Demi Meredakan Patah Hati, Stop "Stalking" Medsos Mantan
24 Februari 2026
Ini adalah hal yang kerap terjadi setelah patah hati: mengambil ponsel dan tanpa berpikir panjang langsung mengecek media sosial mantan. Apa dia sudah move on? Apa kabarnya? Apa sekarang dia sudah punya pacar baru?
Bagi banyak orang, hal itu tidak terasa berbahaya bahkan mungkin membantu mereka menggali informasi, menutup lembaran lama atau bahkan menenangkan diri setelah melalui guncangan emosional.
Namun selama satu dekade terakhir, penelitian psikologis menunjukkan gambaran lain: Berulang kali memeriksa media sosial mantan pasangan tidak meredakan patah hati. Bahkan hal tersebut kerap membuat rasa patah hati tetap 'hidup'.
“Mencari mantan secara daring membuat kita memperkuat koneksi-koneksi akan orang tersebut di otak yang sedang berusaha melemah,” kata Joanne Davila, seorang psikolog klinis di Stony Brook University di negara bagian New York, AS.
Apa kata sains soal stalking mantan setelah putus
Studi di bidang siberpsikologi dan perilaku manusia cenderung mengaitkan perilaku 'menguntit' mantan di media sosial dengan pemulihan emosional yang lebih buruk setelah putus, termasuk tingkat stres yang lebih tinggi, kerinduan yang lebih kuat, dan pertumbuhan diri yang lebih rendah.
“Temuan ini menunjukkan bahwa individu tersebut belum benar-benar melepaskan,” kata Michelle Drouin, profesor psikologi di Purdue University di negara bagian Indiana, AS. “Hal itu menghambat pemulihan dan meningkatkan trauma emosional atau keterikatan pada pasangan di masa lalu.”
Meskipun kepedihan emosional mendorong orang untuk memeriksa mantan di media sosial, melakukannya justru mempertahankan kepedihan tersebut. Namun hal ini sulit dihindari karena manusia secara alamiah terdorong untuk mencari informasi dan putus cinta menciptakan kekosongan informasi.
“Internet adalah ‘tempat berbahaya' bagi para pencari informasi,” kata Drouin. "Kita bisa mencari apa pun yang kita mau: ‘Bagaimana kabar mantan? Apakah mereka sudah move on?'”
Kita menginginkan informasi itu, kata Drouin, tetapi mendapatkan informasi tersebut justru membuat kita lebih sulit untuk move on.
Setelah putus, sistem keterikatan di otak menjadi aktif. Itu terjadi “ketika kita tidak merasa aman,” kata Davila. “Melihat mantan secara daring bisa dipandang sebagai attachment behaviour (perilaku keterikatan),” terutama bagi orang yang ditinggalkan.
Memeriksa profil mantan - berusaha menggapai seseorang yang familiar ketika Anda merasa sendirian dan tidak aman, mungkin akan memberi kelegaan sementara, tetapi kecil kemungkinan membantu mengatasi kepedihan emosional yang ada.
Media sosial menciptakan ‘lingkaran dopamin'
Media sosial memanfaatkan sistem penghargaan di otak. “Saat Anda melihat sesuatu yang baru itu membuat Anda memulai lingkaran dopamin baru. Anda seperti Anda memiliki sedikit kendali,” kata Drouin.
Dari foto baru, penanda lokasi, atau keterangan foto yang misterius, semua itu membuat otak seketika terasa terkendali dan membuat kita merasa aman karena memiliki informasi.
Namun jika tidak dikendalikan, hal ini dapat menjadi perilaku seseorang yang memiliki gangguan kecemasan dan kompulsif-obsesif.
“Mereka mengecek sosmed mantan dan merasa lebih baik,” kata Davila, “Lalu ketika ingin merasakan hal yang sama, mereka lalu mengulanginya.”
Terjebak dalam siklus seperti ini dapat mencegah orang memproses emosinya.
Di bawah stres, orang dapat menafsirkan sesuatu dengan cara yang merugikan dirinya, memperkuat kerinduan akan mantan bukan menyembuhkan rasa patah hati, kata Davila.
Tips perilaku sehat setelah putus
Jarang suatu hubungan berakhir baik-baik, terutama di media sosial, di mana cerita pribadi terasa tidak pernah selesai.
Jadi hal pertama yang harusnya dicoba: akhirilah cerita itu, setidaknya untuk diri sendiri, jangan terus menerus mengecek sosmed mereka, dan biarkan ikatan emosional melemah dengan sendirinya.
Atau hindari media sosia secara keseluruhan. Drouin merekomendasikan batasan digital sementara. “Semua penelitian menunjukkan bahwa jika Anda bisa menjauh dari media sosial selama 30 hari, itu seperti detoks,” katanya.
Kemudian, cobalah sesuatu yang benar-benar berbeda seperti “Berolahraga, berjalan kaki, hubungi teman Anda,” kata Davila. Pengalihan ini dapat membantu mengatur tekanan emosional.
Dan 'bingkai ulang' kehilangan tersebut. “Jika Anda putus, berarti hubungan itu memang tidak tepat untuk Anda,” kata Davila. Putus cinta, tambahnya, bukan sekadar akhir, itu adalah “kesempatan untuk berada dalam hubungan yang lebih sehat.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid