1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikSelandia Baru

Wang Yi Awali Tur Diplomatik di Selandia Baru dan Australia

19 Maret 2024

Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengawali tur diplomatiknya di Selandia Baru, Senin (18/3), sebelum bertolak ke Australia. Dia menawarkan penguatan kerja sama ekonomi di tengah krisis geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.

https://p.dw.com/p/4dtGN
Wang Yi di Wellington
Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi bersama Menlu Winston Peters di Wellington, Senin (18/3)Foto: Hagen Hopkins/AP Photo/picture alliance

Pekan ini, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi melakoni misi pelik di dua negara sekutu Amerika Serikat di selatan Pasifik. Pada Senin (18/3), Wang tiba di ibu kota Wellington, Selandia Baru, dan dijadwalkan bertolak ke Canberra, Australia, pada Selasa (19/3), untuk berbicara dengan Menlu Penny Wong keesokan harinya.

Di Selandia Baru, Wang Yi bertemu dengan rekan sejawatnya, Winston Peters, dan Menteri Perdagangan Todd McClay, sebelum kemudian dijamu Perdana Menteri Christopher Luxon. Agenda pembahasan berpusat pada kerja sama ekonomi. Dalam pertemuan dengan PM Luxon, misalnya, dia menegaskan keinginan Cina menjadi mitra strategis di bidang pendidikan, bisnis, infrastruktur dan inovasi teknologi.

Cina saat ini sudah menjadi mitra dagang terbesar Selandia Baru. Menurut pemerintah di Wellington, volume lalu lintas perdagangan barang dan jasa antara kedua negara mencapai USD 23,5 miliar pada tahun 2023.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Namun ketika kerja sama perdagangan terus berkembang, kedua negara kian menjauh dalam isu geopolitik. Selandia Baru adalah anggota aliansi pertukaran data intelijen, Lima Mata, yang mencakup Amerika Serikat dan Australia. Tapi jika di masa lalu Selandia Baru cenderung bersikap moderat, pemerintah di Wellington belakangan kian kritis terhadap agresifitas militer Cina.

Wang singgung AUKUS

Dalam jamuan kerja dengan Menlu Winston Peters, Wang diajak membahas "area-area yang menjadi titik perbedaan," antara lain situasi hak asasi manusia di Xinjiang, Hong Kong dan Tibet, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri.

Menurut Peters, lawan bicaranya sempat menyinggung tawaran AS kepada Selandia Baru untuk bergabung dengan pakta pertahanan AUKUS, bersama Australia dan Inggris. Persekutuan itu dibentuk untuk menjawab geliat militer Cina di Samudera Pasifik, terutama di sepanjang Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan.

"Dia memang membahas AUKUS dengan saya," ujarnya. "Saya menegaskan hak setiap negara untuk secara mandiri mengelola perjanjian pertahanannya, jika merasa dibutuhkan."

Di ujung pertemuan, kedua pihak sepakat "menggarisbawahi kepentingan bersama Selandia Baru dan Cina untuk kawasan Indo-Pasifik yang aman dan makmur, serta menyuarakan kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan dan Selat Taiwan."

Selain mengklaim kedaulatan atas Taiwan, Beijing memandang sebagian besar Laut Cina Timur dan Selatan sebagai bagian dari wilayah teritorialnya. Haluan tersebut memunculkan konflik dengan Jepang dan terutama jiran di Asia Tenggara, yakni Filipina, Vietnam, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Stabilitas melalui perdagangan

Dalam lawatannya, Wang mengesankan misi Beijing mendekatkan Selandia Baru dengan kerja sama ekonomi. Kedua negara saat ini sudah memadu Perjanjian Perdagangan Bebas, FTA. Pada 2008 lalu, Selandia Baru menjadi negara industri pertama yang menjalin kesepakan bebas pajak dengan Cina. Sejak itu, nilai ekspor ke negeri tirai bambu tersebut meningkat empat kali lipat.

Kini, Beijing menawarkan untuk memperluas rejim bebas pajak untuk sejumlah komoditas lain.

Menurut laporan media pemerintah Cina, Selandia Baru sudah menyepakati perluasan FTA dalam pertemuan antara Menlu Wang dengan Menteri Perdagangan Todd McClay. Perundingannya sebabnya ingin "dimulai sesegera mungkin," kata Wang.

"Kami akan bekerja sama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan dan di dunia," ujarnya, seraya menambahkan betapa relasi antara Cina dan Selandia Baru sedang menikmati "momentum yang sehat."

Sebelum perjalanan, Wang menegaskan kesediaan Cina memperkuat komunikasi strategis dengan pemerintah di Wellington untuk isu regional atau internasional.

Agenda kontroversial di Australia

Misi serupa diemban Wang Yi dalam lawatannyya ke Australia. Selain bertemu dengan Menteri Luar Negeri Penny Wong di Canberra, Rabu (20/3), dia juga diundang menghadiri pertemuan bisnis yang diadakan oleh Dewan Bisnis Cina Australia, ACBC, dengan 11 perwakilan dunia usaha, universitas dan lembaga wadah pemikir.

Namun berbeda dengan di Selandia Baru, kunjungan Wang Yi di Australia membibit kontroversi. Di sela-sela jamuan resmi, Wang ikut merencanakan pertemuan dengan Paul Keating, bekas perdana menteri Partai Buruh yang sering mengritik kebijakan konfrontatif terhadap Cina oleh pemerintahan Anthony Albanese.

"Saya mendapat undangan mengejutkan," kata Keating soal pertemuan dengan Wang Yi. "Saya senang bisa menjadi penasehat bagi Kementerian Luar Negeri Cina. Saya akan merasa senang bisa duduk bersama dan mendiskusikan isu internasional."

Pemerintah Australia berusaha menepis spekulasi seputar arti pertemuan tersebut. "Tidak mengejutkan bahwa dia akan bertemu dengan bekas perdana menteri, terutama dengan bekas PM Paul Keating yang memprioritaskan kerja sama dengan Asia," kata menteri senior Chris Bowen.

Namun juru bicara luar negeri Partai Liberal Australia, Simon Birmingham, menilai dukungan Keating kepada Cina "pastinya akan digunakan untuk keperluan propaganda di tempat lain."

rzn/as (rtr,afp,ap)