1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Bendera Kepulauan Solomon
Bendera Kepulauan SolomonFoto: Butenkov Aleksey/Zoonar/picture alliance
PolitikKepulauan Solomon

Australia Waspadai Kunjungan Menlu Cina di Kepulauan Pasifik

26 Mei 2022

Menlu Cina Wang Yi awali kunjungan 10 hari ke 8 negara di Kepulauan Pasifik di Solomon. Sebagai reaksi, Australia menugasi Menlu Penny Wong ke Fiji untuk menjauhkan jirannya itu dari pengaruh Beijing

https://www.dw.com/id/australia-tandingi-kunjungan-menlu-cina-di-kepulauan-pasifik/a-61938859

Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, ditemani delegasi beranggotakan 20 orang sudah mendarat di Honiara, ibu kota Kepulauan Solomon, Kamis (26/5). Kedua negara sebelumnya sepakat memadu lebih erat aliansi keamanan dan politik, selain tema ekonomi.

Honiara adalah tujuan pertama Wang Yi yang diagendakan mengunjungi delapan negara Kepulauan Pasifik selama 10 hari ke depan. Lawatannya itu ramai ditafsirkan sebagai upaya Beijing memperluas pengaruh militer dan politiknya di kawasan.

Wang Yi dikabarkan membawa serta paket bantuan pembangunan bernilai jutaan US Dollar untuk ke10 negara di Selatan Pasifik itu. Selain itu, Cina juga menawarkan perjanjian perdagangan bebas dan pengurangan tarif impor.

Sebagai timbal baliknya, Cina menawarkan rencana kerja sama selama lima tahun yang dirancang untuk membetoni pengaruh Beijing di kawasan. Dalam dokumen yang bocor dan diverifikasi oleh AFP, Cina menawarkan jasa pelatihan kepolisian, membantu pembangunan infrastruktur keamanan siber, melakukan pemetaan dasar laut dan akses terhadap sumber daya alam yang lebih besar.

Dokumen berjudul "visi pembangunan komperhensif” itu diyakini bakal ditandatangani ketika Wang Yi bertemu menteri-menteri luar negeri regional di Fiji, Senin (30/5) depan.

Peta Kepulauan Pasifik
Peta Kepulauan Pasifik

Australia merespons cepat

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese yang baru dilantik bereaksi sangat cepat dan pada hari Kamis mendadak mengirimkan Menteri Luar Negeri Penny Wong dalam misi diplomasi ke Fiji. Padahal Wong, yang baru menjabat sejak lima hari lalu, baru saja tiba Rabu (25/5) malam dari perjalanan dinas di Tokyo, Jepang.

"Kita harus merespons lawatan ini karena merupakan bagian dari upaya Cina memperluas pengaruhnya di kawasan, di mana Australia sudah menjadi mitra keamanan terpenting sejak Perang Dunia II,” kata Albanese kepada stasiun televisi ABC.

Canberra berniat "meningkatkan” dana hibah bagi negara Kepulauan pasifik senilai USD 350 juta atau sekitar Rp. 510 triliun untuk pelatihan militer dan kepolisian, keamanan laut dan infrastruktur ramah iklim.

Saat ini Wong sedang ibu kota Fiji, Sufa, untuk merundingkan rencana tersebut dengan pemerintah setempat. 

Manuver diplomatik Cina di Selatan Pasifik juga ditolak Selandia Baru yang menilai intervensi Beijing tidak dibutuhkan di kawasan tersebut. "Kita di lingkup Pasifik sudah punya alat dan kemampuan untuk merespons setiap masalah keamanan yang muncul, dan Selandia Baru berkomitmen terhadap hal tersebut,” kata Perdana Menteri Jacinda Ardern.

Semai konflik di Selatan Pasifik

Rencana Cina, jika disetujui, dipercaya bakal semakin mengikat negara Kepulauan Pasifik ke dalam lingkup pengaruh Beijing

Karena selain berhak mengirimkan kepolisian dalam skenario kerusuhan massal, Cina juga akan melatih korps diplomatik dan menyediakan "beasiswa” bagi 2.500 pegawai negeri. 

"Adalah hal langka bahwa ada dokumen yang membuktikan ambisi Cina memosisikan dirinya sebagai adidaya keamanan regional,” kata Mihai Sora, analis politik internasional di lembaga wadah pemikir AS, Lowy Institute.

Sementara Anne-Marie Brady, Guru Besar Politik di Universitas Canterbury, Selandia Baru menilai, rangkaian lawatan Wang Yi merupakan manuver Cina untuk melemahkan posisi Amerika Serikat. "Ini adalah gerakan menjepit. Cina ingin menjauhkan AS dari kawasan dan mengisolasi Australia serta Selandia Baru,” tuturnya.

Salah satu negara Kepulauan Pasifik yang jelas menolak rencana Cina adalah Federasi Micronesia. Dalam sebuah surat kepada semua jirannya, Presiden David Panuelo menulis, betapa rencana tersebut sekilas terihat "menarik,” tapi akan membuka celah bagi Cina "merebut akses dan menguasai kawasan kita.”

"Hasilnya adalah retaknya perdamaian, keamanan dan stabilitas regional.”

rzn/as (ap, rtr)