1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Lulus Studkoll di Indonesia, Pergi ke Jerman dengan Beasiswa

Marjory Linardy
7 Juli 2023

Dari dulu ia memang ingin kuliah di luar negeri. Kebetulan, ia dapat beasiswa dari PASCH untuk Studienkolleg di Indonesia, dan selanjutnya untuk tamatkan jenjang kuliah kedokteran pertama di Jerman dengan beasiswa DAAD.

https://p.dw.com/p/4Ta7t
Deutschland Mary Elizabeth Studentin aus Indonesien
Mary ElizabethFoto: Privat

 

"Dari TK memang pengen jadi dokter," katanya, karena dia dulu mengira pekerjaan sebagai dokter mudah. Waktu kecil, kalau sakit dan pergi ke dokter, biasanya dia kemudian diperiksa dokter. "Terus dokter ngomong lima menit dengan orang tua, terus udah, dapet duit," katanya sambil tertawa.

Ketika di tahun akhir sekolah dan IPA dicabangkan menjadi fisika dan biologi, dia memang merasa lebih suka biologi. Dari situlah perasaan tertariknya pada bidang kedokteran jadi tambah kuat.

Patricia Mary Elizabeth lahir di Surabaya, tapi besar di Tangerang. Nama panggilannya Mary. Dia mengaku bisa berbicara dalam bahasa Jerman. "Tapi kelancaran dan ketepatannya fluktuatif," katanya sambil tertawa. Tergantung bahasa apa yang banyak digunakannya sebelumnya.

Mary menjelaskan, jika berkuliah kedokteran di Jerman, diploma pertama yang diperoleh bukan S1 seperti di Indonesia, atau Bachelor, melainkan Staatsexamen, yang artinya ujian negara. Regelstudienzeit, atau lamanya kuliah untuk mahasiswa yang akan menempuh ujian negara biasanya enam tahun. Tapi menurut Mary, waktu selesai kuliah bisa lebih fleksibel. Tepatnya, waktu kuliah bisa diperpanjang. Dia sekarang sedang meminta perpanjangan selama satu semester. Sekarang dia sudah di tahun ke lima kuliahnya.

Kalau sudah selesai dengan tahap pertama, dia ingin mengambil kuliah untuk menjadi spesialis di Jerman. Tapi dia belum tahu di bagian apa. "Sepertinya mau ke arah penyakit dalam," katanya. Dia menjelaskan, sebetulnya kalau di Jerman, dokter umum pun ada spesialisasinya. Misalnya, dokter yang di Jerman disebut Hausarzt, atau dokter rumah, berbeda dengan dokter umum di Indonesia.

Mary bercerita, dia dari dulu memang bercita-cita kuliah di luar negeri. Tapi awalnya dia berpikir, akan mulai berkuliah kedokteran di Indonesia, kemudian spesialisasinya di luar negeri. Karena dia dulu mengira, dengan cara itu, ia tidak perlu melewati penyetaraan jika kembali ke Indonesia. Tapi ternyata perlu, dan prosesnya sangat rumit, kata Mary.

Biar bagaimanapun ia tetap pergi ke Jerman. Awalnya karena tahun 2017 tidak ada pintu terbuka bagi dia untuk berkuliah kedokteran di Indonesia. Baik lewat jalur undangan, SBMPTN, maupun jalur mandiri. Tapi di hari yang sama setelah pengumuman keluar, beberapa jam kemudian ia memperoleh pemberitahun dapat beasiswa dari inisiatif yang bernama Schulen: Partner der Zukunft, artinya sekolah adalah mitra masa depan, dan disingkat PASCH, untuk mengikuti Studienkolleg di Indonesia.

Studienkolleg adalah sekolah khusus yang berfungsi membantu calon mahasiswa untuk menjembatani dunia persekolahan di negara asal, menuju sistem akademis di Jerman. Setelah selesai Studienkolleg, ia bisa melamar beasiswa dari Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) untuk berkuliah di Jerman, dan berhasil dapat.

Mary bercerita, sebetulnya dia tidak pernah punya keinginan khusus ke Jerman. "Tapi akhirnya jadi Jerman karena koko yang pertama," kata Mary. Kakaknya dulu kuliah kedokteran di Indonesia, tapi sempat ke Jerman, tepatnya Heidelberg, dalam rangka tukar-menukar mahasiswa. Dialah yang mengatakan, "Jerman kayaknya cocok buat kamu, Mer, soalnya teratur. Kamu kan juga sukanya begitu, yang ga neko-neko gitu."

