Hubungan Jangka Panjang: Seks Berkurang atau Berhenti
14 Oktober 2025
"Seks? Kami mungkin melakukannya beberapa bulan sekali,” – kata beberapa kenalan lelaki yang saya kenal. Mereka sudah lama menjalin hubungan, punya anak dan kehidupan yang stabil, tapi juga merasakan frustrasi.
Di awal hubungan semua memiliki gairah yang berapi-api. Hasrat membuat pasangan selalu ingin berdekapan di ranjang. Namun dari pernyataan penuh kekecewaan di atas, dapat disimpulkan bahwa mereka berpikir, gairah tersebut akan dimiliki selamanya.
Sebenarnya sangat normal bila hasrat seksual menurun setelah satu atau dua tahun hubungan, ujar psikolog dan psikoterapis Andrea Seiferth, yang juga memberi terapi psikologis bagi pasangan di Hamburg.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Penyebabnya adalah perubahan "koktail hormon" dalam tubuh. Di awal hubungan, hormon-hormon tersebut menimbulkan dorongan seksual yang kuat. Namun seiring berjalannya waktu, hormon pengikat seperti oksitosin yang juga disebut "hormon pelukan" mulai mendominasi. "Hormon pengikat ini menekan hormon seksual sehingga keinginan dan frekuensinya menurun,” jelas Seiferth. "Pasangan harusnya menyadari hal ini," imbuhnya.
Namun, lanjut Seiferth, pertanyaannya adalah: Apa yang bisa dilakukan? "Dan bagaimana dengan situasi di mana tampaknya perempuan kehilangan libido lebih banyak?"
Menurut Seiferth, kuncinya adalah pada komunikasi. Apa yang aku suka? Apa yang dia suka? Apa yang bisa kita nikmati bersama? Agar percakapan semacam ini berhasil, penting untuk memahami seksualitas diri sendiri. Pengalaman tertentu baik positif maupun negatif bisa sangat memengaruhi gairah seksual, terutama pada perempuan.
Apakah masalahnya ada pada perempuan?
Dr. Meredith Chivers, profesor di Institut Psikologi dan Centre for Neuroscience, Queen's University di Kingston, Kanada yang juga direktur Seksuality and Gender Lab, meneliti seksualitas perempuan.
Dari penelitiannya, seksualitas perempuan bekerja secara berbeda dengan laki-laki. Ia menemukan bahwa perempuan dapat mengalami rangsangan fisik yang terukur tanpa merasa terangsang.
Artinya hanya karena vulva seorang perempuan menjadi basah (lubrikasi), bukan berarti ia merasakan hasrat seksual. "Dari pengamatan kami, perempuan memberikan respons fisiologis secara nyata terhadap berbagai rangsangan seksual — bahkan yang tidak diinginkan atau tidak disukai, seperti adegan pemaksaan seksual," jelas Chivers.
Hal tersebut adalah mekanisme perlindungan tubuh, kata Chivers. Lubrikasi membantu mengurangi kerusakan fisik saat terjadi kekerasan seksual.
Ketidaksesuaian antara rangsangan fisik dan perasaan seksual ini sangat kuat pada perempuan heteroseksual. Sementara itu, pada pria dan perempuan queer, hubungan antara rangsangan fisik dan psikis jauh lebih selaras.
Chivers menduga bahwa apa yang membuat perempuan merasakan gairah atau tidak sangatlah dipengaruhi oleh pengalaman seksualnya di masa lalu. Ketidaksesuaian ini bukan semata-mata masalah biologis, tetapi lebih kepada 'sejarah' perkembangan seksual perempuan tersebut.
"Peran gender sejak kecil, pesan negatif terhadap tubuh, hingga pengalaman nyeri atau kekerasan — semua ini membuat banyak perempuan terputus dari reaksi fisiologis mereka," jelasnya. Selain itu, dalam banyak hubungan heteroseksual, kenikmatan dan kepuasan perempuan sering tidak menjadi fokus utama.
Hal ini juga tercermin dalam apa yang disebut "Gender Orgasm Gap" - kesenjangan orgasme antara laki-laki dan perempuan. Tinjauan riset tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 30–60% perempuan mencapai orgasme dalam hubungan seks heteroseksual, sedangkan pada laki-laki angkanya mencapai 70–100%.
Seks dan kepuasan dalam hubungan
Bagi pasangan yang hubungannya berlanjut setelah fase awal yang penuh gairah, kurangnya kepuasan seksual dari perempuan dapat memicu masalah. Menurut penelitian psikolog dan ahli seksual Natalie Rosen, kebutuhan seksual yang tidak terpenuhi membuat topik seputar seks begitu membebani dan menurunkan libido.
Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan seksual dalam hubungan dapat meningkatkan gairah serta kepuasan terhadap hubungan secara keseluruhan.
Pasangan yang tidak berkomunikasi berisiko terus mengulang "program seks" lama yang membosankan. "Sering kali perempuanlah yang akhirnya merasa bosan," kata Seiferth.
Apa yang dapat dilakukan jika hubungan kehilangan minat akan seks?
"Bagi perempuan, perasaan dihargai dalam hubungan sangat penting," ujar Seiferth. Jika tidak ada perasaan dilihat dan dihargai, maka kehidupan seksual pasangan juga kerap terganggu. "Perempuan butuh keberanian untuk menunjukkan kebutuhannya dan juga untuk mengatakan apa yang tidak mereka inginkan."
Banyak pasangan yang datang ke praktik Seiferth tidak lagi bersentuhan secara intim dalam kehidupan sehari-hari — hanya sentuhan otomatis, tanpa pelukan panjang, tanpa ciuman, tanpa sentuhan ringan. "Lalu tiba-tiba di akhir pekan mereka 'harus' berhubungan seks. Rasanya seperti melompat dari papan loncat sepuluh meter," ujar Seifert.
Karena itu, selain komunikasi, keintiman fisik sangat penting. Tidak melulu tentang seks, tetapi tentang bagaimana memperkuat ikatan. Untuk pasangan lain, memberi ruang dan otonomi juga bisa membangkitkan gairah. "Kadang, jarak dan pengalaman baru masing-masing pihak justru menumbuhkan kembali hasrat," jelas Seiferth.
Tak sekadar seks
Sering kali gairah, kenikmatan, dan rasa bersemangat muncul saat foreplay melalui sentuhan dan ciuman. "Kalau saya hanya berhubungan seks saat saya merasa tiba-tiba menginginkannya, maka saya perlu menunggu sangat lama," ujar Seiferth. Kalau dulu di awal hubungan hal itu datang dengan mudah, kini pasangan perlu meluangkan waktu dan ruang tanpa stres di tengah kesibukan anak, rapat, dan tumpukan cucian untuk "menciptakan keintiman yang menyenangkan di mana seks bukanlah kewajiban namun tetap mendapat perhatian penting bagi pasangan."
Bukan hanya seks yang memperkuat hubungan, tapi juga momen setelahnya. Pasangan yang berpelukan dan saling memperhatikan setelah hubungan seks akan mendekatan, memperkuat kepercayaan, dan kasih sayang.
Menurut penelitian psikolog Amy Muise, pasangan seperti ini lebih puas dengan hubungan mereka dan merasa lebih terpenuhi secara seksual. Hal ini berlaku terutama bagi perempuan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid