Seperti Apa Transportasi Udara di Jerman Setelah Pandemi? | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 21.05.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Transportasi

Seperti Apa Transportasi Udara di Jerman Setelah Pandemi?

Asosiasi Bandara Jerman telah menerbitkan daftar langkah-langkah yang diharapkan dapat membuat penumpang merasa aman dan memastikan pesawat bisa tetap beroperasi.

Pembatasan perjalanan akibat wabah Covid-19 perlahan-lahan mulai dilonggarkan di seluruh Eropa. Dalam waktu dekat, ada kemungkinan perjalanan komersial lewat udara akan kembali beroperasi.

Asosiasi Bandara Jerman (ADV) pun menerbitkan pedoman yang menetapkan langkah-langkah kebersihan agar diikuti oleh bandara untuk mengurangi risiko terinfeksinya penumpang dan karyawan saat bepergian dengan pesawat.

Dibandingkan dengan April dan Mei tahun lalu, volume penumpang pesawat di Jerman pada tahun ini turun sebesar 99 persen, demikian menurut asosiasi ADV. “Yang penting adalah memberikan sinyal bagi para calon penumpang dan pengambil kebijakan bahwa bandara telah siap dan memberlakukan semua tindakan yang diperlukan,” kata asosiasi itu.

Persyaratan memakai masker meningkat

Dokumen setebal 17 halaman yang diterbitkan oleh ADV berisi rekomendasi langkah-langkah kesehatan dan keselamatan terkait penyebaran virus corona jenis baru SARS-CoV-2 untuk semua area utama bandara, antara lain termasuk area check-in, naik dan turun pesawat, transfer, dan kontrol perbatasan.

Menurut dokumen tersebut, para pelancong yang berada di semua bandara di Jerman akan diminta untuk mengenakan masker saat check-in, sambil menunggu naik pesawat, dan saat naik, di kontrol perbatasan, dan di area klaim bagasi. 

Saat ini, hanya negara bagian Bayern, Berlin, Baden-Württemberg, Nordrhein-Westfalen, dan Niedersachsen yang mewajibkan calon penumpang untuk mengenakan masker di semua bagian bandara. Negara-negara bagian lain di Jerman lain sejauh ini hanya mewajibkan pemakaian masker saat pemeriksaan keamanan dan di tempat penyerahan bagasi.

Untuk memastikan jarak lebih jauh antara setiap individu, pihak bandara juga akan menyediakan lebih banyak loket check-in serta lebih banyak bus untuk mengangkut penumpang dari terminal bandara ke pesawat. Tempat duduk di area tunggu akan diblokir dan penumpang harus menjaga jarak minimal 1,5 meter satu sama lain saat mengantre.

Sewaktu di kontrol perbatasan, penumpang akan diminta melepas masker wajah yang memungkinkan petugas untuk melihat wajah mereka secara menyeluruh. Pelepasan masker ini dilakukan sebelum melangkah ke loket petugas pengawas untuk menghindari melambatnya antrean.

Pemindai sidik jari juga akan lebih sering lagi didisinfeksi. Masing-masing bandara akan memutuskan bagaimana implementasi standar baru ini, misalnya melalui penggunaan kamera keamanan atau pengawasan polisi.

Beroperasi hanya menggunakan separuh kapasitas

Dengan kriteria kesehatan dan keamanan yang direkomendasikan ini, asosiasi mengatakan bandara pada awalnya akan hanya mampu melayani antara 20 hingga dan 50 persen dari kapasitas normal.

Tindakan luar biasa ini bersifat sementara dan akan disesuaikan berdasarkan volume penumpang. “Tujuannya adalah untuk menormalisasi perjalanan udara secara bertahap,” demikian tulis rilis asosiasi ADV.

“Semua penumpang harus mengetahui bahwa mereka tidak terpapar risiko infeksi yang lebih besar daripada jika mereka yang berada di moda transportasi umum lainnya atau di trem,” ujar Direktur Pelaksana ADV, Ralph Beisel. “Pada saat yang sama, setiap orang juga dianjurkan untuk melakukan tugas mereka dan mengikuti peraturan kebersihan dan jarak sosial.”

(ed.: ae/pkp)