Ketika itu, dia baru kelas 1 SMP. Tapi dia mulai belajar bahasa Jerman sendiri, lewat aplikasi Duolingo. Ketika SMA, dia minta ke orang tuanya untuk les bahasa Jerman, karena sudah tidak les bahasa Inggris lagi. Ternyata les bahasa Jerman berguna untuk dapat beasiswa. Mary bercerita, untuk dapat tempat di Studienkolleg, butuh minimal pengetahuan bahasa Jerman taraf B1. "Waktu itu aku udah B2," kata Mary, "tapi B2-nya kayak… biasa aja nilainya," katanya lagi sambil tertawa.

Deutschland Mary Elizabeth Studentin aus Indonesien
Mary Elizabeth (ke tiga dari kiri) bersama teman-teman kuliahFoto: Privat

Kalau melihat ke depan dari posisinya sekarang, Mary mengatakan, ia ingin menyelesaikan skripsi dan menyelesaikan kuliah dengan sehat dan selamat. "Kan kalau kerja di rumah sakit, bisa tertular penyakit," katanya sambil tertawa.

Setelah itu dia ingin mengambil spesialis di Jerman dan mungkin ingin menetap. "Karena kalau balik lagi susah penyetaraannya," katanya, "Karena untuk penyetaraan kalau ga salah ada batas umur, selain itu tempat penyetaraan terbatas, dan ujiannya sulit."

Melihat pengalamannya kuliah selama ini, Mary berpendapat, "Nilai tidak mencerminkan usaha seseorang." Kadang masalahnya cocok atau tidak cocok dengan pertanyaan saat ujian pula. Kadang kita merasa sudah belajar semuanya, tapi ketika melihat pertanyaannya, rasanya seperti tidak mengerti materinya. "Hoki-hokian juga," kata Mary, "Mana yang kita baca, mana yang ditanya." Itu tidak mencerminkan pemahaman kita sedalam apa."

Seperti apa kuliah kedokteran di Jerman?

Mary sekarang berkuliah di Universitas Heidelberg, di kampus yang berlokasi di kota itu juga. Dia menjelaskan, sistem kuliah kedokteran ada dua. Yang pertama menggunakan Regelstudiengang. Sistem ini mengatur lamanya dan kuliah apa saja yang harus diikuti seorang mahasiswa sebelum menempuh ujian negara. Sistem ke dua disebut Modelstudiengang. Dalam sistem ini, mahasiswa dihadapkan dengan kasus sejak awal. "Jadi studi kasus sejak awal," kata Mary. Tapi kuliah sistem ini berlangsung di kampus Universitas Heidelberg yang berlokasi di kota Mannheim. Jadi Mary tidak kuliah dalam sistem itu.

Ia menjelaskan lebih lanjut, dalam dua tahun pertama kuliah, yang dipelajari sepenuhnya tentang manusia, dan bagaimana berfungsinya tubuh manusia dari segi kesehatan fisik. Selain itu, orang juga belajar kimia dan fisika, seperti halnya di SMA dan di Studienkolleg. Tahap berikutnya adalah tiga tahun mempelajari penyakit, gejala, diagnosa dan terapi sesuai petunjuk yang ada selama ini.

Yang terakhir adalah satu tahun praktisches Jahr, atau tahun praktek. Isinya adalah magang di rumah sakit. Bidangnya tiga, yaitu bidang penyakit dalam dan bedah. Sedangkan bidang ke tiga boleh pilih sendiri. "Nah waktu itu, udah ngikutin dokter, emang kaya dokter juga. Jaga malam juga, dan weekend [akhir minggu]," kata Mary. Setelah itu ada Staatsexamen atau ujian negara.

"Jadi ada tiga kali Staatsexamen," dijelaskan Mary. Yang pertama ujian tertulis dan lisan, yang ke dua hanya tertulis. Sedangkan ujian ke tiga, langsung berbicara dengan pasien di rumah sakit. Jadi biasanya ada seorang pasien yang sudah diminta persetujuannya terlebih dahulu. "Jadi mulai anamnesis, dia sakit apa, diagnosis dan lapor ke Oberarzt [dokter kepala]," demikian dijelaskan Mary.

Ia bercerita, sejak awal kuliah, dia sudah merasa syok berat. Karena ujian pertama sudah diadakan hanya dua minggu setelah kuliah semester pertama dimulai. Jadi mahasiswa memang sejak awal dituntut untuk belajar sendiri. "Kalau di minggu itu hanya datang untuk ikut Vorlesung [bentuk kuliah di mana hanya dosen yang berbicara], ga bisa lulus ujian," kata Mary sambil mengenang situasi ketika itu. "Karena semester pertama isinya hanya anatomiii aja." Jadi hanya hafalan saja.

