100 Tahun Soeharto: Sisi Humanis Seorang Komandan Pasukan | KOLOM: Bersama berdialog untuk mencapai pemahaman | DW | 05.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

100 Tahun Soeharto: Sisi Humanis Seorang Komandan Pasukan

Kenangan publik terhadap figur Soeharto, secara umum lebih didominasi oleh gaya kepemimpinannya yang otoriter dan militeristik selama lebih dari tiga dekade (1966-1998). Opini Aris Santoso.

Foto ketika Suharto masih hidup.

100 tahun Soeharto.

Bagaimana sisi kemanusiaan Soeharto, acapkali terlewatkan. Demikian juga para pengamat, yang umumnya lebih tertarik membahas Soeharto dari segi politik.

Dalam mengenang seabad Soeharto (8 Juni 2021),  ada baiknya kita membahas aspek kemanusiaan Soeharto. Posisinya sebagai mantan komandan pasukan atau panglima perang,  ternyata tetap mewarnai bagaimana cara Soeharto berhubungan dengan kerabat dan koleganya. Benar, aspek kemanusiaan dimaksud di sini adalah soal bagaimana perilaku Soeharto sebagai ayah (bagi anak-anaknya), dan bagaimana pula sebagai sahabat.

Posisinya sebagai penguasa tertinggi di tanah air di masa lalu, tentu memberi pengaruh pada perilakunya, bahkan untuk urusan yang sangat personal sekalipun. Secara umum Soeharto adalah pribadi paradoksal. Dalam persahabatan misalnya, suatu saat dia bisa sangat memanjakan (para sahabatnya), namun pada lain kesempatan dia tega juga memperlakukan sahabatnya dengan cara yang tidak terduga.

Tradisi kejawen

Terhadap sahabatnya semacam Om Liem (Sadono Salim, pendiri imperium Salim Group) atau Bob Hasan, Soeharto sangat memanjakan. Mereka diberi kelonggaran bisnis yang luar biasa, hingga bisa masuk jajaran konglomerat. Om Liem adalah sahabat lama Soeharto sejak dirinya masih berdinas di Kodam Diponegoro pada era 1950-an. Sementara Bob Hasan adalah anak angkat Jenderal Gatot Soebroto, sesepuh rumpun Diponegoro. Figur Gatot Soebroto sangat dihormati oleh Soeharto, dan itu terlihat pada cara bagaimana Soeharto memanjakan Bob Hasan.

Adagium lama yang berbunyi "tidak ada kawan atau lawan abadi dalam politik”, bisa sedikit memberi gambaran  bagaimana Soeharto mengelola persahabatan demi ambisi menggapai kekuasaan. Soeharto memiliki cara yang unik dalam mengingkari persahabatan, yakni dengan sedikit memberi sentuhan nilai kejawen, sesuai dengan latar belakang spiritual Soeharto, yang dekat tradisi kebatinan.

Nilai dimaksud tercermin dalam ungkapan (Jawa) "tega larane, ra tega patine”. Kira-kira maknanya adalah: terhadap seorang teman, kita mungkin masih tega menyakitinya, namun ketika teman itu sedang menghadapi bencana (apalagi sampai mengancam nyawanya), kita akan merasa iba pula.

Sebagai penghayat kejawen (tradisi Jawa) yang kental, tentu Soeharto sangat paham atas narasi ini. Nilai inilah yang dipraktikkan Soeharto secara "selektif” terhadap dua orang sahabatnya: Letkol Untung dan Kolonel Latief. Bagian tega larane (tega menyakiti), Soeharto terapkan pada Letkol Untung. Sementara ra tega patine (masih ada rasa iba) diberlakukan pada Kolonel Latief. Itu sebabnya Untung kemudian dieksekusi (mati), sementara Kolonel Latief sedikit terselamatkan, berupa vonis seumur hidup.

