1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Foto menunjukkan Pohon Angin yang jadi sumber energi.
Prototipe "Pohon Angin" yang menghasilkan listrikFoto: AFP/F. Tanneau

Turbin Angin Vertikal untuk Masa Depan

Matthias Thomi
20 Maret 2021

Turbin angin vertikal bukanlah ide baru, tapi masih belum diproduksi dalam skala besar. Padahal jenis turbin ini tidak berisik, hemat lahan, dan ramah lingkungan.

https://www.dw.com/id/turbin-angin-vertikal-bagi-perlindungan-lingkungan/a-56850710

Turbin angin masa depan mungkin akan punya tiga bilah rotor yang berputar vertikal pada porosnya sendiri. Sampai sekarang, turbin vertikal yang tingginya sekitar 100 meter itu belum efektif menghasilkan listrik. Tapi penemunya yakni Patrick Richter percaya bahwa ia dan timnya bisa menemukan solusi.

Lebih dari 6 tahun Patrick Richter merancang turbin itu sebagai hobi. Setelah itu, ia bekerja sama dengan para ahli selama enam tahun untuk menciptakan prototipenya. Ia bercerita, sangat senang ketika untuk pertama kali mewujudkan rancangannya, dan melihat bentuk jadinya.

Turbin angin yang ramah lingkungan

Prototipe ini dibuat di sebuah hanggar di dekat kota Zürich, Swiss. Bagian pertama dari bilah rotor yang diuji coba tingginya mencapai 27 meter, dengan berat 2 ton. Bagian ini dibuat dari bahan fiberglass atau serat kaca, dan resin sintetis.

Turbin angin vertikal yang tampak seperti menara itu saat ini berdiri di negara bagian Nordrhein-Westfalen, Jerman. Penemunya mengatakan, turbin ini baik bagi lingkungan hidup. Misalnya, turbin sangat baik bagi burung-burung karena para burung dapat dengan jelas melihatnya. Dengan demikian, tidak ada burung yang berisiko terkena pukulan seperti pada turbin angin biasa. Selain itu, kelelawar juga bisa menghindar. 

"Turbin ini suaranya juga tiga kali lebih halus daripada turbin konvensional. Dalam jarak tak terlalu jauh sudah tak terdengar lagi. Ini seperti menara yang bergerak perlahan, sehingga bisa ditempatkan di berbagai tempat, ini tidak mungkin dilakukan dengan dengan turbin konvensional," jelas Patrick Richter.  

Tidak meghasilkan banyak tenaga

Turbin angin vertikal menjalani percobaan di lapangan terbang Dübendorf, Swiss, pada tahun 2011. Tes kedua diadakan tahun 2012 di Chur, juga di Swiss. Tes itu mengungkap beberapa hal yang membuat penemunya sadar akan kekurangan turbin. Roda angin dengan 12 bilah yang bergerak sesuai hembusan angin itu tidak menghasilkan banyak tenaga.

Patrick Richter terancam gagal, apalagi kemudian berhembus angin kencang yang merusak obyek buatannya. "Ini adalah pukulan bagi saya karena terjadi hanya 10 hari setelah selesai dibuat. Ini juga membuat pekerjaan kami mundur beberapa langkah,” tutur Richter.

Didukung oleh tiga motor

Delapan tahun kemudian, dengan banyak percobaan di laboratorium, Patrick Richter dan timnya berhasil mengatasi masalah tersebut. Kini, bilah rotor bergerak sesuai hembusan angin, tapi dapat dukungan tiga motor. Itulah jantung penemuannya.

Motor memungkinkan semua bilah selalu berada di posisi optimal, semua bilah berada di posisi optimal. Sehingga aliran angin tidak terhenti pada bilah manapun dan setiap bilah bisa ikut menggerakkan seluruh rotor secara teratur. Dengan demikian turbin bisa berputar secara perlahan, dan tidak bersuara keras. "Selain itu, instalasi ini bisa dibuat dalam ukuran lebih besar."

Sudah mulai beroperasi

Dengan prototipe itu, Patrick Richter ingin berusaha memasuki pasar. Sejumlah proyek di Asia dan Amerika sudah berada dalam fase perencanaan. Dalam prototipe itu tertanam modal usaha lebih dari 18 juta euro atau sekitar 308 miliar rupiah.

Sejak kecil ia memang ingin jadi pionir."Kalau tidak berani, tidak akan berhasil," kata Richter. Sejak kecil ia memang ingin jadi pionir. Begitu juga nasihat orang tuanya. "Jika orang membuat sesuatu sendiri, kemudian sadar betapa besar tantangannya, orang bisa gentar. Tapi momen-momen keberhasilan bisa melenyapkan keraguan." Pembuatan instalasi angin vertikal yang pertama sudah diselesaikan, dan sudah beroperasi mulai Oktober 2020. (ml)