Sri Lanka: Warga Tak Hiraukan Larangan Salat Jumat di Masjid | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 26.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

terorisme

Sri Lanka: Warga Tak Hiraukan Larangan Salat Jumat di Masjid

Salat Jumat tetap berlangsung di sejumlah masjid di Sri Lanka, meski larangan terkait telah diserukan oleh pemerintah.

Meski telah dikeluarkan larangan untuk salat Jumat berjamaah di masjid, beberapa masjid di Sri Lanka nekad laksanakan ibadah komunal mingguan ini. Hari ini, azan salat Jumat tetap berkumandang di Masjid Masjidus Salam Jumma di Kolombo, kota terbesar di Sri Lanka.

Ibadah berlangsung dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian di luar yang dipersenjatai senapan serbu Kalashnikov. Tak hanya pihak kepolisian, sejumlah warga juga secara sukarela berjaga.

Imtiyas Ahamed, seorang penceramah masjid tegaskan ekstremis Islam seperti ISIS bukanlah muslim yang sesungguhnya. "Dalam Islam tidak ada perkataan untuk membunuh dirimu sendiri, apalagi orang lain," jelas Ahamed.

Sri lanka Colombo Soldaten vor einer Moschee (Getty Images/AFP/J. Samad)

Pihak militer Sri Lanka lakukan penjagaan di luar masjid

Sebelumnya, Menteri Sri Lanka untuk Urusan Agama Islam, Abdul Haleem mendesak masjid-masjid membatalkan rencana salat Jumat berjamaah sebagai tanda solidaritas kepada gereja Katolik. Pengumuman serupa juga ditujukan bagi seluruh layanan publik dengan alasan keamanan, Kamis (25/4).

Larangan ini juga didukung oleh PM Ranil Wickremesinghe yang mengkhawatirkan para pelaku lainnya "mungkin akan keluar untuk serangan bunuh diri lainnya."

Pengamanan ketat di masjid-masjid di seluruh penjuru negeri masih terus dilakukan.

Mancanegara keluarkan larangan perjalanan

Menindaklanjuti tragedi pemboman di sejumlah gereja dan hotel pada Hari Paskah (21/4) lalu, sejumlah negara seperti Israel, Australia, Inggris dan Amerika Serikat melarang warganya bepergian ke Sri Lanka. Negeri ini dikenal di mancanegara akan wisatanya.

Kedutaan Amerika Serikat di Sri Lanka telah mengeluarkan larangan bagi warga negaranya untuk mengunjungi tempat-tempat ibadah dengan alasan kekhawatiran akan adanya potensi serangan lanjutan.

Sementara pemerintah Australia dalam laman resminya menuliskan "serangan tidak mengenal diskriminasi. Ini bisa terjadi di tempat-tempat yang dikunjungi orang asing."

PM Australia juga mengatakan bahwa pelaku serangan di Sri Lanka didukung oleh ISIS.

Sri Lanka - Massengrab nach Selbstmordanschlag (Reuters/A. Perawongmetha)

Kuburan masal korban serangan bom bunuh diri

Meski demikian Presiden Maithripala Sirisena menyatakan bahwa Sri Lanka "sepenuhnya mampu mengontrol gerakan ISIS" di negaranya.

Serangan bom bunuh diri di tiga gereja dan tiga hotel mewah di Hari Paskah lalu telah menewaskan setidaknya 253 orang.

ga/na (AFP, AP)

Laporan Pilihan