Memang logis juga bila Untung kemudian dieksekusi, karena posisinya yang sangat signifikan dalam gerakan tahun 1965 itu, setidaknya dibanding peran Kolonel Latief. Bagaimana alasan yang lebih detail, mengapa Soeharto bertindak "diskriminatif” seperti itu, tetaplah sebuah misteri.

Demikian juga saat menjadi ayah, Soeharto begitu memanjakan anaknya, terutama terhadap Mas Tommy, yang kebetulan wajah dan posturnya paling mirip Soeharto. Apapun yang diminta Tommy selalu dipenuhi Soeharto, seperti monopoli bisnis cengkeh, jasa penerbangan, otomotif, tambang, properti dan seterusnya.

Bisa jadi ini bisa dihubungkan dengan masa kecil Soeharto, yang hidupnya harus 'ngenger' (menjadi anak angkat) pada kerabat, sehingga dirinya seolah kehilangan figur ayah. Ketika dirinya menjadi ayah, dia kemudian mencurahkan kasih sayang pada anak-anaknya, seolah anaknya tidak boleh disentuh sedikit pun oleh orang lain.

Karena persoalan anak ini pula, menjadi pangkal perseteruan antara Soeharto dan Benny Moerdani. Pada suatu kali, ketika masih menjadi Pangab atau Menhan, Benny sempat memberi masukan pada Soeharto terkait bisnis anak-anak Soeharto, yang dinilai Benny sudah berlebihan. Tampaknya Soeharto kurang berkenan, dan ini berdampak pada karir politik Benny, yang secara perlahan tersingkir dari lingkaran kekuasaan.

Pada fase ini, sekali lagi kita menemukan sebuah paradoks pada diri Soeharto. Dia begitu menyayangi anak-anaknya, namun kekuasaannya dimulai dengan menghilangkan ratusan ribu ayah melalui genosida di penghujung tahun 1965. Terkesan Soeharto tidak memiliki empati, kalau tindakan (genosida) seperti itu telah mengakibatkan sejumlah besar anak negeri ini harus kehilangan figur ayah, seperti yang dialami Soeharto saat masih kecil.

Demikian juga saat berkuasa, Soeharto dengan mudahnya memisahkan antara ayah dan anak, seperti kasus penyair Wiji Tukul dan sejumlah aktivis yang lain, yang jejaknya hilang entah ke mana. Tak terhitung sudah berapa ayah yang dipenjarakan, tanpa proses pengadilan, ada yang kemudian diasingkan ke Pulau Buru, atau penjara yang lain.

Strategi Pangeran Sambernyawa

Penampilan seseorang berkorelasi dengan citranya, demikian pula yang terjadi dengan Soeharto. Saat berkuasa dulu, dalam setiap acara resmi kenegaraan, Soeharto lebih sering memakai baju model safari, jarang sekali memakai setelan jas lengkap. Setelan safari pula yang dikenakan Soeharto saat menyatakan dirinya mundur pada 21 Mei 1998, yang bisa kita lihat kembali dalam foto dokumenter, sebuah foto yang ikonik. Mungkin dianggap identik dengan pejabat orde baru, pejabat pasca-reformasi sangat jarang mengenakan safari.

Berkat baju safari itu pula, Soeharto bermetamorfosis sebagai sebagai figur sipil sepenuhnya. Begitu sempurnanya pencitraan Soeharto sebagai figur sipil, ingatan publik atas sosok Soeharto sebagai komandan pasukan, seolah terlupakan. Sebagai komandan pasukan yang selalu berjaya di medan tempur, Soeharto bisa disejajarkan dengan perwira lain (segenerasinya), seperti Lucas Kustarjo, Slamet Rijadi, AE Kawilarang, Vence Sumual, Mung Parhadimulyo, Kemal Idris dan seterusnya. Di atas semua perwira yang dikategorikan jago perang tersebut (termasuk Soeharto), adalah nama Jenderal Ahmad Yani yang dianggap paling unggul.

