1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Statistik WNA Kriminal di Jerman Kerap Tidak Relevan?

17 April 2026

Apakah warga yang tidak memiliki paspor Jerman lebih sering melakukan tindak pidana? Data statistik di Jerman mengindikasikan hal itu. Namun, angka-angka ini bisa juga menyesatkan.

https://p.dw.com/p/5CNQE
Gambar ilustrasi operasi kepolisian dan penangkapan.
Jumlah tersangka yang bukan warga negara Jerman dua kali lipat lebih banyak dari proporsi WNA dalam populasi secara keseluruhan.Foto: K. Schmitt/Fotostand/picture alliance

Susann Prätor adalah seorang sosiolog, psikolog, dan ahli hukum. Ketika ia berbicara dan menulis tentang kejahatan, berbagai perspektif tersebut tercermin dalam analisisnya. Perpektif inilah yang membuat sang akademisi memandang Statistik Kejahatan Kepolisian Jerman (PKS) secara lebih kritis. Kantor Kepolisian Kriminal Federal (BKA) akan segera merilis statistik terbarunya tahun ini.

Lebih dari sepertiga tersangka tidak berpaspor Jerman

Jumlah tersangka non-Jerman dalam berbagai tindak pidana seperti pencurian, perampokan, dan kejahatan kekerasan terakhir mencapai 35,4 persen. Angka ini dua kali lipat lebih banyak dari proporsi WNA dalam populasi secara keseluruhan. Angka-angka PKS, menurut Prätor, sering kali membandingkan dua hal yang tidak relevan.

Dalam konferensi pers yang diselenggarakan oleh layanan Media Integration yang berbasis di Berlin, Prätor yang juga profesor dari Akademi Kepolisian Niedersachsen memberi contoh perbedaan struktur usia dan jenis kelamin.

Kedua faktor tersebut memainkan peran besar dalam kejahatan, terlepas dari latar belakang asal-usul kewarganegaraan seseorang.

Hal ini dikarenakan jumlah tersangka muda dan laki-laki selalu jauh lebih tinggi daripada proporsi rata-rata. Prätor menganggap faktor-faktor tersebut sangat relevan dalam menafsirkan statistik.

Laki-laki muda paling sering terlibat dalam tindak kriminal di seluruh dunia.

"Orang asing rata-rata jauh lebih muda daripada orang Jerman,” kata sang pakar tersebut, seraya menambahkan, "Pria muda bukan hanya di Jerman, tetapi di seluruh dunia, merupakan kelompok yang sangat sering terlibat dalam tindak kriminal.” Tingginya angka kriminal pada mereka lebih disebabkan oleh faktor umur dan gender bukan karena status mereka sebagai orang asing itu sendiri.

Perilaku pelaporan juga berpengaruh pada statistik kejahatan. "Ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang dianggap asing lebih mungkin dilaporkan,” tegas Prätor.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institut Kriminologi Niedersachsen pada tahun 2024, orang-orang non-Jerman dilaporkan ke pihak berwenang(22.4%) hampir tiga kali lebih sering daripada orang Jerman(7.9%).

Seruan untuk merilis lebih banyak studi tentang kasus-kasus yang tidak dilaporkan

Peneliti berharap lebih banyak studi yang membahas ‘ranah abu-abu' untuk memberikan kejelasan lebih mengenai latar belakang dan penyebab kejahatan. Studi ‘ranah abu-abu' ini dilakukan dengan mewawancarai sebanyak mungkin orang dengan metode acak mengenai pengalaman mereka dengan kejahatan. Dengan cara inilah tindak pidana yang tidak dilaporkan atau tindak pidana yang tidak tercatat dalam statistik apa pun dapat diketahui.

Susann Prätor menjelaskan pada prinsipnya,"Saya bisa menanyakan latar belakang migrasi. Saya juga bisa menanyakan penyebabnya. Tetapi saya tidak terjebak hanya melihat kejahatan yang secara resmi terungkap.” Wawancara secara langsung, baik terhadap korban maupun pelaku, Keuntungan dari wawancara semacam itu, baik terhadap korban maupun pelaku, membantu membuat analisa yang lebih rinci.

Merz Menargetkan Pemulangan 80% Pengungsi Suriah di Jerman

Bagaimana dan di mana kejahatan terjadi?

Menurut Prätor, sudah ada studi yang baik mengenai angka kejahatan yang tidak tercatat di kalangan remaja. "Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa kondisi kehidupan para migran sangat berbeda dibandingkan dengan orang Jerman.” Hal ini mencakup, antara lain, kekerasan orang tua, tingkat pendidikan yang lebih rendah, lingkaran pertemanan yang terlibat dalam kejahatan, serta penekanan pada maskulinitas.

Melihat lebih dalam pada asal-usul para tersangka juga memberikan gambaran betapa kompleksnya sesuatu yang disebut sebagai kriminalitas oleh warga asing. Pada tahun 2024, hampir 13 persen tersangka berasal dari Ukraina. Dibandingkan dengan proporsi pengungi Ukraina yang tinggal di Jerman (35,7 persen), angka ini tampak sangat kecil jika dibandingkan dengan kelompok yang berasal dari negara-negara lain.

Museum Fenix Angkat Topik Migrasi

Mengapa begitu banyak tersangka berasal dari Afrika Utara?

Proporsinya terbalik bagi WNA asal Aljazair, Maroko, Tunisia, Georgia. Masing-masing negara tersebut menyumbang sekitar tiga persen tersangka kejahatan tetapi kurang dari satu persen jumlah pengungsi dari negara-negara tersebut yang terdaftar di Jerman. Jadi, apakah orang Afrika Utara dan Georgia lebih kriminal daripada orang Ukraina atau Jerman?

Di sini pula, pandangan yang lebih teliti terhadap faktor-faktor di balik angka-angka tersebut punya andil. Proporsi tersangka asal Ukraina yang relatif rendah mungkin disebabkan oleh komposisi demografis di Jerman yakni 63 persen pengungsi dewasa dari negara tersebut adalah perempuan.

Sebaliknya, di antara pencari suaka dari negara-negara Afrika Utara, antara 74 dan 82 persen adalah laki-laki. Dan proporsi mereka dalam kejahatan secara keseluruhan, terlepas dari negara asal dan paspor mereka, selalu jauh lebih tinggi daripada perempuan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid