″Tubuhku bukan milikku″ - Geliat Anti Feminisme di Indonesia | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 02.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Hak Perempuan

"Tubuhku bukan milikku" - Geliat Anti Feminisme di Indonesia

Kelompok perempuan konservatif Indonesia mengobarkan perlawanan terhadap narasi feminisme dengan dalih agama. Mereka menuding feminisme sebagai produk barat dan sebabnya mendulang kecaman dari aktivis perempuan.

Sebuah akun Instagram bernama Indonesia Tanpa Feminis membuat gundah aktivis perempuan. Betapa tidak, akun yang baru dibentuk itu mengkampanyekan gerakan anti feminisme lantaran dinilai tidak sesuai dengan ajaran Islam.

"Jika kau tak paham konsep dalam Islam, wajarlah jua feminsime yang kau usung selalu," tulis pengunggah, sembari membubuhkan tagar #UninstallFeminism. Sebuah kalimat menohok juga dimuat di bagian profil, "tubuhku bukan milikku. Indonesia tidak membutuhkan feminisme."

Sontak akun tersebut mengundah kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari pegiat perempuan dan Direktur Support Group and Resource Center on Sexuality Studies di Universitas Indonesia, Nadya Karima Melati. "Ini adalah perang wacana," tuturnya saat dihubungi DW.

Sejak beberapa tahun belakangan gerakan perempuan konservatif mulai rajin memenuhi ruang-ruang publik di Indonesia.

Akun IndonesiaTanpaFeminis di Instagram yang telah menjaring lebih dari 2000 pengikut

Akun IndonesiaTanpaFeminis di Instagram yang telah menjaring lebih dari 2000 pengikut

Beberapa waktu silam misalnya Aliansi Indonesia Cinta Keluarga mengkampanyekan gerakan anti RUU-Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai proyek kaum feminis buat melegalkan budaya seks bebas. Untuk itu mereka aktif melobi Komisi VII DPR yang menggawangi pembahasan RUU PKS.

Kelompok yang sama misalnya menuntut agar Mahkamah Konstitusi mengkriminalisasi hubungan seksual di luar nikah.

Nadya meyakini gerakan ini tidak hanya berusaha membumikan wacana anti-feminisme melalui proses legislasi atau media-media sosial, melainkan juga dunia akademi. Menurutnya sentimen anti pemberdayaan perempuan di Indonesia ini bukan lahir dari kesadaran gender, melainkan digerakkan oleh kepentingan politik yang mengatasnamakan agama.

Baca juga: Feminisme di Dunia, Apa Yang Kini Diperjuangkan Aktivis Perempuan?

"Mereka sampai mengokupasi perguruan tinggi yang punya kajian tentang perempuan. Jadi mestinya kajian perempuan bernafas feminis, tapi di beberapa tempat kajiannya malah menentang feminisme," kata dia. Padahal "tanpa terpapar oleh gagasan feminis, seorang perempuan bisa jadi misoginis," imbuhnya.

Dalam hal ini akun IndonesiaTanpaFeminis di Instagram membantu menyebarkan narasi bantahan terhadap gagasan feminisme, antara lain dengan mengkampanyekan "tubuhku milik Allah" yang merujuk kepada kepemilikan mutlak tuhan atas ciptaannya.

Unggahan tersebut mendorong Penulis dan dosen di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Kalis Mardiasih , untuk bersuara. Melalui akunnya di Instagram, dia mengingatkan keleluasaan dan kesadaran baru yang dinikmati perempuan Indonesia saat ini adalah berkat perjuangan kaum feminis.

"Karena Allah menitipkan tubuh kepadaku, maka aku wajib menjaga tubuhku dengan baik, yaitu dengan kesadaran sepenuhnya bahwa tubuhku punya hak: hak kesehatan reproduksi, hak cuti menstruasi & hamil, hak akan rasa aman dengan tidak menerima diskriminasi, pelecehan dan kekerasan," tulisnya.

Baca juga: Perempuan Muslim Konservatif Galang Petisi Tolak RUU Anti Kekerasan Seksual

Aktivis perempuan Nadya Karima Melati meyakini kemunculan gerakan anti-feminisme oleh perempuan konservatif antara lain lahir dengan semangat "perlawanan" yang disulut oleh menguatnya gerakan feminisme itu sendiri. Ideologi konservatif yang mereka suarakan bahkan dinilai berhasil menyusup ke Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Sebab itu dia mendesak agar media dan akademisi tidak memberikan ruang bagi narasi anti-feminisme karena dinilai mengancam gerakan pemberdayaan perempuan. "Kalau misalnya kita sibuk dengan Indonesia Tanpa Feminis, itu sama saja kita membiarkan wacana kita disetir oleh wacananya mereka. Dan kita memberikan tempat bahwa mereka diakui oleh kita."

rzn/ap

 

Laporan Pilihan