Solidaritas: Bagaimana Virus Corona Membuat Kita Lebih Bersedia Membantu Orang | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 04.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Solidaritas: Bagaimana Virus Corona Membuat Kita Lebih Bersedia Membantu Orang

Berbelanja dalam jumlah besar karena panik hanya satu contoh sikap egois yang muncul akibat adanya wabah. Tapi solidaritas, kesediaan menolong dan empati adalah efek krisis ini juga. Banyak alasan untuk melakukannya.

Tangan menggenggam tangan orang tua (picture-alliance/dpa/J. Kalaene)

Foto simbol tangan

Karena panik, banyak orang yang membeli bahan pangan kalengan dalam jumlah besar. Menghadapi banyaknya orang berebut belanjaan, warga lansia hampir tidak punya kesempatan. Apalagi warga lansia lebih sering diserukan untuk tinggal di rumah karena jika terinfeksi virus corona, risikonya sangat besar bisa berakhir fatal. 

Untungnya situasi menyedihkan seperti ini juga menyulut perasaan manusiawi untuk menjulurkan tangan dan membantu mereka yang membutuhkan. Grup Facebook bernama Corona Hilfe Bonn misalnya, terbentuk dari orang-orang yang saling menolong dan bersukarela membantu orang yang perlu bantuan. 

Jadi apakah krisis ini membedakan dua kelompok dalam masyarakat, antara egois dan altruis? Anne Böckler-Raettig yang meneliti sikap prososial di Universtias Würzbug mengungkap, sikap prososial punya banyak wajah, dan tiap orang punya cakupannya sendiri. Kita semua kadang sangat egois. Dan kadang, kita sangat adil, sangat kooperatif dan prososial.“ 

Kesediaan untuk membantu

Dalam grup seperti Corona Hilfe Bonn juga bisa dilihat,tiap anggota berkontribusi dengan cara berbeda. Motivasi di balik kesediaan membantu berbeda-beda. Alasan mengapa orang meluangan waktu, energi, informasi atau uang bagi orang lain bisa sangat beragam. 

“Empati dan rasa kasihan adalah motivasi penting bagi sikap prososial,“ kata Charlotte Grosse Wiesmann, ahli syaraf dan psikologi perkembangan, pada Max Planck Institut untuk Kognitif Manusia dan Ilmu Otak di Leipzig. “Sikap membantu adalah sikap fundamental,“ katanya. Anak kecil yang baru berusia satu tahun juga sudah menunjukkan kesediaan membantu yang spontan.  

Terlahir untuk membantu

Tapi sikap ini tidak berasal dari altruisme. Anak kecil dengan cepat bisa membaca tujuan seseorang melakukan sesuatu. Karena anak itu memberikan bantuan, tujuan bisa tercapai, dan hubungan sosial terbentuk. Grosse Wiesmann menambahkan, di usia dua tahun, anak kecil mulai memiliki kesediaan untuk menolong. “Mereka mulai mengenali emosi orang lain dan memberikan reaksi. Misalnya dengan berusaha menghibur orang lain yang sedang sedih,“ kata Grosse Wiesmann. Tapi itu juga tidak berkaitan dengan altruisme. 

Sebaliknya, harapan akan mendapat bantuan jika membutuhkannya, menjadi motivasi penting. Mereka yang memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan kemungkinan juga akan mendapat bantuan, jika membutuhkannya. Dengan demikian, sikap saling membantu menyulut efek domino, sehingga semakin banyak orang saling membantu. 

Apakah kesediaan saling membantu akan lenyap jika wabah corona berhasil dikendalikan nanti? Tidak ada yang tahu. Tapi peneliti Anne Böckler Raettig optimis. “Semakin sering kita menunjukkan sikap prososial, dan merasa senang karenanya - baik dalam masyarakat maupun dalam lingkup teman, atau lingkup pribadi – semakin sering juga kita akan mengulang sikap ini.” (ml/yp) 

Laporan Pilihan