahwa Rusia telah gagal membayar 1,9 juta dolar atau lebih dari 27,5 miliar rupiah. Utang ini termasuk dengan bunga yang masih harus dibayar pada obligasi dolar.

Kegagalan Rusia untuk membayar utang akan memicu potensi yang lebih besar bagi ketidakmampuan negara itu dalam membayar utang bernilai miliaran dolar.

Sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat dan sekutunya sebagian besar telah membuat Rusia terasingkan dari sistem keuangan global.

rs/ha (AP, AFP, dpa, Reuters)