Jejak Soeharto sebagai komandan pasukan masih terlihat saat dirinya berkuasa. Soeharto sering mengadopsi strategi militer untuk mencapai tujuan, tanpa harus mengeluarkan satu peluru pun. Setidaknya ada dua peristiwa penting, ketika secara jelas Soeharto mengadopsi strategi militer. Pertama, adalah soal bagaimana cara Soeharto mendapatkan Supersemar. Kedua, saat Soeharto memberikan gelar jendral besar kepada AH Nasution dan dirinya sendiri.

Dalam upayanya memperoleh Supersemar, Soeharto tampaknya terinspirasi oleh strategi perang Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I), yang diistilahkan sebagai dhedhemitan (siluman), yaitu serbuan senyap tanpa terlihat pihak lawan, bergerak seperti "siluman”. Dalam istilah teknis militer kiwari, strategi ini bisa ditafsirkan sebagai serangan dadakan, sehingga memberi efek kejut pada lawan. Sekadar mengingatkan, Soeharto sendiri dikenal sebagai sosok yang terafiliasi pada (tradisi) Pura Mangkunegaran (Solo).

Ketika memperoleh Supersemar, sosok Soeharto memang tidak tampak di mata Presiden Soekarno, karena Soeharto memang tidak ikut ke Bogor. Soeharto mengirim tiga jenderal (Amir Machmud, Basuki Rachmat dan M Jusuf), sementara Soeharto sendiri tetap di Jakarta. Tiga jenderal itulah yang ditugaskan untuk "mengepung” Soekarno, sesuai prinsip strategi "supit urang” (jepitan udang), yang dulu pernah diterapkan TNI dalam Palagan Ambarawa (Desember 1945), yakni strategi mengepung tentara Inggris (Sekutu) dari segala penjuru. Mirip yang dialami Bung Karno, tekanan dari tiga jenderal menjadikan Bung Karno seolah terkepung, hingga terbitlah naskah yang menjadi penanda berkuasanya Soeharto.

Pengiriman tiga jenderal itu sendiri bisa dibaca sebagai kamuflase, mengingat dua jenderal di antaranya, yakni Amir dan Basuki, sebelumnya dikenal sebagai perwira Soekarnois garis keras. Bung Karno sendiri seperti terkecoh, sama sekali tidak menyangka, bila dua jenderal yang dianggap sebagai pendukungnya tersebut, sebenarnya telah "balik kanan” menjadi pendukung Soeharto. Sebagaimana kita tahu, kamuflase adalah hal jamak dalam taktik serbuan pasukan.

Kemudian soal pemberian anugerah jenderal besar (bintang lima) pada AH Nasution. Mungkin ini semacam psywar. Di masa lalu memang sempat terjadi ketegangan antara Soeharto dengan Nasution, saat Soeharto masih menjabat Pangdam Diponegoro dan Nasution selaku KSAD. Nasution mempersoalkan bisnis sembako ilegal yang dilakukan Kodam Diponegoro.

Rupanya Soeharto masih menyimpan dendam, dan pembalasannya dilakukan dengan cara "menyanjungnya”. Ini juga gaya (tradisi) Jawa, yakni menyindir lawan dengan cara menyanjung, yang biasa disebut dilulu. Memang pada akhirnya momen pemberian gelar jenderal besar itu hanya menjadi parodi.

Bagi tokoh sekaliber Nasution, anugerah jenderal besar sebenarnya tidak bermakna apa-apa. Bila tidak diberikan pun, tidak mengurangi nama besar Nasution. Tampaknya Soeharto sengaja memberi gelar itu di usia senja Nasution, ketika secara psikis dan fisik Nasution sudah melemah, sehingga tak kuasa menolaknya. Tanpa disadari, Nasution telah masuk dalam proyek pencitraan Soeharto.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Luangkan menulis pendapat Anda atas opini di atas di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.

Laporan Pilihan