1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ilustrasi cuaca terik
Ilustrasi cuaca terikFoto: Christoph Hardt/Geisler-Fotopress/picture alliance

Suhu Udara Tinggi Diprediksi Berlanjut hingga Akhir Mei

18 Mei 2022

Kondisi ini dinilai tidak membahayakan seperti gelombang panas. Namun, masyarakat harus waspada dan banyak mengonsumsi air agar tidak dehidrasi, ujar ahli dari BMKG.

https://www.dw.com/id/suhu-udara-tinggi-diprediksi-berlanjut-hingga-akhir-mei/a-61825588

Sejak awal Mei, suhu berkisar 33 hingga 36,1 derajat Celsius dipantau terjadi di Sumatera, Tangerang, Banten, Kalimantan Utara, dan beberapa wilayah di Indonesia. Laporan dari 2 hingga 8 stasiun cuaca Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara maksimum kurang dari 35℃. Stasiun cuaca Kalimaru di Kalimantan Timur dan Ciputat juga mencatat suhu maksimum sekitar 36℃ dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan hal tersebut wajar. Kondisi ini diprediksi berlangsung hingga akhir bulan Mei. Berdasarkan analisis klimatologi puncak suhu maksimum di Indonesia terjadi pada bulan April, Mei, dan September.

"Kondisi ini tidak ekstrem, tidak membahayakan seperti gelombang panas. Ini dipengaruhi oleh posisi gerak semu matahari dan dominasi cuaca cerah awal atau puncak musim kemarau. Namun, masyarakat harus tetap waspada dan banyak mengonsumsi air untuk menghindari dehidrasi," ujar Ardhasena.

Analisis BMKG menunjukkan bahwa tren suhu udara permukaan tahun 2022 diprediksi lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata normalnya sebesar 26,6℃. Suhu yang tinggi menyebabkan kondisi udara terasa panas dan tidak nyaman. Apabila keadaan ini diikuti dengan kelembaban yang tinggi bisa terasa gerah, sedangkan bila kelembabannya rendah akan terasa "terik".

Ardhasena mengatakan bahwa dibandingkan 5 tahun terakhir, suhu maksimum di pekan pertama Mei 2022 lebih tinggi 0,5 hingga 1℃. Kondisi ini tidak merata terjadi di seluruh wilayah Indonesia, hanya beberapa wilayah seperti di pesisir Barat Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi Utara.

"Tren kenaikan suhu juga terjadi secara terus-menerus di Indonesia. Saat ini suhu maksimum sekitar 36℃ bukan merupakan suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia. Di Larantuka, NTT pada 5 September 2012 lalu suhu tertinggi pernah di 40 derajat Celsius," ujar Ardhasena Sopaheluwakan kepada DW Indonesia.

Analisis iklim dasarian pada periode 1-10 Mei 2022 menunjukkan suhu muka laut di Samudera Hindia bagian barat Sumatera dan Laut Jawa lebih hangat. Hal ini akan menambah suplai udara lembab akibat penguapan yang lebih intensif dari permukaan lautan.

Sementara analisis sirkulasi angin menunjukkan adanya pusaran kembar di bagian utara dan selatan belahan Bumi sebelah barat Sumatera sebagai manifestasi dari aktifnya gelombang atmosfer MJO (Madden Julian Oscillation) di area tersebut. 

MJO adalah gelombang atau osilasi non-seasonal  yang terjadi di lapisan troposfer yang bergerak dari barat ke timur dengan periode osilasi kurang lebih 30-60 hari. Fenomena ini bertanggung jawab atas kondisi anomali curah hujan di suatu wilayah yang dilaluinya. Di sisi lain, di atas Pulau Kalimantan muncul pusaran angin (vortex) meskipun lebih lemah.

"Akibatnya angin di atas sebagian wilayah Pulau Jawa dan Sumatera menjadi lemah dan cenderung stabil, sehingga udara yang lembab dan panas cenderung tertahan, tidak bergerak," lanjutnya.

Bukan gelombang panas

Ardhasena mengatakan suhu udara panas kali ini dipengaruhi juga oleh faktor klimatologis yang diamplifikasi dinamika atmosfer skala regional dan skala meso. Namun, ia memastikan kondisi ini berbeda dengan gelombang panas yang tengah terjadi di India karena tidak memenuhi definisi kejadian ekstrem meteorologis oleh Badan Meteorologi Dunia (WMO) yaitu anomali lebih panas 5℃ dari rerata klimatologis suhu maksimum di suatu lokasi dan berlangsung dalam lima hari.

"Masyarakat tidak perlu panik ketika merasakan udara menjadi lebih sumuk (gerah). Ini bukan gelombang panas. Gelombang panas umumnya juga terjadi dalam cakupan yang luas yang diakibatkan oleh sirkulasi cuaca tertentu sehingga menimbulkan penumpukan massa udara panas," lanjutnya.

Senada disampaikan Fabby Tumiwa dari Institute for Essensial Services Reform (IESR), lembaga wadah pemikir di bidang energi dan lingkungan. Menurutnya, kondisi suhu panas di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di beberapa negara di Asia Selatan. Pada Maret hingga April 2022, suhu di India bagian utara mencapai lebih dari 46℃. Setiap tahun India memang mengalami peningkatan suhu karena peralihan ke musim hujan. Biasanya suhu meningkat hingga 40℃ dan terjadi di bulan Mei dan Juni.

"Ini bukan hal asing untuk negara seperti di India dan Pakistan, itu lebih akibat gelombang panas yang memang selalu terjadi sepanjang April hingga Juni. Peristiwa ini rutin terjadi, hanya dalam kasus ini gelombang panas datang lebih awal dari Maret dengan temperatur sangat tinggi 45℃," katanya.

Transisi energi dan perubahan gaya hidup

Fabby Tumiwa mengatakan bahan bakar fosil menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia yang menyebabkan kenaikan suhu bumi. Laporan Climate Transparency Report 2021 menunjukan emisi di Indonesia telah meningkat secara signifikan sejak tahun 1990 dengan kontributor terbesar pembangkit listrik sebanyak 35%.

"Harus ada upaya kolektif untuk memangkas pemanasan global sehingga menurunkan laju pertumbuhan emisi melalui transisi energi ke energi bersih, ini dampaknya akan luas jika dilakukan bersama-sama," ujar Febby.

Berdasarkan laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), asesmen iklim keenam (AR6) menunjukan perubahan gaya hidup berpotensi untuk menurunkan emisi. Salah satunya dengan memilih peralatan di rumah yang hemat energi, mengurangi pemakaian air conditioner (AC), dan tidak menghidupkan lampu di siang hari. 

"Penggunaan AC saat cuaca panas mendorong konsumsi energi yang tinggi. Maka perlu dibuat pendingin yang lebih efisien. Bisa juga dengan mendesain rumah dengan konsep natural cooling, sehingga lebih alami. Termasuk dalam penggunaan lampu, maksimalkan cahaya alami saja," katanya.

Selain itu, lanjut Fabby, masyarakat dapat juga secara bersama mengurangi pemakaian kendaraan bermotor sehingga menurunkan konsumsi energi dan berdampak pada penurunan gas rumah kaca secara kolektif. (ae)