Tapi bagi Mary itu terapi syok yang bagus, karena kedokteran bidang yang sangat luas. Oleh sebab itu ada spesialisasi pula. "Dan kita ga mungkin baca semuanya, jadi harus pinter-pinter menentukan mana yang relevan untuk sekarang," begitu dijelaskan Mary.

Karena pelajaran yang sangat banyak, Mary juga pernah bertanya ke kakaknya yang dokter, apakah pernah  merasakan beban yang berat sampai bertanya kepada diri sendiri, mengapa dulu memilih kuliah untuk jadi dokter. Kakaknya, menjawab, setiap kali ujian, dia selalu merasa begitu. "Waah berarti ini universal," kata Mary sambil tertawa.

Mary Elizabeth Studentin n der Universität Heidelberg
Foto: Privat

Ia menambahkan pula, "Dulu sebenarnya jadi dokter itu panggilan, tapi sekarang lebih merasa ada tanggungjawabnya." Ketulusan hati tetap ada dan ditambah tanggungjawab. "Jadi harus aware [sadar] dengan situasi di sekitar, bahkan di luar jam kerja," kata Mary.

Dia menjelaskan, dalam situasi darurat, dokter harus tetap mampu tenang dan mengambil tindakan yang tepat. "Di rumah sakit harus ada satu orang yang tugasnya ngasi perintah," kata Mary. Tapi untuk bekerja menjadi Notarzt, atau dokter yang khusus dipanggil untuk keadaan darurat, tentu butuh latihan. Dia bercerita, salah satu arahan yang sudah pernah dia dapatkan sebagai calon dokter adalah, "Pastikan, kalian ga pingsan duluan."

Mengingat profesi sebagai dokter kerap bersentuhan erat dengan nasib seseorang, tapi jasanya dibutuhkan banyak orang, Mary menarik kesimpulan, "Belajar kedokteran berarti belajar untuk bersimpati dan meregulasi emosi agar tidak terlalu attach [terikat] pada pasiennya." Tapi dia menilai, banyak pekerjaan lain yang juga mulia. "Jadi orang tua juga mulia," kata Mary.

Menata hidup di negeri orang sambil berkuliah

Bagi Mary tantangan terbesar saat kuliah adalah mengatur mana saja yang sebaiknya dipelajari saat ini, dan mana yang bisa dipelajari nanti. Sedangkan dalam hidup sehari-hari, tantangan yang ia hadapi adalah bagaimana mengemukakan pendapat dan mempertahankan haknya. Yang kedua, bagaimana belajar mandiri di negeri orang.

Dia mengungkap, di Indonesia, kita diajarkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tua dan orang yang lebih tua. Mungkin karena ada faktor kebiasaan sebagai orang Indonesia, ia merasa cenderung menghindari perdebatan, jika berhadapan dengan orang yang dituakan atau atasan. "Padahal di sini [di Jerman], kalau kita menjelaskan mengapa kita melakukan itu, mereka nerima, bukan kita dianggap ngeles." Begitu diungkap Mary.

Dia mengambil contoh misalnya orang punya keluhan yang disampaikan ke customer service, atau pelayanan pembeli. "Di Indo kalo digalakin customer service, kita jadi oh, ya udah. Di sini kita belajar lebih galak lagi, karena itu hak kita," kata Mary. Jika tetapi tinggal di Indonesia, kemungkinan kebiasaan itu tidak akan ia ubah. Tapi karena di Jerman, dia jadi belajar berani. "Mengemukakan pendapat dan tahu hak kita, dan mempertahankannya."

Ia bercerita pernah mengalami pengalaman kurang enak saat magang di rumah sakit. Waktu itu dia belum lama tingal di Jerman, jadi segalanya masih baru bagi dia. Ketika terjadi salah paham dengan salah seorang perawat di sana, dia tidak berusaha membela diri dan memberikan penjelasan, karena masih merasa malu. "Tapi karena itu, situasi magang jadi jelek. Harusnya langsung konfrontasi aja. Jadinya, ya aku learning the hard way [belajar lewat cara yang sulit]," kata Mary sambil merasa menyesal. Tapi mengemukakan pendapat yang awalnya jadi tantangan terbesar bagi dia, sekarang juga jadi pelajaran yang paling besar.

Kalau soal mandiri, di Jerman jelas berbeda dengan di Indonesia. "Di sini masak sendiri, nyuci sendiri, bersih-bersih. Mikirin bukan kuliah aja tapi tetek-bengek lainnya supaya hidup normal," kata Mary sambil tertawa.

Bagi orang Indonesia yang ingin berkuliah di Jerman dia menyarankan untuk sebaik mungkin menguasai bahasa Jerman. Walaupun di Jerman sekarang ada kemungkinan kuliah dan bekerja dengan bahasa Inggris, tapi bahasa Jerman tetap penting untuk hal-hal lain, misalnya birokrasi, mengurus surat-surat, atau untuk urusan asuransi.

Selain itu, seperti pepatah, malu bertanya, sesat di jalan. Jadi Mary menyarankan agar orang sering bertanya jika perlu informasi. Dia bercerita, ketika masih di Indonesia dan merasa tidak jelas tetang sesuatu hal di Universitas Heidelberg, dia mengirim email ke orang yang bertanggungjawab, dan emailnya itu dijawab. Sehingga informasi yang ia butuhkan lengkap.

Dia juga menyarankan untuk mencari informasi dengan ikut group Perhimpulan Pelajar Indonesia (PPI) di Facebook, yang juga berguna misalnya sekedar untuk mendapat informasi jastip, atau jasa titipan barang, dan mencari tempat tinggal di Jerman.

Mary menambahkan pula, walaupun ada banyak "peringatan" berkaitan dengan kuliah dan hidup di Jerman, dan memang jika tinggal di negeri orang harus hati-hati dan memang bukan mudah, tapi jangan jadi takut ke Jerman. "Kalo sudah tahu tips and tricknya [petunjuk dan caranya] akhirnya jadi nyaman aja sih di sini." Jadi jangan takut ke Jerman. Demikian ditekankan Mary.

Untuk melewatkan waktu luang juga banyak aktivitas yang bisa dilakukan mahasiswa. Tapi Mary bercerita sambil tertawa, temannya ada yang menyebut dia: jiwa tua terperangkap di badan muda. Dia menjelaskan, "Yah, denger musik terus joget-joget suka aja, sih. Tapi waktunya ga bisa lebih pagian, ya? Kalo pas orang pergi dugem, tuh, aku udah ngantuk," katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Di Jerman ada semacam saran yang kerap diberikan secara umum. Yaitu: jika ingin cari teman, jadilah anggota Verein, atau perkumpulan. "Jadi aku ikut paduan suara," kata Mary. Kalau soal berteman, dia mengungkap bisa berteman dengan siapa saja, tidak hanya dengan orang Indonesia. "Berteman dengan orang Indonesia kan bagus, supaya ga homesick [rindu kampung halaman] banget."

Selain itu, juga bagus karena biasanya sebagai sesama orang Indonesia di Jerman, ada masalah serupa yang sudah pernah dihadapi orang lain, seperti soal visa. Atau kalau rindu masakan Indonesia. "Kalau orang Indonesia lain bisa masak, kan kita bisa kecipratan," katanya sambil tertawa lagi.

Setelah beberapa tahun hidup di Jerman, dia juga sadar satu hal lain. "Awalnya aku tuh idealis," katanya. Ia ingin punya satu teman Jerman di universitas. "Baru di sini aku tuh sampe stress dan sedih, ternyata bertemen di sini dengan orang Jerman susah." Dia sampai berpikir, "Apa aku ini kurang asiiik, ya? Perasaan di Indonesia ga masalah untuk berteman."

Di Jerman dia sadar: "Ternyata making friends [berteman] itu part of culture [bagian dari kebudayaan]. Aku ga tahu itu sebelumnya," kata Mary dan menambahkan "ternyata orang-orang di sini lebih tertutup." Di samping itu, orang Jerman cenderung menetapkan batasan, siapa kolega, siapa teman di universitas, dan sebagainya. "Jadi ga semua bisa jadi teman."

Tapi untungnya, di Universitas Heidelberg ada Tutorium, yaitu pelajaran tambahan dari mahasiswa senior, khusus untuk mahasiswa kedokteran internasional. Yang memberikan bimbingan adalah kakak-kakak kelas, yang dari berbagai negara juga. Dari situ Mary juga mendapat teman dari negara lain. "Jadinya nyaman sih, dan tahu sepenanggungan dan seperjuangannya. Sementara dengan orang Jerman butuh waktu." (ml/hp)