Tertular COVID-19, Hilang Kemampuan Rasakan Makanan | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 21.08.2021

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

CORONA

Tertular COVID-19, Hilang Kemampuan Rasakan Makanan

Salah satu akibat yang diderita orang setelah tertular COVID-19 adalah kehilangan kemampuan rasakan makanan. Tapi Jonas Wiloth melihat dampak positif juga ada.

Gambar menunjukkan selembar sosis yang bergambar wajah beruang

Selembar sosis dengan gambar wajah beruang

Jonas Wiloth senang makan pizza. Apalagi jika disantap bersama teman-temannya. Dia ingat baik malam di mana hidupnya serasa berubah seratus persen.

"Saat bersantap bersama, saya sadar, saya tidak merasakan apa-apa.” Awalnya ia pikir itu hanya akibat rempah-rempah yang salah, atau kokinya sedang tidak senang memasak. “Kemudian saya mengambil minuman, tapi dari minuman saya juga tidak merasakan apa-apa.” Hari berikutnya begitu pula. Akhirnya ia sadar ada yang tidak beres. 

Tertular COVID-19

Maret 2020 Jonas pergi liburan di pegunungan. Ia dan beberapa temannya tertular virus COVID-19. Teman-temannya bebas dari simtom apapun setelah 14 hari. Tapi Jonas kehilangan kemampuan mencium dan merasakan makanan. Hingga hari ini. 

Tonton video 03:09

Kehilangan Kemampuan Mengecap Rasa, Bobot Tubuh Berkurang

Tapi Jonas tidak menjadikannya beban berat. Awalnya ia memang kecewa. Tapi ia sekarang sudah biasa hidup dengan perasaan itu. Apa kata keluarga dan teman-temannya?

"Awalnya sebagian besar dari mereka tidak percaya,” kata Jonas Wiloth. Tapi lama-kelamaan mereka sadar, memang kenyataannya begitu. Karena Jonas sekarang juga makan makanan yang sebelumnya ia tidak suka sama sekali. Misalnya sayuran Rosenkohl. “Jadinya semua orang sekarang percaya," ujarnya sambil tersenyum.

Malah bisa kurangi bobot tubuh

Jonas bahkan bisa menemukan hal positif dari situasinya sekarang. Sebelum Corona ia sangat menyukai "junkfood". Hampir tiap hari ia makan sosis, pizza, dan makanan manis. Akibatnya, bobot tubuhnya di atas 100 kg. 

Sekarang ia jauh lebih langsing. Bobot tubuhnya menurun 34 kg setelah kehilangan indra perasanya. Sekarang ia memperhatikan kesehatan dan mengkonsumsi makanan sehat. Sayur yang dulu tidak ia sukai, sekarang ia lahap tanpa masalah.

"Sekarang saya hampir tidak menyantap karbohidrat sama sekali. Melainkan banyak protein putih telur, daging ayam atau kalkun.“ Ia menambahkan, kalau mengkonsumsi karbohidrat, biasanya dalam bentuk beras, ditambah brokoli atau wortel, atau mentimun. 

Itu jadi bahan pangan utamanya sejak pertengahan Maret. “Saya tidak makan pizza atau makanan berkadar lemak tinggi lainnya, karena tidak memuaskan pula."

Tapi kalau kentang goreng dia masih suka makan. Itu ada alasannya. Yaitu, kalau makan kentang goreng ia masih bisa mengingat rasanya. Makanan yang ia paling senang sekarang adalah Jalapeños. “Soalnya pedas, dan itu tetap bisa terasa walaupun yang lainnya tidak bisa saya rasakan lagi. Jadi saya suka."  

Merasa tetap beruntung

Walaupun pernah tertular Corona, Jonas yang berprofesi sebagai tukang ledeng merasa tetap beruntung. Ia berkata, banyak orang lainnya, yang kesehatannya sangat terganggu setelah tertular COVID-19, dan karantina 14 hari. 

“Ada yang kemampuan paru-parunya jadi terbatas, dan tidak bisa berolahraga lagi.“ Mereka tidak bisa menanggapi pengalaman tertular COVID-19 sebagai hal ringan, kata Jonas Wiloth. “Saya hanya kehilangan sedikit, sedangkan mereka kehilangan bagian besar dalam hidup mereka.“

Pada sebagian besar pasien, indra penciuman dan pengecap kembali setelah beberapa bulan. Kapan itu akan terjadi pada Jonas, tidak ada yang tahu. (ml/yp)