Tajuk: Paradoks Pemilu Afghanistan | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 10.09.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Tajuk: Paradoks Pemilu Afghanistan

Tiga pekan setelah pemilu presiden di Afghanistan, Presiden Hamid Karsai dinyatakan menang telak. Tapi, di saat yang sama tuduhan manipulasi pemilu oleh kubu Karsai makin marak.

Sybille Golte

Sybille Golte

Masyarakat internasional menggantungkan harapan tinggi pada Hamid Karsai. Sebagai pemegang peranan kunci dalam pembangunan kembali, Karsai diharapkan membawa perdamaian, keamanan dan demokrasi bagi Afghanistan.

Terlepas dari perdebatan mengenai hasil pemilu Afghanistan, satu hal yang sekarang sudah terlihat jelas: Afghanistan jauh dari situasi aman, damai dan demokratis. Justru tokoh kunci proses demokratisasi dihujani tuduhan yang tak ringan. Kubu Karsai diduga bertanggung jawab atas manipulasi besar-besaran yang sekarang harus diselidiki. Sebagian besar rakyat Afghanistan mungkin tidak terkejut mendengar tuduhan ini karena tim Karsai sejak awal kontroversial. Korupsi meraja-lela, kubu anak buah Karsai dekat dengan gembong obat bius, dan menejemen ekonomi yang salah - daftar tuduhan yang harus dihadapi tim Karsai sangat panjang. Sehingga tak mengherankan bila manipulasi pemilu juga menjadi bagian daftar itu.

Kesan yang muncul sangat berbahaya, karena justru mengguncang kepercayaan rakyat pada demokrasi. Warga Afghanistan yang tetap memberikan suaranya meski diancam Taliban, kini tentu merasa ditipu. Walaupun persentase manipulasi suara mungkin sedemikian rendah sehingga tanpa suara itupun Karsai tetap unggul, tapi penipuan ini akan menjadi noda hitam bagi pemerintahan selanjutnya.

Ini menyulitkan sekutu militer Afghanistan seperti Amerika Serikat, Inggris atau juga Jerman yang ingin secepat mungkin menetapkan tanggal untuk penarikan pasukan dari Hindukush. Tapi, sebelum bisa menarik diri, di Afghanistan harus ada pemerintahan yang stabil dengan presiden yang dapat dipercaya yang mampu menjamin keamanan dan memerangi pemberontak dengan kekuatan sendiri.

Penarikan pasukan dari Afghanistan sekarang menjadi hal yang mustahil. Afghanistan ibarat bom waktu dengan kekuatan ledak yang tidak dapat dikontrol lagi sehingga secara de facto kawasan ini berada di bawah pengawasan dan perlindungan NATO. Kritik terhadap kubu Karsai tentu patut disampaikan. Tapi pihak yang mendanai dan mendampingi proses pemilu juga harus siap menerima kritik. Tidak adakah cara yang lebih baik untuk mencegah manipulasi dalam pemilu?

Pujian Uni Eropa bagi apa yang mereka sebut pemilu yang positif, yang dilontarkan hanya sesaat setelah pemungutan suara usai adalah contoh penilaian yang terlalu dini. Kini Taliban dapat memanfaatkan kesenjangan antara gambaran ideal dan kenyataan untuk propagandanya. Seorang lagi yang bersorak gembira melihat kerancuan pemilu di Afghanistan adalah Mahmoud Ahmadinejad. Presiden Iran itu kini dapat merujuk pada dua standar berbeda yang digunakan Barat dalam menilai masalah manipulasi pemilu.

Apakah semua ini mengubah strategi Afghanistan secara umum. Tidak! Karena tidak ada alternatif bagi proses demokratisasi, pembangunan kembali dan kebijakan untuk menjamin keamanan, jika dunia internasional tidak ingin mengecewakan 50 persen rakyat Afghanistan yang dengan berani memanfaatkan hak pilihnya. Tapi, bertolak belakang dengan harapan semua pihak, pemilu justru tidak mendukung proses demokratisasi tapi menyebabkan langkah mundur di Afghanistan.

Sybille Golte
Editor: Ziphora Robina/Hendra Pasuhuk