Sumbangsih Milenial Dipertanyakan Megawati, Buntut Kekesalan Demo Anarkis | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 29.10.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Demonstrasi

Sumbangsih Milenial Dipertanyakan Megawati, Buntut Kekesalan Demo Anarkis

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mempertanyakan sumbangsih kaum milenial saat ini. Hal itu buntut dari kekesalan Megawati atas aksi unjuk rasa yang berujung perusakan halte TransJakarta beberapa waktu lalu.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkapkan kekesalannya saat memberikan sambutan di acara peresmian beberapa kantor PDIP di daerah yang ditayangkan secara virtual, Rabu (28/10/2020). Megawati heran dengan peristiwa perusakan saat demo itu. Dia lantas meminta ke Presiden Jokowi untuk tidak memanjakan kamu milenial.

"Anak muda kita aduh saya bilang sama presiden, jangan dimanja, dibilang generasi kita adalah generasi milenial, saya mau tanya hari ini, apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi seperti kita bisa viral tanpa bertatap langsung, apa sumbangsih kalian untuk bangsa dan negara ini?," kata Megawati.

"Masa hanya demo saja, nanti saya dibully ini, saya enggak peduli, hanya demo saja ngerusak, apakah ada dalam aturan berdemo, boleh saya kalau mau debat," lanjutnya.

Dia mengatakan aksi unjuk rasa turun ke jalan atau demonstrasi memang telah diizinkan sejak reformasi. Tapi menurutnya, tidak sampai merusak fasilitas umum.

"Ada aturan dalam demo diizinkan karena ketika reformasi, kita masuk ke dalam alam demokrasi, ya," ujarnya.

"Tapi adakah, jawab, aturannya bahwa untuk merusak, enggak ada, kalau ada orang bilang ada bu, mana dia, sini, sini kasih tau sama saya," lanjut Mega.

Meski begitu, Megawati menyarankan agar sebaiknya menyampaikan aspirasi melalui DPR.

"Saya bilang ngapain sih kamu demo-demo. Kalau enggak cocok, pergi ke DPR. Di sana ada RDP itu terbuka bagi aspirasi. Kalian ini orang politik atau bukan.... Sekarang kamu bayangkan keluargamu, anak-anakmu dibuat seperti itu. Kalau enggak ada rasa sakit hati, bohong! Manusia sama aja, dibuat Allah SWT itu sama. Kita yang membuatnya berbeda. Camkan lho," ujarnya.

Megawati mengaku sudah tidak tahan dengan tindakan anarkis yang terjadi saat demonstrasi. Dia menyayangkan halte yang dibuat dengan anggaran besar dirusak begitu saja dengan para pendemo.

"Ini ketua umum kan jarang ngomong. Tapi sekali saya ngomong saya enggak tahan. Masyaallah, susah-susah bikin halte, enak aja dibakar-bakar, emangnya duit lo? Ditangkap enggak mau. Ini gimana ya. Aku sih pikir lucu banget Indonesia sekarang," ujarnya.

Dia lalu menanyakan anggaran membuat satu halte kepada Djarot Syaiful Hidayat. Dalam acara itu, Djarot sedang berada di samping Megawati.

"Nah, ini ada Pak Djarot, satu halte dibangun berapa biayanya?" tanya Megawati.

"Bisa sampe Rp 3 miliar, Bu," jawab Djarot.

"Tuh, 3 miliar, mungkin sekarang dengan kenaikan inflasi. Kalau ibu-ibu patokannya harga emas gitu. Mana mungkin lagi mau dibenerin itu 3 miliar cukup. Coba bayangkan. Itu rakyat siapa ya. Itu yang namanya anak-anak muda? Saya ngomong gini itu dalam Sumpah Pemuda lho," sambung Megawati.

Mega bandingkan pemuda sekarang dengan zaman dulu

Megawati kemudian membandingkan dengan pemuda zaman dahulu, yang berani bikin sumpah untuk bersatu memperjuangkan negara. Dia menilai keadaannya berbeda dengan saat ini.

"Ya bayangin zaman dulu kok bisa ya pemuda, karena tertekan, karena belum merdeka dia sampai berani bikin sumpah. Ayo kalau kalian hari ini bisa enggak bikin sumpah kayak gitu. Waduh pikirannya zaman dulu lho sampai bersatu bikin sumpah, eh zaman penjajahan ditangkap lah. Ini udah merdeka, dirusak sendiri," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, ada puluhan halte TransJakarta yang rusak akibat demo omnibus law Cipta Kerja yang berujung ricuh. Tiga halte di antaranya rusak berat dan harus dirombak total. Diperkirakan biaya perbaikan halte TransJakarta yang rusak mencapai Rp 65 miliar.

"Jadi ada 46 halte yang mengalami kerusakan, kemudian ada tiga halte yang rusak berat. Ini seperti halte di Bundaran HI, Tosari, sama Sawah Besar. Itu rusak berat yang harus dirombak total," kata Gubernur DKI Anies Baswedan setelah meninjau Halte TransJakarta Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (10/10/2020).

"Untuk halte itu diperkirakan sejauh ini ya, per hari ini Rp 65 miliar. Angkanya cukup besar ini bukan angka yang kecil, dan bisa dibilang ini halte terbaik di Indonesia yang rusak ini. Kalau terbaru itu ini satu di Bundaran HI dan di Tosari. Kita akan segera kembalikan supaya bisa berfungsi lagi dengan baik," lanjutnya. (Ed: gtp/pkp)

Baca artikel selengkapnya di: DetikNews

Sumbangsih Milenial untuk Bangsa Dipertanyakan Mega

Laporan Pilihan