To Lam Resmi Jadi Presiden Vietnam, Kekuasaan Makin Terpusat
7 April 2026
Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam, secara bulat dipilih oleh parlemen sebagai presiden negara tersebut untuk masa jabatan lima tahun, menjadikannya pemimpin Vietnam paling berkuasa dalam beberapa dekade terakhir.
Setelah upacara pelantikannya, Lam mengatakan kepada Majelis Nasional bahwa prioritas utamanya adalah menjaga perdamaian dan stabilitas, yang menurutnya merupakan fondasi bagi pertumbuhan yang cepat dan berkelanjutan.
“Kami bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga semua orang dapat menikmati manfaat dari pembangunan,” katanya.
Situs web parlemen menyatakan bahwa seluruh 495 anggota parlemen yang hadir pada sidang Majelis Nasional pada Selasa mendukung nominasi Partai Komunis, sementara lima anggota parlemen tidak hadir.
Para anggota parlemen juga akan memilih perdana menteri baru pada Selasa (7/4) untuk menggantikan Pham Minh Chinh yang akan segera mengakhiri masa jabatannya.
Apa yang dijanjikan To Lam?
To Lam telah mengejutkan negara itu dengan kecepatan reformasinya. Dalam waktu kurang dari dua tahun sebagai pemimpin partai, Lam menyingkirkan para pesaing politiknya dan mentransformasi negara melalui agenda reformasi agresif, bahkan menggambar ulang peta administratif dengan menggabungkan beberapa provinsi dan memangkas birokrasi.
Ia juga mengubah model pemerintahan dengan menghapus delapan kementerian sekaligus mendorong proyek-proyek infrastruktur besar-besaran.
Lam kini mengusulkan “model pertumbuhan baru” yang bertujuan mempercepat pengambilan keputusan dan memperkuat sektor swasta guna mencapai pertumbuhan ekonomi dua digit setiap tahun selama lima tahun ke depan.
Lam juga menyatakan bahwa ia akan memprioritaskan kemandirian dalam pertahanan.
Ia mengatakan bahwa tujuan utamanya adalah menjaga stabilitas, mendorong pembangunan nasional yang cepat dan berkelanjutan, serta meningkatkan semua aspek kehidupan rakyat.
Kiprah Lam dalam politik Vietnam
To Lam muncul sebagai salah satu tokoh paling berkuasa dalam politik negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir setelah terpilih sebagai presiden, sementara ia juga menjabat sebagai kepala Partai Komunis yang berkuasa.
Lam, seorang pejabat keamanan lama yang sebelumnya menjabat sebagai menteri keamanan publik Vietnam, disetujui secara bulat oleh Majelis Nasional untuk menjabat sebagai presiden selama lima tahun. Langkah tersebut “secara efektif menjadikannya sebagai ‘pemimpin tertinggi’ Vietnam,” kata Le Hong Hiep, peneliti senior Program Studi Vietnam di ISEAS – Yusof Ishak Institute di Singapura.
Perubahan ini juga telah “menggeser kepemimpinan negara dari model kolektif berbasis konsensus menuju gaya kepemimpinan terpusat ke satu figur,” katanya kepada AFP.
Dengan secara bersamaan memegang jabatan presiden, Lam kini memimpin baik aparatus partai maupun kepemimpinan negara, memberinya pengaruh besar dalam pembuatan kebijakan dan tata kelola pemerintahan.
Lam, 67 tahun, membangun sebagian besar kariernya dalam lembaga keamanan negara yang kuat. Sebagai menteri keamanan publik sejak 2016, ia mengawasi kepolisian dan operasi keamanan dalam negeri serta memainkan peran penting dalam kampanye antikorupsi pemerintah.
Sejak naik ke puncak kepemimpinan partai, Lam bergerak cepat untuk merombak struktur politik dan administratif Vietnam. Pemerintahannya mendorong penyederhanaan birokrasi, pengurangan kementerian, serta percepatan proyek-proyek infrastruktur besar sebagai bagian dari upaya memodernisasi sistem pemerintahan negara tersebut.
Lam juga mengusulkan strategi ekonomi baru yang bertujuan mempercepat pengambilan keputusan dan memperluas peran sektor swasta, dengan target mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat di salah satu ekonomi paling dinamis di Asia Tenggara.
Editor: Ayu Purwaningsih